LOMBOKINI.com – Warga Dusun Poton Bako, Desa Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, menggelar aksi protes di Ekowisata Bale Mangrove pada Sabtu, 3 Januari 2026. Mereka menuntut penutupan lokasi wisata tersebut.
Massa menduga pihak tertentu menguasai ekowisata itu dan tidak mengakomodir kepentingan masyarakat setempat. Para demonstran juga meminta peninjauan kembali pengaturan pedagang serta mengalihkan pengelolaan kepada pihak desa.
Menanggapi aksi tersebut, Pengelola Ekowisata Bale Mangrove, Lukmanul Hakim, membantah keras tudingan monopoli dan ketidaktransparanan dari puluhan warga.
Ia menegaskan bahwa aksi penutupan pada Sabtu 3 Januari 2026 didalangi oleh oknum-oknum yang mendahulukan kepentingan tertentu.
Konflik ini mengusik ketenangan destinasi yang telah berubah total dari “muara sampah” menjadi primadona wisata. Padahal, kawasan seluas 1,9 hektar itu awalnya merupakan tempat pembuangan akhir yang jorok.
Lukman mengisahkan perjalanan panjang transformasi yang ia mulai bersama Kepala Dusun dan beberapa pemuda pada akhir 2020.
“Kami sadar potensi alam di sini. Ada hutan mangrove purba, tapi lingkungannya hancur. Ini harus diubah,” tegasnya.
Mereka membentuk kelompok konservasi kecil untuk membersihkan lokasi yang dahulu juga menjadi sarang pengeboman ikan dan penebangan liar. Jalan mereka terjal.
“Masyarakat kerap mencemooh, menganggap pekerjaan kami sia-sia,” kenang Lukman.
Tanpa modal besar, mereka memulai pembangunan dengan modal nekat. Mereka berhutang untuk membeli papan kayu guna membuat jembatan setapak sebagai pondasi awal Bale Mangrove.
Promosi intensif di media sosial akhirnya membuahkan hasil. Tempat ini viral sekitar 2022 dan kunjungan pun membludak.
Perjuangan mereka menarik perhatian PT PLN. Pada 2023, Pokdarwis Jerowaru menerima dana Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) sebesar Rp 231 juta. Dukungan ini mengubah Bale Mangrove menjadi ekowisata edukatif yang lengkap.
Dampaknya nyata. Data kunjungan melonjak dari 91.719 orang (September 2023-Juni 2024) menjadi 135.269 orang (Juli 2024-Juni 2025). Desa Wisata Jerowaru pun meraih sejumlah prestasi nasional.
Ekowisata ini juga menggerakkan ekonomi warga. Siti Mukmainah, pedagang kuliner di lokasi, merasakan manfaatnya.
“Dulu dapat uang harian susah. Sekarang, terutama akhir pekan, jualan cepat habis,” ujarnya.
Menanggapi tudingan, Lukman membantah praktik monopoli. Ia menyatakan telah menyetor retribusi Rp 750.000 per bulan ke kas desa.
“Semua yang kami lakukan bertujuan memberdayakan dan mengedukasi masyarakat. Tuduhan itu sangat tidak berdasar,” pungkasnya.
Kini, setelah sukses membangkitkan ekonomi, Bale Mangrove menghadapi ujian tata kelola. Insiden demonstrasi ini mengingatkan bahwa aset bersama memerlukan pengelolaan yang baik, bijak, dan inklusif dari seluruh pihak. ***
Penulis : Najamudin Anaji







