Since the future is hidden from us till it arrives we have to look to the past for light on it. Our experience in the past gives us the only light in the future that is Accessible to us. Experience is another name for history. When we speak history, we are usually thinking of the collective experience of the human race.
Arnold Toynnbee, “Chance and Habit: The Challage of Our Time, Light in The Past: It Value and Limits”, Oneworld Publications, 1992, 3.
“Di beranda ini angin tak kedengaran lagi,” judul sekaligus larik pembuka puisi Goenawan Mohamad. Di HIMMAH NWDI; angin sejarah, intelektualisme, manifesto pemikiran dan gerakan, selalu rentan, tidak pernah menentu, dan ‘angin’ itu hari ini, hampir tidak kedengaran lagi. Remah yang tersisa, remah yang kedengaran hanyalah euforia, glorifikasi, dan tahun-tahun yang sial.
Maksud saya, hampir 4 tahun masuk ke dalam beranda HIMMAH NWDI, hal-hal di atas tidak pernah utuh saya dengar. Sementara, tema-tema yang dibicarakan sungguh berada jauh di atas kapasitasnya. Di sini, saya melihat kesenjangan yang akut: antara ketidakutuhan kapasitas dan kehendak yang menggebu-gebu.
Keberadaan HIMMAH yang mampu bertahan sampai umur yang ke-60 tahun tentu patut diapresiasi. Namun, kemampuan bertahan saja tidak cukup, bukan menjadi titik krusial, dan tidak perlu dibangga-banggakan, apalagi hanya sebatas seremoni dan euforia semata. Kegagalan HIMMAH dalam konteks sosial dan politik lokal, misalnya, harus diakui sebagai hasil dari inkompetensi, bukan nasib. Inkompetensi tersebut dapat dibangun ulang dengan cara yang lebih wajar, namun serius.
Sebagai organisasi yang lahir dalam ruang lokalitas yang telah bertahan lebih dari setengah abad, seharusnya telah mampu menguasai berbagai peran di daerah. Tetapi, kenapa organisasi yang berlabel ‘nasional’ justru lebih banyak mengambil peran. Kenapa kita malah terhempas dan tinggal menggigil di tempat paling pinggir dari tempat kelahiran kita sendiri; Gumi Sasak Lombok? Di sinilah letak persoalannya.
Kemelut Sehari-Hari: Gundah Politik, Intelektualisme, dan Sejarah
Pada buku yang sama, “Chance and Habit: The Challage of Our Time, Light in The Past: It Value and Limits”, Arnold Toynbee mengungkapkan bahwa kesadaran terhadap sejarah kerap kali lahir ketika krisis melanda suatu kelompok masyarakat. Bertalian dengan ini, mungkin, kita masih berleha-leha, menganggap keberadaan kita baik-baik saja, berjalan mulus, tanpa krisis, terlalu percaya diri, tanpa ujud realistis dari ketakmapanan kita, sehingga membuat kesadaran kita terhadap sejarah mungkin juga terempas begitu saja.
Sebetulnya, saya telah menanti-nanti krisis tersebut terjadi lebih cepat. Adapun krisis rasa-rasanya telah tampak semakin lebih dekat dari sebelumnya. Misalnya, di bidang politik, masyarakat HIMMAH tidak lagi berdaya menjadikan dirinya sebagai subjek dalam aktivitas politik daerah. HIMMAH, di antara ruang bebas demokrasi dan posisi badan otonom NWDI, seolah-olah hanya didesain menjadi objek polarisasi politik, jika bukan pembebek kepentingan elit tertentu; tanpa sedikitpun diberikan kebebasan menentukan arah dan nasib politiknya sendiri; HIMMAH tidak pernah diposisikan sebagai pemain utama.
Di sini, HIMMAH gagal memanfaatkan ruang bebas yang disediakan demokrasi, yang memungkinkannya menjadi subjek yang bergumul secara aktif di dalamnya. Momentum politik 2024 menjadi puncak kegagalan HIMMAH dalam politik. Tahun-tahun sebelumnya, masyarakat HIMMAH mungkin masih bisa berpangku tangan kepada pemerintah daerah provinsi yang menjadi bagian dari elit eksternal HIMMAH. Namun, pasca perhelatan politik daerah pada 2024, HIMMAH kehilangan tempat berpangku, seperti bebek belia yang kehilangan induk.
Sementara itu, dalam konteks intelektualisme, masyarakat HIMMAH tidak lagi memiliki keseriusan yang cukup masif di dalamnya. Tampak, intelektualisme sudah tidak menjadi barang mewah. Berbeda saat saya pertama kali masuk HIMMAH pada 2022. Ketika itu, saya masih bisa merasakan posisi intelektualisme, cukup lekat di batin HIMMAH. Bertalian dengan itu, di sini saya melihat ada semacam pergeseran standar.
Minat sebagian masyarakat HIMMAH beralih ke praktek birokrasi, yang perlahan-lahan menggeser posisi mewah intelektualisme tadi. Akibatnya, diskusi kultural seperti dari kos ke kos, dari tongkrongan ke tongkrongan lain, sudah nadir ditemukan. Kalaupun ada hanyalah sebatas sampiran, mewah sampul, buruk isi.
Jika terus-terusan seperti ini, HIMMAH tidak akan mampu lagi merepresentasikan apa yang disebut oleh Toynbee sebagai creative minority, dan talamiz al ‘uqala dalam frasa lain HAMZANWADI. Ketergeseran standar intelektualisme tersebut membuat kita, sebagian masyarakat HIMMAH, terlihat seperti birokrat-birokrat kecil yang hanya memiliki kepandaian mendongeng, alih-alih menjadi masyarakat terdidik yang berlaku tulus, berendah hati dan tunduk pada intelektualisme. Dalam kondisi demikian, tak ayal jika dalam setengah dekade ini, HIMMAH tidak mampu melahirkan karya dalam bidang intelektualisme, kecuali hanya sejumput orang saja.
Adapun sejarah HIMMAH, hanya saja sejarahnya yang masih mengendap dalam alam pikir dan diperana-pinakkan melalui budaya lisan para pendahulu HIMMAH; adalah endapan yang belum terobjektifikasi dalam sebuah sejarah yang utuh. Proses penceritaan tentang sejarahnya masih terbatas pada budaya lisan, yang rentan dibelokkan, dan tidak jarang membawa pencerita maupun pendengarnya jatuh dalam romantisisme dan glorifikasi sejarah.
Saya beranggapan, setidaknya ada dua mentalitas yang menyebabkan sejarah HIMMAH tidak kunjung terselamatkan dari endapan tersebut. Pertama, apa yang disebut Muhammad Arkhoun dalam “Kitik Nalar Islam,” sebagai taqdis at tarikh atau sakralisasi sejarah. Sejarah organisasi adalah milik masyarakatnya. Akibat tidak adanya objektifikasi sejarah dalam bentuk literatur terbuka, akses terhadap pengalaman masa lalu menjadi sempit dan membuat sejarah berhenti sebagai refleksi kritis. Maka, tidak salah jika saya mengatakan bahwa masyarakat HIMMAH tidak memiliki refleksi khas atas sejarahnya sendiri
Siapa pun kader-kader HIMMAH akan gugup, demam dalam menjelaskan dinamika sejarah organisasinya sendiri, dan menyebutkan siapa pemimpin-pendahulu mereka. Penyempitan ini telah membawa kita pada kemungkinan buruk; tidak hanya pada situasi ketakmenentuan, juga pada ketidaktahuan yang terlembagakan secara halus. Sungguh miris, kita tidak pernah tahu isi rumah yang kita tinggali, sementara kita dipaksa menerima begitu saja bahwa HIMMAH adalah milik bersama. Berjuang! Berjuang! Berjuang!
Kedua, romantisisme sejarah dalam terma Kuntowijoyo. Bahwa “dulu pendahulu kita hebat,” “pendiri organisasi kita adalah ulama besar,” “kita sebagai penerus-pejuang,” adalah segelintir selogan saja yang dirancang sebagai takhayul sejarah yang sering digegap-gempitakan pada momen-momen tertentu dengan cara yang paling heroik, romantis, dan dramatis, padahal nirguna sama sekali.
Saya sendiri telah bosan melihat cara-cara sebagian masyarakat HIMMAH dalam memperlakukan sejarah organisasinya, seolah-olah sejarah tersebut hanya bisa didekati dengan cara demikian, padahal tidak. Akibatnya, sejarah organisasi dibuatnya kehilangan daya ungkap sebagai sebuah pengalaman masa lampau yang hidup. Akibatnya, sejarah organisasi dibuatnya kehilangan daya ungkap sebagai sebuah pengalaman masa lampau yang hidup.
Merujuk pada Kuntowijoyo, bahwa sejarah punya fungsi edukatif dan inspiratif yang masing-masing saling mengisi. Sebagai sebuah edukasi, sejarah memberi pengajaran masa lampau yang menghendaki interpretasi serta jawaban. Sejarah juga dapat dijadikan sebagai inspirasi, yang dengannya kita dapat melihat masa depan dengan lebih baik.
Nah, bagaimana dengan HIMMAH? Jika kita mau berendah hati, tahu diri dan jujur terhadap sejarah organisasi, kita akan segera sadar bahwa kita hanyalah sekelompok masyarakat yang memperlakukan sejarah hanya sekadar tempat bernostalgia, pelarian, escape dari kenyataan sebenarnya. Jika kita belum sadar dan berkepala batu, maka dugaan Kuntowijoyo tentang gejala kejiwaan yang tidak sehat (romantisisme kerdil) pada masyarakat seperti di atas, layak disematkan untuk kita.
Maka, apabila pemeliharaan mitos sejarah organisasi masih membuat kita nyaman, sebagaimana di atas, mendudukperkarakan masalah ini secara khidmat harus dilakukan sesegera mungkin, sebab aneh jika kita masih belum bosan menjadi pemelihara mitos di saat zaman telah tercerahkan seperti sekarang ini. Sebab, “romantisisme sejarah,” kata Kuntowijoyo “hanya akan melahirkan sikap mental yang pasif. Orang merasa sudah besar hanya karena nenek moyangnya besar, padahal ia sendiri tidak melakukan apa-apa untuk zamannya.” Dan sikap mental seperti ini, perlahan-lahan menjalar, dan dapat dirasakan resonansinya hari ini.
Lari dari Ketakmenentuan?
Apakah kita perlu lari dari ketakmentuan itu? Menurut saya, kita tidak perlu lari dari kondisi ketakmenentuan di atas, apalagi menyesalinya. Kita hanya perlu meramunya agar ia (ketakmenentuan itu), menjadi sesuatu: menjadi kemungkinan-kemungkinan lain, tetapi dengan syarat berendah hati, dan berhenti bercanda-canda dengan sejarah. Inilah yang disebut oleh Ali Syariati dalam bukunya, “Tugas Cendikiawan Muslim” sebagai proses menjadi.
Berbicara HIMMAH, maka proses menjadi akan ditarik ke dalam prolematika yang dihadapi oleh HIMMAH sendiri, baik politik, intelektualisme dan sejarahnya, bukan di luar dirinya. Dalam konteks politik, tanpa bermaksud mengajari, sebab saya masih belia dan sebetulnya juga enggan. Maka, saya hanya ingin menanggapi dan berterus-terang mengenai beberapa hal saja
Pertama, secara kuantitas kita memang lebih unggul dari organisasi kemahasiswaan yang lain. Tetapi, merasa unggul dalam kuantitas saja tidak cukup. Dan mempergunakan kuantitas untuk bersaing di perhelatan politik juga tidak membuat kita terlihat berwibawa.
Kegagalan dan kekalahan kita dalam berbagai momentum politik menunjukkan bahwa kita inkompeten. Sebab jika memang benar kita kompeten, kenapa kita sepi-senyap dalam arena politik? Kenapa kita kerap kali pulang dengan tangan kosong? Bagi saya, kita hanya perlu melakukan tinjauan ulang atas diri kita sendiri, lalu belajar menjadikan intelektualisme sebagai bumbu penyedap bagi aktifitas-aktifitas politik kita. Barulah kita menjadi kompeten, barulah kita bisa membawa serta sesuatu, dan punya daya tarik serta daya jual di pasar politik kedaerahan.
Maka, sebagai jalan keluar atas kegundahan di atas, saya mengira bahwa HIMMAH perlu menyediakan ruang khusus bagi kader-kader yang punya minat terhadap politik; Sekolah Politik, misalnya. Ketersediaan sekolah politik secara berjenjang dari tingkat komisariat, cabang, hingga pusat perlu dipertimbangkan secara serius. Namun, jika kita rela melihat sebagian kader atau masyarakat HIMMAH menjadi calon-calon politisi “rabun ayam” (istilah Buya Syafii) yang dibiarkan berkeliaran di mana-mana, maka Sekolah Politik ini ditiadakan saja. Biarlah aktifitas politik kita (meminjam istilah Buya Syafii), seperti “Aktivisme tanpa kontemplasi yang mendalam akan bermuara pada kesiasiaan; ibarat sumur tanpa dasar.”.”
Kedua, kita perlu menentukan nasib politik kita sendiri. Kita harus segera sadar bahwa selama ini kita hanyalah segerombolan ikan-ikan teri yang berkali-kali diterkam oleh paus-paus politik. Elit-elit tertentu memanfaatkan inkompetensi kita sebagai alat yang murah dan mudah diarah-arahkan sesuai dengan kepentingannya. Sebab jika kita kompeten, elit-elit tersebut dengan sendirinya akan berhenti memperlakukan kita dengan jumawa. Paling tidak, mereka akan memberikan kita sedikit ruang di mana kita bisa turut serta sebagai subjek aktif dalam arena politik.
Jika demikian adanya, dapat dipastikan akan ada pula hitung-hitungan politik; kita akan mendapatkan Apa dan Bagaimana. Pertanyaannya: Selama ini, kita mendapatkan apa? Lagi-lagi, hal ini disebabkan bukan karena kita tidak punya bakat menjilat, tetapi karena kita tidak punya kompetensi dan paradigma sendiri mengenai politik.
Gemuruh juga datang dari arah lain, membawa nasib sial intelektualisme kita. Sebagai sebuah apresiasi, memang kita harus akui bahwa HIMMAH menjadi medium yang memperkenalkan masyarakatnya tentang buku-buku, membaca, dan berdiskusi. Namun, kekosongan metode membuat perkenalan tersebut tampaknya agak sia-sia. Minat terhadap buku, kemampuan membaca, dan berdiskusi tidak mampu kita dayagunakan ke dalam bentuk yang nyata, metodis dan berkesinambungan.
Bahkan hari ini, yang terjadi bukan hanya kekosongan metode saja, tetapi juga terjadi semacam pengikisan minat membaca dan berdiskusi. Fenomena ini dapat diidentifikasi dari absennya HIMMAH dalam kerja-kerja intelektual dan gerakan akar rumput. Kemampuan merespon fenomena di luar diri kita masih belum sepenuhnya matang, di sini, kita menjadi masyarakat yang sibuk dengan dirinya sendiri. Kekalutan intelektual ini terjadi, selain pergeseran standar seperti ulasan di atas, menurut saya, juga disebabkan oleh tidak adanya manifesto pemikiran dan gerakan HIMMAH NWDI yang pekem. (masalah ini saya ulas di esai lain).
Terakhir, bagaimana dengan nasib sejarah kita? Sejarah organisasi HIMMAH harus segera diselamatkan. Saya berpendapat bahwa kita perlu membentuk lembaga riset kesejarahan yang mandiri dan ilmiah. Lembaga ini dirancang untuk mengintrogasi sejarah kita yang masih dilesatarikan secara lisan. Keberadaan lembaga riset sejarah ini tidak diperuntukkan untuk menolak sejarah lisan, tetapi untuk mendisiplinkannya dengan ketat dan objektif. Melalui usaha ini, tradisi lisan akan melalui proses menjadi; menjadi kemungkinan yang lebih segar dan bermetamorfosa dalam bentuk yang lebih modern.
Inilah tugas struktural kita, terutama Pimpinan Pusat HIMMAH NWDI dan juga para alumni. Saya berharap Kongres Alumni beberapa hari yang lalu, tidak hanya membawa motif politis, apalagi hanya berbahagia ria dalam seremoni semata, sementara persoalan kita masih pelik begini.
Dan kalaupun setelah usaha ini dilakukan dan ditakar menggunakan metode kesejarahan tertentu, lalu kita mendapati pengalaman masa lalu tersebut sempit atau biasa-biasa saja, kita harus siap menerimanya dengan lapang dada. Penerimaan tersebut bukan serta merta menunjukkan kita kerdil. Kita tidak perlu khawatir. Setidaknya, kita lebih mampu berlaku jujur terhadap sejarah kita sendiri. Sebab, dari sejarahlah tanggung jawab yang lebih besar dapat digali, dan darinya kita dapat menoleh ke masa depan yang lebih berwibawa.
Untuk menyakinkan diri kita tentang pentingnya usaha di atas, mari kita perhatikan kalimat ini: “Karena masa depan,” kata Toynbee, “tersembunyi dari diri kita sampai ia tiba, kita harus meneroka ke masa lalu untuk mendapatkan titik terang tentangnya. Pengalaman kita di masa lalu memberikan satu-satunya sinar di masa depan yang dapat kita akses. Pengalaman adalah nama lain dari sejarah. Ketika kita bercakap-cakap tentang sejarah, biasanya kita memikirkan tentang pengalaman kolektif dari umat manusia.”
Selamat ber-HARJA HIMMAH NWDI ke-60.
Penulis : Khaerul Majdi







