LOMBOKINI.com – Cuaca ekstrem merusak tanaman cabai dan memicu ancaman gagal panen serta lonjakan harga. Namun, para petani kini beralih ke solusi jangka panjang dengan membudidayakan cabai menggunakan teknologi greenhouse.
Sistem ini terbukti efektif menjaga stabilitas produksi dan melindungi tanaman dari cuaca buruk.
Seorang petani sekaligus pebisnis cabai di Desa Kerongkong, Kecamatan Suralaga, Lombok Timur, Haji Subhan membuktikan keberhasilan sistem greenhouse.
Ia menginvestasikan Rp 500 juta untuk membangun greenhouse seluas 20 are dan melengkapinya dengan sistem pengairan sprinkler.
“Greenhouse membuat produksi lebih stabil, cabai tahan hujan, dan kita bisa panen sepanjang tahun,” ujar Haji Subhan, pada Lombokini.com di kediamannya, Sabtu 14 Juni 2025.

Hasilnya, greenhouse membuat tanaman cabai lebih tahan penyakit, memiliki usia produksi hingga satu tahun, dan intensitas panen lebih tinggi dibanding lahan terbuka.
“Kami bisa mengembalikan modal dalam satu musim tanam,” tambahnya.
Serangan virus dan cuaca buruk sebelumnya sempat menurunkan produksi cabai hingga 50%, memicu lonjakan harga.
“Greenhouse bukan lagi pilihan, tapi keharusan agar petani bisa bertahan,” tegas Subhan.

Dinas Pertanian Lombok Timur mendorong petani beralih ke teknologi ini. Plt. Kadis Pertanian, Lalu Fathul Kasturi, mengungkapkan bahwa pihaknya telah membantu 15 kelompok tani dengan greenhouse seluas 5 are per titik.

Namun, kebutuhan masih jauh lebih besar mengingat luas tanam cabai di Lombok Timur mencapai 421,5 hektare dengan produktivitas rata-rata 4 ton per hektare.
Dengan produksi yang stabil, Lombok Timur berpeluang meningkatkan ekspor dan mendukung ketahanan pangan nasional.
“Inovasi ini diharapkan menjadi solusi berkelanjutan bagi petani cabai di tengah tantangan cuaca ekstrem,” harap Lalu Kasturi. ***
Penulis : Najamudin Anaji







