Sastra Menjadi ‘Suaka’ di Tengah Absurditas Era Digitalisasi

Jumat, 12 Juni 2026 - 15:00 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fenomena ini diperparah oleh dominasi masyarakat platform digital yang dikontrol oleh kepentingan profit industri, sehingga mengikis naluri organik dan kedaulatan berpikir manusia demi mengejar kecepatan serta validasi semu.

Fenomena ini diperparah oleh dominasi masyarakat platform digital yang dikontrol oleh kepentingan profit industri, sehingga mengikis naluri organik dan kedaulatan berpikir manusia demi mengejar kecepatan serta validasi semu.

LOMBOKINI.com — Dalam lanskap kebudayaan kontemporer, kehadiran teknologi digital sering kali diagungkan sebagai juru selamat yang mempermudah segala lini kehidupan manusia.

Namun, ada hal yang tidak kita sadari: di balik narasi kenyamanan tersebut, tersimpan sebuah ironi besar: manusia modern sedang digiring pada situasi di mana mereka kehilangan kontrol atas dirinya sendiri, terasing dari realitas, dan mengalami pendangkalan cara berpikir.

Premis ini tersalurkan dalam Diskusi Publik: Sastra dan Masyarakat Platform yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (HMPS PBSI) Universitas Hamzanwadi berkolaborasi dengan Komunitas Kelas Menulis Reading Buya Syafii Ma’arif.

Acara yang mempertemukan para mahasiswa dengan akademis (Dr. Padlurahman) dan dua tokoh sastrawan (Riki Dhamparan Putra dan Kiki Sulistyo) yang sebagai narasumbernya ini digelar pada Kamis (11/6/26), bertempat di Kampus Teknik Universitas Hamzanwadi.

Hadir sebagai salah satu narasumber utama, sastrawan nasional kelahiran Ampenan, Lombok, Kiki Sulistyo memaparkan dengan tajam dan reflektif, ia membedah bagaimana penetrasi teknologi digital—yang dikendalikan oleh kepentingan profit industri—telah mereduksi ke-auntentik-an manusia sekaligus mendegradasi nilai-nilai kesusastraan menjadi sekadar komoditas instan dan fana.

Kiki Sulistyo mengawali bahasannya dengan menyoroti paradoks kepopuleran sastra di Indonesia. Menurutnya, meski produk sastra seperti puisi, cerpen, dan novel sangat mudah ditemui dan dikenal luas oleh publik, kepopuleran tersebut tidak berbanding lurus dengan kedalaman pengetahuan masyarakat terhadap sastra itu sendiri.

“Secara umum, sastra di Indonesia memang populer. Namun, masyarakat hanya tahu produk sastranya saja, bukan esensinya. Banyak orang tahu puisi atau cerpen, tetapi tidak banyak yang benar-benar paham sastra, termasuk bagaimana sejarah dan perkembangannya dari masa ke masa,” ujar Kiki di hadapan para peserta.

Ia menyayangkan bahwa bahkan di lingkungan akademis seperti mahasiswa bahasa dan sastra, pemahaman terhadap akar sejarah sastra dan elemen-elemen intelektualitas di balik sifat fiksinya sastra sangat minim mengetahuinya.

Sastra sekadar dinikmati sebagai objek konsumsi imajinasi yang bersifat visual dan tekstual belaka, tanpa ada upaya kritis untuk memahami proses kreatif dan konteks historis di baliknya.

Memasuki pembahasan mengenai masyarakat platform, Kiki melontarkan kritik keras terhadap jargon-jargon digitalisasi yang mengeklaim diri mempermudah hidup.

Secara etimologis, istilah platform (dari kata plat atau cetakan, dan form atau bentuk) sebenarnya sudah ada jauh sebelum era internet. Hanya saja hari ini istilah tersebut dikenal dan dipakai untuk menunjukkan identitas masyarakat platform.

Kiki menggambarkan sebuah satir tajam untuk memperjelas fenomena ini: “Teknologi mempermudah hidup Anda (dalam kurung: teknologi mempermudah kami mengontrol hidup Anda).” Di balik kenyamanan yang ditawarkan, ada bagian dari kemampuan alami manusia yang perlahan-lahan diamputasi.

Baca Juga :  Mulai 2027, Bahasa Inggris Menjadi Mata Pelajaran Wajib Bagi Siswa SD

Sebagai contoh konkret, ia membandingkan pola interaksi sosial sebelum dan sesudah masifnya penggunaan telepon genggam. Dahulu, manusia mengandalkan naluri dan kesadaran kognitif yang kuat untuk membaca pola kebiasaan sesamanya—seperti mengetahui keberadaan seorang teman tanpa perlu media komunikasi. Hari ini, naluri membaca pola itu mati karena digantikan oleh kewajiban mengirim pesan singkat.

“Setiap kali ada suatu keadaan di mana kita dibuat seperti lebih mudah melakukan sesuatu, itu artinya ada sesuatu yang dihilangkan dari diri kita. Naluri itu hilang karena tidak lagi dipakai,” tegasnya.

Anomali ini semakin parah ketika manusia modern mengonsumsi terlalu banyak jalur komunikasi—mulai dari SMS, telepon, panggilan video, WhatsApp, hingga berbagai grup percakapan digital.

Ironisnya, ketergantungan ini tetap terjadi di antara individu yang setiap hari bertemu secara langsung, bahkan di dalam satu rumah tangga. Akibatnya, manusia kehilangan eksistensi dirinya secara organik.

Manusia tidak lagi dikenal sebagai subjek utuh, melainkan terdistorsi menjadi sekadar nomor kontak, akun media sosial, atau kanal digital.

Dampak psikologis dari pergeseran ini adalah lahirnya generasi yang candu akan pengakuan. Interaksi sosial yang hangat dan bermakna kini telah direduksi menjadi angka-angka statistik berupa tombol like, kolom komentar, dan fitur share.

Media sosial telah merebut takhta realitas objektif; masyarakat menganggap sesuatu belum benar-benar terjadi di dunia nyata jika belum didokumentasikan atau diunggah ke platform digital.

Kiki menerangkan bahwa seluruh ekosistem media sosial dirancang dengan satu prinsip utama: membangun adiksi demi meraup profit ekonomi bagi para pemilik modal.

“Persoalan terbesar adalah bukan kita yang mengontrol teknologi, melainkan pemilik media yang mengontrol kita. Kita berada pada posisi yang sangat lemah dan rentan ketika menggantungkan hidup pada sesuatu yang sama sekali tidak bisa kita kendalikan,” kata Kiki.

Situasi keterpaksaan sistemik ini dicontohkannya lewat pengalaman pribadi saat pertama kali terpaksa membeli ponsel Android hanya karena tuntutan lingkungan yang mewajibkan penggunaan aplikasi pesan instan dan transportasi daring.

Menurut Kiki, kebutuhan-kebutuhan ini tidak lahir secara alami dari dalam diri manusia, melainkan dipaksakan oleh para pelaku industri digital.

“Dengan situasi seperti ini, sebetulnya masyarakat digital adalah masyarakat pengungsi,” tandasnya.

Baca Juga :  Kepala SMAN 1 Keruak Ajak Amalkan Pancasila dalam Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila

 

Sastra Era Digital

Bagaimana nasib sastra di tengah kepungan masyarakat platform ini? Kiki memaparkan bahwa ketika platform digital dianggap sekadar sebagai ruang baru untuk memublikasikan produk sastra, terjadi pergeseran bentuk yang signifikan, mirip dengan era kebangkitan koran pada tahun 1960-an.

Jika pada periode 1920-1950 tulisan sastra di buku dan majalah cenderung panjang dan tebal, kehadiran media koran di era setelahnya memaksa cerpen menjadi lebih pendek demi menyesuaikan ruang cetak.

Pola ini rupanya masih membekas kuat di era digital. Meskipun ruang di situs web secara sistematik tidak terbatas, para pemilik platform tetap membatasi panjang bacaan—terbukti dengan adanya indikator ‘waktu baca 5 menit’—karena mempertimbangkan daya konsentrasi masyarakat digital.

Kemudahan mengunggah tulisan di media sosial juga melahirkan fenomena instanisasi penyair. Siapa saja kini bisa mengeklaim diri sebagai sastrawan hanya dengan mengunggah beberapa baris kalimat yang menyerupai puisi.

Dampak fatalnya, sastra menjadi bebas nilai—sebuah kondisi di mana tidak ada lagi parameter kualitas karena semua orang dianggap setara dalam memproduksi teks, termasuk dengan memanfaatkan kecerdasan buatan seperti ChatGPT.

Semua-orang-bisa itu adalah ciri masyarakat digital. Kita tidak tahu sebuah topik, lalu diam-diam menyalin dari ChatGPT dan berbicara seolah-olah itu adalah pikiran kita sendiri. Ketika sastra terjebak dalam arus serbacepat ini, ia kehilangan sifat dasarnya,” papar peraih Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2017 itu.

 

Sastra adalah Suaka

Bagi Kiki Sulistyo, sastra pada hakikatnya adalah cara berpikir dan hasil atau produk sastra adalah artikulasi cara berpikir.

“Cara berpikir sastra itu adalah tidak melihat apa yang terlihat, melainkan melihat apa yang ada di belakang yang terlihat. Sifat berpikir seperti ini sangat bertentangan dengan tabiat masyarakat platform yang menuntut segala hal bergerak serbacepat dan fana,” lanjutnya.

Di sinilah sastra menemukan relevansi tertingginya di era kecerdasan buatan dan modernitas instan. Mengutip istilah dari Riki Dhamparan Putra, Kiki menegaskan bahwa sastra harus diposisikan sebagai “Suaka”—sebuah tempat karantina bagi manusia-manusia digital yang menyadari telah dikontrol oleh algoritma dan kapitalisme platform.

Sastra sebagai suaka menawarkan ruang sunyi bagi manusia untuk memperlambat tempo kehidupan, memulihkan kembali naluri yang hilang, mengasah ketajaman berpikir kritis, dan mengembalikan ke-auntentik-an diri yang sempat dihisap oleh layar gawai.

Lewat sastra, manusia diajak untuk berhenti menjadi sekadar angka dan kembali menjadi manusia yang utuh.

Penulis : Paozan Azima

Berita Terkait

Gigaduka: Penderitaan Modern dari Akal Imitasi (AI)
Menjaga Kewarasan di Era Digital: Haul ke-4 Buya Syafii Maarif di Selong Kupas Tuntas Eksistensi Manusia dan AI
Kepala SMAN 1 Keruak Ajak Amalkan Pancasila dalam Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila
Pusat Keluarkan Bantuan Revitalisasi Sekolah untuk Lombok Timur Usulan DPR dan DPD, Kadis Dikbud Lotim Ungkapkan Hal Ini
Kemendikdasmen Tegaskan Guru Non-ASN Tetap Boleh Mengajar di Sekolah Negeri
Penguatan TC Berjenjang Dongkrak Kemampuan Kafilah MTQ Lotim, Pelatih Antisipasi Jeda Lomba
Pemprov NTB Reformasi Pendidikan, Sinkronkan Data hingga Program Magang Jepang
20 Persen Dana BOSP 2026 Boleh untuk Gaji Honorer, Lombok Timur Segera Terapkan

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 22:55 WITA

Bangun Reputasi Lewat Integritas, Bung Heru Besarkan Seniman Hukum Law Firm di NTB

Sabtu, 6 Juni 2026 - 20:47 WITA

Progres Kasus Santri Dibakar di Batukliang, Humas Polres Loteng: Penyidik Masih Kumpulkan Bukti

Sabtu, 6 Juni 2026 - 06:28 WITA

ICJR Kritik KUHAP Baru di Forum ADVOKAI: Kewenangan Advokat Masih Sebatas Teks

Kamis, 4 Juni 2026 - 11:38 WITA

Gerebek Rumah Pengedar di Keruak, Satresnarkoba Polres Lotim Amankan Dua Pria dan Paket Sabu

Rabu, 3 Juni 2026 - 19:39 WITA

Kejagung Tahan Dadan, Sony, dan Lodewyk Pusung sebagai Tersangka Korupsi Program MBG

Minggu, 31 Mei 2026 - 07:52 WITA

Tak Sampai 24 Jam, Dua Begal HP di Rensing Bat Diringkus Satreskrim Polres Lombok Timur

Minggu, 31 Mei 2026 - 06:04 WITA

Resahkan Warga, Polres Lombok Timur Buru Pembuat Hoaks Teror ‘Pocong Berparang’ di Korleko-Selong

Jumat, 29 Mei 2026 - 19:05 WITA

Polisi Naikkan Status Kasus Dugaan Penipuan Proyek Dapur MBG di Lombok Timur ke Penyidikan

Berita Terbaru

Stok Pertalite Tersedia, Pertamina Siaga Penuhi Kebutuhan di Seluruh Wilayah. (Foto: Tamrin/Lombokini.com).

Nasional

Pertamina Pastikan Stok Pertalite Cukup dan Distribusi Normal

Jumat, 12 Jun 2026 - 22:25 WITA

Sayangnya, lompatan teknologi dalam 200 tahun terakhir telah membalikkan hierarki tersebut. Alat yang awalnya diciptakan untuk membantu manusia, kini berbalik mengendalikan sang penciptanya sendiri.

Pendidikan

Gigaduka: Penderitaan Modern dari Akal Imitasi (AI)

Jumat, 12 Jun 2026 - 22:06 WITA

Fenomena ini diperparah oleh dominasi masyarakat platform digital yang dikontrol oleh kepentingan profit industri, sehingga mengikis naluri organik dan kedaulatan berpikir manusia demi mengejar kecepatan serta validasi semu.

Pendidikan

Sastra Menjadi ‘Suaka’ di Tengah Absurditas Era Digitalisasi

Jumat, 12 Jun 2026 - 15:00 WITA

Para demonstran menggelar aksi di Gedung DPR/MPR pada masa krisis moneter 1997/1998. (Foto: Lombokini.com/Wrong Area).

Ekonomi

Krismon 1997-1998 Bakal Terulang Kembali? 

Jumat, 12 Jun 2026 - 10:12 WITA