Cuaca Tak Menentu dan Harga Fluktuatif, Petani Vanili Lenek Duren Tetap Bertahan

Kamis, 7 Mei 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Cuaca Tak Menentu dan Harga Fluktuatif, Petani Vanili Lenek Duren Tetap Bertahan. (Foto: Lombokini.com/Nanang).

Cuaca Tak Menentu dan Harga Fluktuatif, Petani Vanili Lenek Duren Tetap Bertahan. (Foto: Lombokini.com/Nanang).

LOMBOKINI.com – Ketidakpastian cuaca dan naik turunnya harga komoditas tidak menyurutkan langkah petani vanili di Dusun Duren, Desa Lenek Duren, Kecamatan Lenek, Kabupaten Lombok Timur. Mereka tetap bertahan mengembangkan budidaya tanaman bernilai ekonomi tinggi ini.

Salah satunya, Kenny, bersama suaminya telah menekuni budidaya vanili selama empat tahun terakhir.

Kenny menilai kondisi tanah gambut di wilayahnya sangat mendukung pertumbuhan vanili.

‘Potensinya bagus karena tanah di sini termasuk tanah gambut, cocok untuk vanili. Kualitasnya sebenarnya tergantung penanganan dan perawatannya,” ujar Kenny saat menemui wartawan di kebunnya, Rabu 6 Mei 2026.

Saat ini, Kenny mengelola lahan seluas sekitar 50 are dengan jumlah tanaman kurang lebih seribu batang. Sebagian di antaranya masih baru ia tanam.

Sebelumnya, ia menanami lahan tersebut dengan alpukat, pisang, dan kelapa. Ia menilai ketiga komoditas itu kurang produktif.

Namun, tantangan terbesar bukan pada teknik budidaya, melainkan kondisi cuaca yang tidak menentu.

Menurut Kenny, hujan deras justru menjadi ancaman serius bagi tanaman vanili.

“Yang kami waspadai itu musim hujan. Kalau hujan terlalu deras saat masa polinasi, bisa gagal. Selain itu, penyakit yang sering muncul itu busuk batang. Kalau sudah kena, harus kami singkirkan karena tidak bisa diselamatkan,” jelasnya.

Baca Juga :  Tambang Menggali, Pangan Mulai Berkurang

Dalam merawat vanili, Kenny tidak menggunakan pupuk kimia khusus. Ia memanfaatkan pupuk kandang dari kotoran sapi. Ia memperoleh pengetahuan budidaya secara otodidak melalui video di YouTube.

“Kami belajar sendiri. Bahkan rumput di bawah tanaman tidak boleh dicabut karena bisa merusak akar dan menyebabkan busuk batang,” katanya.

Petani memanen vanili setahun sekali, yaitu sekitar delapan bulan pasca polinasi.

Pada panen tahun lalu, dari tiga lokasi lahan, Kenny mampu menghasilkan hampir dua kuintal vanili basah.

Namun tahun ini, ia memperkirakan hasil panen menurun akibat curah hujan tinggi yang terjadi terus-menerus.

Dari sisi harga, Kenny menilai kondisi pasar saat ini mulai membaik dibanding tahun sebelumnya.

Harga penawaran vanili basah mencapai sekitar Rp100 ribu per kilogram. Sementara itu, vanili kering dapat menembus harga hingga Rp1 juta per kilogram.

“Tahun lalu harganya anjlok sekali. Vanili basah cuma Rp35 ribu, kering paling tinggi Rp350 ribu. Sekarang sudah lumayan naik,” ungkapnya.

Baca Juga :  Lombok Timur Peringkat Pertama Penerima Program LSDP Bantuan Bank Dunia

Selama ini, Kenny menggantungkan pemasaran hasil panen pada pengepul lokal. Sesekali, wisatawan mancanegara yang berkunjung membeli dalam jumlah kecil sebagai oleh-oleh karena keterbatasan regulasi ekspor.

Kebun vanili milik Kenny juga kerap ia jadikan lokasi edukasi atau agrowisata sederhana bagi pengunjung yang ingin belajar budidaya vanili.

Meski demikian, Kenny berharap pemerintah memberi perhatian dan pendampingan, terutama dalam membentuk kelompok tani vanili dan memberikan dukungan pemasaran.

“Kalau ada dukungan dari pemerintah, mungkin lewat kelompok tani, kami bisa lebih semangat. Apalagi ini sangat membantu ekonomi keluarga,” katanya.

Di Desa Lenek Duren sendiri, tercatat sekitar 14 hingga 15 petani yang pernah mengembangkan vanili. Namun, ketika harga anjlok tahun lalu, banyak petani merusak tanamannya karena merasa tidak lagi menguntungkan.

Kini, hanya sebagian kecil yang masih bertahan.

Menurut Kenny, dukungan pendampingan teknis dan stabilitas harga sangat dibutuhkan agar budidaya vanili dapat kembali diminati warga dan menjadi komoditas unggulan di wilayah tersebut. ***

Penulis : Najamudin Anaji

Follow WhatsApp Channel lombokini.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wabup Lombok Timur Ingatkan Warga Tak Salahkan Kadus hingga Bupati soal Bansos
Pemkab Lombok Timur Daftarkan 4.000 Marbot dan Guru Ngaji sebagai Peserta BPJS Ketenagakerjaan
DPRD Lotim Sesalkan Pemkab: Pungut Retribusi, Lalai Rawat Pasar
Pemkab Lotim Alokasikan Tambahan APBD 2026 untuk Infrastruktur dan Kesehatan
BAZNAS Lotim Tinjau Langsung Calon Penerima MAHYANI di Gili Beleq
Bapenda Lotim Kejar PAD Rp 600 M, Target 100 Persen Akhir Tahun
Pemerintah Saling Tuding Soal Carut-Marut Data Desil, Masyarakat Harus ke Mana?
Pemkab Lombok Timur Petakan Kebutuhan ASN, Ribuan Tenaga Honorer Masuk Usulan

Berita Terkait

Jumat, 11 September 2026 - 22:05 WITA

Wabup Lombok Timur Ingatkan Warga Tak Salahkan Kadus hingga Bupati soal Bansos

Kamis, 10 September 2026 - 14:48 WITA

Pemkab Lombok Timur Daftarkan 4.000 Marbot dan Guru Ngaji sebagai Peserta BPJS Ketenagakerjaan

Rabu, 9 September 2026 - 18:38 WITA

DPRD Lotim Sesalkan Pemkab: Pungut Retribusi, Lalai Rawat Pasar

Rabu, 9 September 2026 - 14:14 WITA

Pemkab Lotim Alokasikan Tambahan APBD 2026 untuk Infrastruktur dan Kesehatan

Rabu, 9 September 2026 - 13:44 WITA

BAZNAS Lotim Tinjau Langsung Calon Penerima MAHYANI di Gili Beleq

Berita Terbaru

Anggota DPRD Lombok Timur YS Diduga Pamer Miras di Media Sosial, Perindo Beri Teguran Keras. (Foto: Lombokini.com/Tangkapan Layar)

Gaya Hidup

Perindo Tegur Keras Anggota DPRD Lotim YS Usai Story Botol Miras

Kamis, 10 Sep 2026 - 13:31 WITA

Anggota DPRD Lombok Timur dari PAN, Ir. Baidullah. (Foto: Lombokini.com)

Lombok Timur

DPRD Lotim Sesalkan Pemkab: Pungut Retribusi, Lalai Rawat Pasar

Rabu, 9 Sep 2026 - 18:38 WITA