Cuaca Tak Menentu dan Harga Fluktuatif, Petani Vanili Lenek Duren Tetap Bertahan

Kamis, 7 Mei 2026 - 12:33 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Cuaca Tak Menentu dan Harga Fluktuatif, Petani Vanili Lenek Duren Tetap Bertahan. (Foto: Lombokini.com/Nanang).

Cuaca Tak Menentu dan Harga Fluktuatif, Petani Vanili Lenek Duren Tetap Bertahan. (Foto: Lombokini.com/Nanang).

LOMBOKINI.com – Ketidakpastian cuaca dan naik turunnya harga komoditas tidak menyurutkan langkah petani vanili di Dusun Duren, Desa Lenek Duren, Kecamatan Lenek, Kabupaten Lombok Timur. Mereka tetap bertahan mengembangkan budidaya tanaman bernilai ekonomi tinggi ini.

Salah satunya, Kenny, bersama suaminya telah menekuni budidaya vanili selama empat tahun terakhir.

Kenny menilai kondisi tanah gambut di wilayahnya sangat mendukung pertumbuhan vanili.

‘Potensinya bagus karena tanah di sini termasuk tanah gambut, cocok untuk vanili. Kualitasnya sebenarnya tergantung penanganan dan perawatannya,” ujar Kenny saat menemui wartawan di kebunnya, Rabu 6 Mei 2026.

Saat ini, Kenny mengelola lahan seluas sekitar 50 are dengan jumlah tanaman kurang lebih seribu batang. Sebagian di antaranya masih baru ia tanam.

Sebelumnya, ia menanami lahan tersebut dengan alpukat, pisang, dan kelapa. Ia menilai ketiga komoditas itu kurang produktif.

Namun, tantangan terbesar bukan pada teknik budidaya, melainkan kondisi cuaca yang tidak menentu.

Menurut Kenny, hujan deras justru menjadi ancaman serius bagi tanaman vanili.

“Yang kami waspadai itu musim hujan. Kalau hujan terlalu deras saat masa polinasi, bisa gagal. Selain itu, penyakit yang sering muncul itu busuk batang. Kalau sudah kena, harus kami singkirkan karena tidak bisa diselamatkan,” jelasnya.

Baca Juga :  Ratusan Warga Segel Kantor Desa Kerongkong, Desak Kades Mundur karena Pinjam Dana Kas Masjid Rp 170 Juta

Dalam merawat vanili, Kenny tidak menggunakan pupuk kimia khusus. Ia memanfaatkan pupuk kandang dari kotoran sapi. Ia memperoleh pengetahuan budidaya secara otodidak melalui video di YouTube.

“Kami belajar sendiri. Bahkan rumput di bawah tanaman tidak boleh dicabut karena bisa merusak akar dan menyebabkan busuk batang,” katanya.

Petani memanen vanili setahun sekali, yaitu sekitar delapan bulan pasca polinasi.

Pada panen tahun lalu, dari tiga lokasi lahan, Kenny mampu menghasilkan hampir dua kuintal vanili basah.

Namun tahun ini, ia memperkirakan hasil panen menurun akibat curah hujan tinggi yang terjadi terus-menerus.

Dari sisi harga, Kenny menilai kondisi pasar saat ini mulai membaik dibanding tahun sebelumnya.

Harga penawaran vanili basah mencapai sekitar Rp100 ribu per kilogram. Sementara itu, vanili kering dapat menembus harga hingga Rp1 juta per kilogram.

“Tahun lalu harganya anjlok sekali. Vanili basah cuma Rp35 ribu, kering paling tinggi Rp350 ribu. Sekarang sudah lumayan naik,” ungkapnya.

Baca Juga :  Lantik Pengurus Kwarcab, Bupati Lombok Timur Minta Pramuka Perkuat Karakter Generasi Muda

Selama ini, Kenny menggantungkan pemasaran hasil panen pada pengepul lokal. Sesekali, wisatawan mancanegara yang berkunjung membeli dalam jumlah kecil sebagai oleh-oleh karena keterbatasan regulasi ekspor.

Kebun vanili milik Kenny juga kerap ia jadikan lokasi edukasi atau agrowisata sederhana bagi pengunjung yang ingin belajar budidaya vanili.

Meski demikian, Kenny berharap pemerintah memberi perhatian dan pendampingan, terutama dalam membentuk kelompok tani vanili dan memberikan dukungan pemasaran.

“Kalau ada dukungan dari pemerintah, mungkin lewat kelompok tani, kami bisa lebih semangat. Apalagi ini sangat membantu ekonomi keluarga,” katanya.

Di Desa Lenek Duren sendiri, tercatat sekitar 14 hingga 15 petani yang pernah mengembangkan vanili. Namun, ketika harga anjlok tahun lalu, banyak petani merusak tanamannya karena merasa tidak lagi menguntungkan.

Kini, hanya sebagian kecil yang masih bertahan.

Menurut Kenny, dukungan pendampingan teknis dan stabilitas harga sangat dibutuhkan agar budidaya vanili dapat kembali diminati warga dan menjadi komoditas unggulan di wilayah tersebut. ***

Penulis : Najamudin Anaji

Berita Terkait

Jurnalis Warga Kampanyekan Irigasi Tetes di Lahan Kering Lombok Timur
Bupati Lotim Terima Audiensi Bulog dan Disperindag NTB, Bahas Tiga Program Strategis
Lantik Pengurus Kwarcab, Bupati Lombok Timur Minta Pramuka Perkuat Karakter Generasi Muda
Bupati Lombok Timur Serahkan Bantuan Rp 2 Juta ke Pedagang Korban Kebakaran Pasar Pringgabaya
PT Energi Selaparang Targetkan 100 Persen Dapur MBG Lotim Gunakan Air Mineral BPOM, Libatkan Koperasi Merah Putih
Haroen: Potensi BBNKB di Samsat Selong Capai Rp 41 Miliar per Tahun
Pemkab Lotim Evaluasi PAD, Bupati Sebut 2026 Tahun Berat
Buka Rinjani 100, Plt Kadispora Lepas Pelari Kategori Ekstrem

Berita Terkait

Kamis, 7 Mei 2026 - 12:33 WITA

Cuaca Tak Menentu dan Harga Fluktuatif, Petani Vanili Lenek Duren Tetap Bertahan

Rabu, 6 Mei 2026 - 19:16 WITA

Jurnalis Warga Kampanyekan Irigasi Tetes di Lahan Kering Lombok Timur

Rabu, 6 Mei 2026 - 17:36 WITA

Bupati Lotim Terima Audiensi Bulog dan Disperindag NTB, Bahas Tiga Program Strategis

Selasa, 5 Mei 2026 - 21:04 WITA

Bupati Lombok Timur Serahkan Bantuan Rp 2 Juta ke Pedagang Korban Kebakaran Pasar Pringgabaya

Senin, 4 Mei 2026 - 19:06 WITA

PT Energi Selaparang Targetkan 100 Persen Dapur MBG Lotim Gunakan Air Mineral BPOM, Libatkan Koperasi Merah Putih

Senin, 4 Mei 2026 - 16:14 WITA

Haroen: Potensi BBNKB di Samsat Selong Capai Rp 41 Miliar per Tahun

Senin, 4 Mei 2026 - 14:04 WITA

Pemkab Lotim Evaluasi PAD, Bupati Sebut 2026 Tahun Berat

Jumat, 1 Mei 2026 - 17:31 WITA

Buka Rinjani 100, Plt Kadispora Lepas Pelari Kategori Ekstrem

Berita Terbaru

Presiden RI Prabowo Subinato. (Foto: Lombokini.com/Kementan).

Opini

Percepatan Swasembada Pangan: Inpres Prabowo Subianto 

Kamis, 7 Mei 2026 - 09:57 WITA