TGB Zainul Majdi Luruskan Nama Pondok dan Organisasi di RDP Kasus Penganiayaan Santri

Selasa, 14 Juli 2026 - 15:51 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Umum PBNWDI Dr. TGB. TGKH. Muhammad Zainul Majdi, MA. (Foto: Lombokini.com).

Ketua Umum PBNWDI Dr. TGB. TGKH. Muhammad Zainul Majdi, MA. (Foto: Lombokini.com).

LOMBOKINI.com – Rektor Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor sekaligus Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (PBNWDI), Dr. TGB. TGKH. Muhammad Zainul Majdi, meluruskan penyebutan nama dan organisasinya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi III DPR RI, Selasa (14/7). RDP tersebut membahas kasus dugaan penganiayaan santri.

Tuan Guru Bajang (TGB), sapaan akrabnya, menegaskan bahwa pondok pesantren yang menjadi lokasi kejadian perkara sama sekali tidak berada di bawah naungan NWDI yang dipimpinnya.

Ia menyampaikan klarifikasi itu melalui media sosial untuk menghindari kesalahpahaman masyarakat dan menjauhkan diri dari fitnah.

Baca Juga :  Warga Tutup Paksa dan Rusak Fasilitas Kafe di Pantai Lungkak

TGB menyayangkan pihak-pihak yang mengaitkan kasus pidana individu dengan nama besar organisasi. Ia meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus tersebut dan menghukum siapa pun yang terbukti bersalah tanpa pandang bulu.

“Usut tuntas kasus pidananya, hukum siapa pun yang bersalah. Tapi jangan bawa-bawa nama organisasi tertentu, apalagi organisasi ini telah banyak berjasa dalam perjuangan kemerdekaan dan mencerdaskan bangsa,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia meminta aparat bekerja cepat, tegas, dan transparan dalam menyelesaikan perkara ini. Di sisi lain, ia mengingatkan masyarakat agar tidak berspekulasi liar yang berpotensi memicu keributan.

Baca Juga :  TGB Tegaskan Pemerintah Harus Jadi Fasilitator, Bukan Pesaing Rakyat

TGB juga mengajak seluruh elemen bangsa menjaga marwah pesantren sebagai tempat yang aman dan nyaman bagi santri dalam menuntut ilmu.

Ia menyambut baik kritik masyarakat terhadap dunia pesantren dan menjadikannya bahan evaluasi untuk memperbaiki sistem perlindungan serta kesejahteraan santri.

“Terima kasih atas semua perhatian dan kritik. Itu memacu kami untuk berbenah, memastikan setiap santri terlindungi lahir dan batin dengan sebaik-baiknya,” pungkasnya. ***

Penulis : Najamudin Anaji

Berita Terkait

Kebakaran Menghanguskan Asrama Santri Ponpes NW Anjani, Tidak Ada Korban Jiwa
Material Jerami dan Bambu Picu Api Cepat Lalap Rumah Adat Sade
Api Melalap Desa Wisata Adat Sade
Ratusan Warga Kalijaga Timur dan Mahasiswa Kepung Kantor Bupati Lotim, Tuntut Perbaikan Jalan Rusak Akibat Truk Galian C
Warga Kalijaga Timur Blokir Jalan, Protes Janji Perbaikan yang Diingkari Pemerintah
Update Gempa NTT: 47 Orang Meninggal dan 346 Rumah Rusak, BNPB Kirim 50 Ribu Paket Bantuan
Korban Meninggal Gempa NTT Bertambah Jadi 38 Jiwa, 2.000 Warga Mengungsi
Tim SAR Evakuasi 106 Penumpang KMP Putri Yasmin

Berita Terkait

Kamis, 6 Agustus 2026 - 05:34 WITA

CERPEN Yuspianal Imtihan: Warisan Ilmu Kecepatan Tangan

Kamis, 9 Juli 2026 - 17:24 WITA

Sempurnakan Program DAK 2027 dengan Mendata Penulis Lokal: Adakah Peluang Pengadaan Buku Karya Penulis Lokal?

Rabu, 1 Juli 2026 - 14:25 WITA

CERPEN Yuspianal Imtihan: Ada Kosnpirasi Di Cerita Ini 

Jumat, 19 Juni 2026 - 09:06 WITA

Viralisasi Berkelindan dengan Motif Ekonomi, Program Literasi Selalu Dilayakkan Proyek Belaka

Kamis, 18 Juni 2026 - 09:43 WITA

Penderitaan Modern di Era AI: Manusia dan Realitas Palsu, Sastra sebagai Penawarnya

Berita Terbaru

Kebudayaan di Nusa Tenggara Barat . (Foto: Lombokini.com).

Opini

Bermasalah: Roadmap Kebudayaan NTB 2027-2047

Minggu, 23 Agu 2026 - 17:15 WITA

Okky Afriwan, SE, MBA: Dosen Fakultas Ilmu Komputer dan Kecerdasan Artifisial Universitas Teknologi Mataram (Foto: Istimewa)

Opini

Resensi Buku ‘Kebijakan Ekonomi Publik’

Minggu, 23 Agu 2026 - 11:55 WITA