Ran dan Kesetaraan Gender Orang Sasak

Rabu, 10 September 2025 - 13:27 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ran dan Kesetaraan Gender Orang Sasak. (Foto: Lombokini.com).

Ran dan Kesetaraan Gender Orang Sasak. (Foto: Lombokini.com).

Oleh: Hari Bahagia

Masyarakat Sasak kerap dicitrakan konservatif dan patriarkal. Label itu melekat begitu kuat, seakan tak ada ruang bagi perempuan untuk tampil setara, seakan laki-laki selalu menjadi pusat keputusan dan pengendali ruang publik.

Seringkali, kritik akademis maupun obrolan sehari-hari berhenti pada kesan permukaan ini. Padahal, di balik stereotipe yang kaku, tersimpan lapisan pemahaman yang jauh lebih kompleks.

Dalam sistem nilai yang orang Sasak jalani, peran sosial tidak serta-merta dibatasi oleh jenis kelamin. Ada kelenturan dalam membagi peran yang kerap luput dari sorotan luar.

Di banyak rumah tangga, seorang ayah bisa ikut menggendong anak, menyiapkan lauk, bahkan masuk dapur tanpa beban stigma.

Ruang domestik yang dalam wacana modern sering dilekatkan semata pada perempuan, ternyata tidak sepenuhnya eksklusif.

Ada pengakuan bahwa setiap orang, entah laki-laki atau perempuan, dapat mengambil peran sesuai kemampuannya.

Di titik inilah kompetensi lebih diutamakan daripada kodrat biologis. Kemampuan merawat, memasak, dan mengatur urusan rumah tangga dipandang sebagai keterampilan yang berharga, bukan sekadar penanda jenis kelamin.

Ketika seseorang sanggup mengemban tugas dengan baik, masyarakat memberi tempat dan penghargaan, tanpa harus menanyakan “ini pekerjaan siapa?”.

Ran sebagai lelaki juru masak di hajatan gawe tradisi lokal ini menjadi simbol nyata dari realitas itu. Ia adalah sosok yang menembus batas-batas baku antara laki-laki dan perempuan.

Baca Juga :  Percepatan Swasembada Pangan: Inpres Prabowo Subianto 

Ran tidak hadir melalui perdebatan panjang tentang gender, bukan pula hasil dari arus pemikiran feminisme yang datang dari Barat.

Peran Ran sebagai juru masak diterima apa adanya, semata karena kepiawaiannya mengurusi ruang domestik yang biasanya dianggap wilayah perempuan.

Di sini, Ran menyingkap sebuah pelajaran penting: kesetaraan bukanlah sesuatu yang mesti selalu diperdebatkan, melainkan dijalani. Ia lahir dari praktik keseharian yang organik, yang tumbuh dari tradisi dan bukan dari jargon modern.

Kesetaraan tidak perlu diumumkan, karena ia sudah hidup dalam keseharian.

Perbedaan perspektif inilah yang sering kali membuat kita salah membaca kebudayaan. Dari kacamata Barat, isu gender identik dengan perjuangan panjang, dengan jargon “equal rights” atau “emansipasi”.

Kesetaraan yang Membumi

Di banyak seminar, kesetaraan kerap diposisikan sebagai hasil modernitas yang lahir dari wacana akademis.

Namun dalam tradisi Sasak, kesetaraan hadir dalam bentuk yang lebih cair, lebih praktis, dan lebih fungsional.

Budaya ini tidak menamai dirinya dengan istilah-istilah besar. Ia tidak menuliskannya dalam dokumen atau manifesto.

Tentu dalam kehidupan sehari-hari, nilai itu dijalankan dengan cara yang sederhana, tanpa merasa harus menegaskan diri sebagai “gerakan”. Ran adalah representasi dari itu: kesetaraan yang membumi.

Baca Juga :  Swasembada Pangan di Era Presiden Prabowo: Apakah Sudah Tercapai? 

Dengan demikian, kita belajar bahwa tradisi dan modernitas bukan dua kutub yang berlawanan. Ada jejak-jejak lama yang sebenarnya sudah mengenal keadilan peran.

Ran menunjukkan bahwa masyarakat adat tidak selalu tertinggal. Justru mereka menyimpan pengetahuan sosial yang bisa menjadi inspirasi bagi dunia modern yang kadang terjebak dalam slogan.

Kita perlu berhati-hati dalam menempelkan label. Sebab, ketika kita menyebut masyarakat adat semata patriarkal, kita berisiko mengabaikan ruang-ruang setara yang telah lama ada.

Lebih dari itu, kita kehilangan kesempatan untuk belajar dari kearifan lokal yang telah mengakar.

Ran mengajarkan kita cara memandang ulang budaya sendiri. Kesetaraan bisa lahir tanpa jargon, tanpa manifestasi gerakan, dan tanpa perlu pengakuan eksternal. Ia hadir dari kebiasaan yang sudah dianggap wajar, dan justru di situlah kekuatannya.

Di ujung refleksi ini, saya ingin mengajak diri kita untuk menengok ke dalam. Apakah benar semua masyarakat lokal selalu patriarkal?

Ataukah kita terlalu sering membaca budaya dengan kacamata luar, lalu gagal menangkap kompleksitasnya?

Ran menjadi jawaban yang tak terduga bahwa kesetaraan bukanlah produk tunggal modernitas, melainkan juga warisan tradisi. Nah, gitu?!. ***

Penulis adalah jurnalis budaya di kolektif Nusa Artivisme

Penulis : Hari Bahagia

Berita Terkait

Percepatan Swasembada Pangan: Inpres Prabowo Subianto 
Di Balik Narasi Akselerasi: Menguji Klaim Keadilan Pertumbuhan di Lombok Timur
Swasembada Pangan di Era Presiden Prabowo: Apakah Sudah Tercapai? 
Swasembada Pangan di Lombok Timur: Apakah Sudah Tercapai?
Merintih dari Tanah: Catatan H Rachmat Hidayat Tentang Pangan, Rakyat, dan Masa Depan
Urgensi Muktamar Ke-35 NU di Lombok
Perampingan Birokrasi NTB: Jalan Senyap Menuju Pemerintahan yang Lebih Substantif
Watak Jahat Mengurus Kebudayaan

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:37 WITA

Kakorlantas Tegaskan Transformasi Penegakan Hukum Lalu Lintas Berbasis ETLE 95 Persen

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:50 WITA

Kemendikdasmen Tegaskan Guru Non-ASN Tetap Boleh Mengajar di Sekolah Negeri

Kamis, 21 Mei 2026 - 16:35 WITA

SMSI dan ABPEDNAS Jajaki Kolaborasi Nasional Perkuat Tata Kelola Desa

Selasa, 19 Mei 2026 - 18:53 WITA

Cadangan Beras RI Tembus Rekor 5,37 Juta Ton, Wamentan: Tertinggi dalam Sejarah

Minggu, 17 Mei 2026 - 14:01 WITA

Mulai 2027, Bahasa Inggris Menjadi Mata Pelajaran Wajib Bagi Siswa SD

Senin, 4 Mei 2026 - 23:30 WITA

Zulhas: Koperasi Merah Putih Menjadi Offtaker, Agen Pupuk Bersubsidi dan Penyalur Gas 3 Kg

Jumat, 1 Mei 2026 - 19:12 WITA

Prabowo Keluarkan Keppres Satgas PHK untuk Lindungi Buruh

Jumat, 1 Mei 2026 - 15:31 WITA

Prabowo Buka Baju dan Peluk Buruh Usai Pidato May Day di Monas

Berita Terbaru