LOMBOKINI.com – Tingkat kepatuhan masyarakat Kabupaten Lombok Timur dalam tertib berlalu lintas dinilai masih sangat memprihatinkan.
Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Lombok Timur mencatat angka kepatuhan pengendara di wilayah tersebut saat ini masih berada di bawah 50 persen.
Hal tersebut diungkapkan oleh Kanit Kamsel Satlantas Polres Lombok Timur, IPDA Evi Dwi Puspa, saat ditemui di Gedung Pelayanan BPKB Polres Lombok Timur pada Kamis (25/6/2026).
“Jika boleh jujur, bisa kami bilang kepatuhan masyarakat Lombok Timur di bawah 50 persen. Tingkat kepatuhan ini masih sangat kurang,” ujar Evi.
Menurut Evi, kesadaran masyarakat sering kali mengendur pada waktu-waktu tertentu, khususnya saat sore hari ketika petugas kepolisian sudah tidak berjaga di jalan.
Padahal, tertib lalu lintas seperti menggunakan helm esensial untuk keselamatan diri sendiri, bukan demi menghindari aparat.
Evi bahkan memberikan analogi ekstrem terkait kerugian finansial dan fatalitas akibat enggan menggunakan pelindung kepala.
“Tolong patuhi ketertiban lalu lintas. Operasi kepala itu (bisa menghabiskan biaya) Rp200 jutaan, itu sangat banyak ketimbang membeli helm yang harganya hanya Rp150 ribu saja,” tegasnya.
Tingginya angka ketidakpatuhan ini berbanding lurus dengan fatalitas kecelakaan lalu lintas (laka lantas). Evi menggambarkan, jika tidak ada penanganan serius, angka kematian akibat kelalaian berkendara di Lombok Timur bisa sangat mengerikan.
“Bayangkan kalau seumpamanya di satu kecamatan setiap hari menyumbang nyawa, harus berapa nyawa yang jatuh hanya karena kelalaian tidak ingin tertib berlalu lintas?” tuturnya.
Melihat kondisi tersebut, Satlantas Polres Lombok Timur menegaskan bahwa penegakan keamanan dan keselamatan jalan tidak bisa dilakukan sepihak.
Dibutuhkan sinergi dari seluruh lini, mulai dari tokoh masyarakat, aparat desa, hingga bantuan dari Bupati Lombok Timur. Ia juga meminta peran aktif media massa untuk membantu mengedukasi warga secara masif.
Menyoroti tingginya angka pelanggaran di kalangan pelajar, Satlantas Lombok Timur kini tengah gencar melancarkan program mitigasi yang menyasar langsung institusi pendidikan. Langkah ini diambil sebagai tindak lanjut atas hasil evaluasi tingginya angka kecelakaan.
“Untuk anak SD dan SMP kami ada program Goes to School berbentuk sosialisasi. Namun untuk tingkat SMA, kami tingkatkan menjadi Mitigasi Laka Lantas. Terakhir, kami mendatangi sekolah-sekolah, seperti SMA 1 Pringgabaya dan SMA 1 Terara, untuk memberikan materi Safety Riding,” jelas Evi sambil menunjukkan buku-buku yang disiapkan sebagai hadiah (reward) bagi siswa yang aktif.
Terkait fenomena pelajar di bawah umur yang nekat membawa kendaraan, Evi mengingatkan dengan tegas agar orang tua mengambil peran protektif.
“Anak di bawah umur belum memiliki SIM dan tidak boleh berkendara. Solusinya, orang tua harus mengantar atau memanfaatkan angkutan umum demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” tambahnya.
Sebagai tips, Evi menekankan bahwa budaya tertib lalu lintas harus dibangun dari lingkup terkecil, yakni diri sendiri dan keluarga, sebelum meluas ke tingkat komunitas.
“Dimulai dari rumah. Jika orang tua disiplin menggunakan helm, otomatis akan ditiru oleh anak-anak dan lingkungan sekelilingnya,” pungkas Evi. ***







