LOMBOKINI.com – Sebelum pagi menggugurkan dingin dan embun, udara sejuk khas dataran tinggi Kecamatan Aikmel menyelimuti Desa Toya, Lombok Timur.
Di sepanjang jalur pariwisata yang asri dan rindang oleh pepohonan, sekelompok pemuda tidak lagi bergelung di balik selimut. Mereka akan berangkat ke atas jurang Reban Samas (nama ngarai kecil paling terkenal di Desa Toya). Lalu mendirikan stand bazar di pinggir jalan.
Begitulah yang mereka lakukan setiap pagi. Mereka bersiap menyambut puluhan warga, pesepeda santai (gowes), hingga pelari pagi yang mulai memadati jalanan.
Riuh rendah aktivitas ini berpusat di sebuah pasar kaget unik bernama Bazar Sedin Tbere, atau yang akrab disingkat BST. Nama ini bukan sekadar pemanis jualan. Dalam bahasa lokal Sasak dialek Toya, sedin tbere berarti tepi jurang atau pinggir tebing.
Sebuah penamaan yang akurat, mengingat deretan lapak pedagang di bazar ini berdiri berjejer tepat membelakangi bibir jurang hijau yang curam atau membelakangi ngarai.
Namun, di balik lanskap ekstrem tersebut, tersaji pemandangan magis yang memanjakan mata. Jika berdiri menghadap ke arah utara, pengunjung akan disuguhi kemegahan Gunung Rinjani yang berdiri kokoh, berpadu sempurna dengan hamparan lanskap hijau ngarai Reban Samas.

Di setiap tepi jurang, bazar itu diteduhkan oleh pepohonan besar yang berderet mengikuti jalan parawisata Toya tersebut yang mengarah ke Kantor Desa Toya.
Lalu di sebelah baratnya pengunjung akan dimanjakan oleh lanskap sengkedan yang luas. Pemandangan hijau dari bentangan sawah lengkap dengan pepohonan nyiurnya. Setiap pagi hijau ladang sawah padi itu seakan-akan merindang untuk melengkapi kegiatan pengunjung dan pembeli.
Kombinasi panorama alam yang asri inilah yang membedakan BST dengan area Car Free Day atau bazar perkotaan pada umumnya.
Daya tarik visual ini pula yang sukses memantik rasa penasaran publik, hingga viral di jagat maya. Wira Hadi, salah seorang pengunjung yang datang pagi itu mengakui efek domino dari promosi digital tersebut.
“Saya melihat bazar ini dari medsos, cukup sering dibicarakan juga di medsos. Salah satu ciri khasnya adalah visual alam yang memanjakan kita dan suasana adem. Karena Desa Toya ini bagian dari Aikmel, keasrian dan kesan dinginnya sangat enak,” ungkap Wira sambil menikmati suasana pagi dan sosisnya yang sudah ia beli dari bazar itu.
Jika deretan lapak pedagang sosis dan camilan lainnya hanya muncul di hari Minggu pagi, ada satu sudut yang menjadi denyut nadi utama di kawasan ini: BST Central.
Berbeda dengan konsep bazar mingguan, kedai kopi semi-permanen yang dibangun secara mandiri dari kayu dan beratapkan spandek ini justru buka setiap hari dari pagi hingga malam.
Saat senja mulai turun dan kabut tipis khas Reban Samas mulai menyelimuti kawasan tebing, BST Central bertransformasi menjadi ruang komunal yang sangat estetik. Kerlip lampu gantung kuning yang hangat berpadu kontras dengan kegelapan ngarai di belakangnya.
Di kedai inilah, Andika Mahendra, salah satu penggerak utama yang juga seorang barista berpengalaman, meracik kopi modern ala barista untuk para pengunjung yang ingin menikmati sensasi nongkrong di bibir jurang.
BST adalah Gerakan Ekonomi Kreatif Mandiri
Gerakan ekonomi kreatif ini dimotori oleh keresahan para pemuda setempat. Andika Mahendra, salah satu penggerak utama sekaligus pedagang kopi di BST, menceritakan bahwa ide untuk menghidupkan potensi ekonomi Desa Toya sebenarnya sudah lama bergaung. Namun, selama ini gagasan tersebut menguap begitu saja sebagai obrolan warung kopi.
“Ide mau bikin hal seperti ini sebetulnya sudah banyak dari teman-teman, cuman kebetulan yang gerak itu yang enggak ada. Kita terlalu banyak wacana dan rencana, eksekusinya hampir enggak ada,” ujar Andika saat ditemui di sela-sela kesibukannya menggelar lapak, Minggu (5/7/26).
Titik balik itu terjadi pada momentum perayaan 17 Agustus 2025 lalu. Melihat peluang dari ramainya penonton pawai yang justru didominasi oleh pedagang luar desa, Andika bersama empat orang temannya memutuskan untuk berhenti berteori.
Tanpa payung komunitas formal maupun sokongan dana dari luar, mereka langsung “mengeksusi” ide bazar mandiri ini. Lalu setiap hari Minggu pagi memanfaatkan momentum warga yang berolahraga dan yang bersepeda pagi.
“Asumsi awal kami, kalaupun enggak ada yang beli, anggap aja kita refreshing sekali seminggu, ngopi-ngopi santai dan saling beli sendiri,” kenang mantan barista yang pernah membuka kedai kopi di Kota Selong tersebut.
Langkah berani ini berbuah manis. Antusiasme masyarakat di pekan pertama meledak di luar prediksi, memaksa para pemuda untuk menginap dan mendirikan tenda setiap malam Minggu agar tidak keduluan oleh para pelari pagi.
Guna mengantisipasi cuaca dataran tinggi yang tidak menentu, mereka secara swadaya dan patungan mendirikan “BST Central”—sebuah kedai kopi semi-permanen dari kayu beratap spandek yang kini dilengkapi dengan jajaran kursi santai dari ban bekas dan lampu gantung yang estetik.

Selain menawarkan tempat melepas penat bagi pelari pagi dan pesepeda santai (gowes) dari berbagai daerah seperti Mamben hingga Lenek, BST mengemban misi yang lebih besar: edukasi kewirausahaan dan pemutusan stigma mata pencaharian.
“Tujuan kita itu untuk edukasi wirausaha. Di sinilah kita belajar untuk memulai usaha dan cek pasar. Karena selama ini di Toya, pandangan masyarakat terhadap penghasilan utama masih condong kalau enggak jadi TKI ya PNS. Jadi kalau bisa jangan hanya dua itu pilihannya,” tegas Andika.
Enggan Mengharapkan Bantuan Pemerintah Desa dan Instansi Politik Lainnya
Prinsip kemandirian ini dijaga ketat. Andika menekankan bahwa operasional BST bergerak murni dari kantong pribadi tanpa ketergantungan pada anggaran pemerintah desa maupun afiliasi politik.
Mereka sengaja menghindari proposal birokratis demi menjaga pergerakan ini tetap steril dari klaim sepihak di kemudian hari. Dukungan yang diterima sejauh ini hanya berupa sumbangan personal yang sifatnya mengayom, seperti spandek dari Babinsa atau Polmas setempat.
Senada dengan Andika, Jannatul Ulya, salah satu pedagang lokal yang membuka stan di BST sejak awal, mengaku motivasinya bergabung bukan semata-mata mengejar profit instan, melainkan demi membesarkan nama tanah kelahirannya.

“Alasan pertama karena ini desa kita. Kedua, ingin mengembangkan nama desa biar orang luar tahu Desa Toya punya ciri khas setiap hari Ahad. Masalah untung-rugi, sebagai pedagang itu nomor dua. Yang pertama itu harus hobi berdagang dulu, untungnya belakangan,” tutur Jannatul optimis.
Kini, akun Instagram resmi mereka, `@BST_Central_Toya`, mulai aktif mengabarkan eksistensi ruang kreatif di tepi jurang ini. Baik Andika maupun Jannatul menaruh harapan besar agar pemerintah desa ke depan dapat memberikan perhatian lebih, terutama dalam membantu meningkatkan visual bazar agar lebih tertata dan dikenal luas.
Mereka juga membuka pintu selebar-lebarnya bagi pemuda Desa Toya lainnya yang masih malu-malu untuk datang, membawa produknya, dan belajar berdikari bersama di bawah keteduhan pohon-pohon Sedin Tbere.
Penulis : Paozan Azima







