Lombok Barat Dikutuk Guru Dane

Kamis, 23 Juli 2026 - 10:32 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gedung Kantor Bupati Lombok Barat. (Foto: Lombokini.com).

Gedung Kantor Bupati Lombok Barat. (Foto: Lombokini.com).

Oleh: Salman Faris

Fenomena, sekurang-kurangnya dalam dua puluh tahun terakhir ini, di mana Bupati dan ada juga Wakil Bupati Lombok Barat terjerat dalam kasus korupsi, memaksa saya untuk berusaha mencari benang merah atas jalinan fenomena aneh tersebut. Memang sangat sukar untuk mendapatkan hubungan yang presisi antara satu peristiwa dengan yang lainnya. Namun, tak berarti hal tersebut tidak bisa dipecahkan.

Karena itu, saya mencoba merekoling ingatan saya tentang “Tanah Kutukan”, yang ada kaitannya dengan perdebatan sejarah, di mana peristiwa ini dipercayai sebagai sesuatu yang mengada-ada sekaligus dipercaya juga sebagai kebenaran sejarah. Untuk sementara ini saya berdiri di yang kedua.

Tentu saja, pembaca boleh percaya atau tidak. Bisa menerima atau menolaknya. Bahkan sangat boleh tersinggung atau menerima hal ini sebagai inherensi perjalanan reflektif atas bangsa Sasak. Mengada-ada karena peristiwanya disusun oleh kaum terdidik kolonial, yang melihat Guru Dane sebagai mesias. Dalam konteks poskolonial, mesias merupakan narasi kolonial yang dikonstruksi untuk mendemoralisasi pengaruh tokoh yang berasal dari luar kalangan bentukan kolonialis itu sendiri.

Guru Dane, misalanya. Disebut mesias karena berhasil mengalihkan kekuatan besar yang sebelum ini terpusat pada elit Sasak yang kooperatif dengan penjajah. Padahal, dalam kenyataannya, pengaruh Guru Dane itu ada. Keberadaannya telah mengacaukan kemapanan kekuasaan elit Sasak bentukan kolonial.

Karena itu, meskipun pembaca berseberangan pendapat dengan saya, itu samasekali tidak menjadi soal. Setidaknya, saya dapat memberikan penjelasan bahwa metode yang saya gunakan dalam mencari benang merah tersebut adalah rekognisi sejarah, di mana saya menafsirkan sekaligus menuliskan sejarah sendiri. Tidak bergantung pada sejarah bentukan dan tulisan kolonialis.

Jadi, fonomena korupsi pejabat Lombok Barat memang tidak dapat disimplikasikan. Meskipun peristiwanya sama, namun berbeda pelaku dan juga berbeda masa. Namun demikian, meskipun perbedaan tersebut tidak dapat dibantah, pola antara semua peristiwa tersebut mempunyai kemiripan. Bahkan kesamaan. 1) Sama-sama bupati. 2) Sama-sama dinilai sebagai bupati yang progresif, mempunyai imajinasi kemajuan, berhasil, dan berkarakter sebagai pemimpin. 3) Sama-sama memiliki rentetan peristiwa. Bahwa korupsi yang dijalankan berhasil diendus karena ada laporan dari pihak yang berseberangan dengan bupati. 4) Sama-sama dicintai oleh orang Lombok Barat.

Karena persamaan yang berulang-ulang tersebut, fenomena korupsi pejabat Lombok Barat memang cukup sulit untuk dipecahkan menggunakan rumus linier. Itulah sebabnya perlu dicari pendekatan lain, yang mungkin cukup jauh, tetapi setidaknya dapat memberikan gambaran lain untuk mendapatkan jalan keluar. Pendekatan lain yang saya maksudkan adalah membedahnya dengan “Tanah Kutukan” Guru Dane berikut.

Sudah beberapa kali, baik seorang diri maupun secara berkelompok, dari kalangan bapak dan ibu datang menjumpai Guru Dane. Meskipun mereka datang secara tidak sengaja berjumpa di tempat Guru Dane, mereka mempunyai keluhan yang sama. Orang-orang tersebut meminta Guru Dane membantu untuk 1) menggugurkan kandungan, 2) memulihkan nama baik, 3) memberikan justifikasi bahwa mereka adalah korban.

Baca Juga :  Iqbal-Dinda: Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem di NTB      

Meskipun sudah beberapa kali datang, Guru Dane tidak segera memberikan kesanggupan. Karena selain mengurus tamu lain yang juga begitu banyak, juga karena masalah yang disampaikan oleh tamu ini sangat kompleks.

Karena sudah berkali-kali dan berbulan-bulan didatangi oleh kalangan yang sama, Guru Dane bersedia untuk datang. Guru Dane akhirnya bersedia pergi ke suatu tempat yang kira-kira berada di kawasan Kebon Ayu. Lokasinya tidak diketahui secara tepat, tetapi berdasarkan narasi arah perjalanan Guru Dane dan cerita yang disampaikan oleh tamu, lokasi tersebut diperkirakan berada di dekat kawasan Kebon Ayu.

Ada suatu tempat yang cukup besar. Guru Dane sampai di sana dan menjumpai ratusan perempuan. Tidak ada seorang pun lelaki. Bahkan lelaki yang dulu datang menjumpai Guru Dane agar datang ke tempat itu pun, tidak nampak pada saat itu. Semuanya perempuan. Kisaran umur yang sama. Antara 15-20 tahun.

Menariknya adalah, ratusan perempuan itu sepertinya sengaja dipilih. Karena secara umumnya tergolong cantik. Di antara mereka, ada yang masih gadis. Ada juga yang mengaku sudah menikah. Ratusan perempuan tersebut sedang mengandung. Sedang hamil tanpa seorang pun lelaki bersama mereka. Dan mereka ditempatkan di lokasi khusus, yang sengaja dirancang dan dipilih oleh seseorang yang mempunyai kuasa.

Meskipun Guru Dane sudah tahu duduk perkaranya, dia tetap ingin memastikan apa sebenarnya yang terjadi. Dari ratusan perempuan tersebut, Guru Dane memastikan bahwa 1) mereka hamil di luar nikah. 2) Mereka dipaksa bersetubuh. 3) Dipaksa melayani nafsu bejat lelaki. 4) Lelaki yang menghamili mereka dari kalangan elit. 5) Beberapa di antara perempuan tersebut disetubuhi oleh lebih dari seorang lelaki. 6) Beberapa di antara mereka mendapatkan makanan yang diantar secara berkala. 7) Ada yang samasekali tidak mendapatkan sebutir makanan, kemudian terpaksa menumpang pada wanita yang nasibnya agak baik. 8) Mereka sama-sama mendapatkan janji sekaligus ancaman yang serupa. 9) Mereka datang dari tempat yang berbeda-beda. 10) Dari kalangan rakyat bawah yang kebetulan berparas cantik.

Kebiasaan elit lokal dan penjajah yang menghamili anak gadis orang lain tersebut, sebenarnya banyak dijumpai oleh Guru Dane. Namun baru kali ini dia benar-benar yakin dan dia menjumpai pola yang berbeda. Yakni elit lokal dan penjajah membuatkan satu tempat khusus bagi wanita yang sudah dihamili. Beberapa kasus di tempat lain, Guru Dune menjumpai wanita yang dihamili tersebut dibuang, dihinakan, bahkan ada yang dibunuh.

Berdasarkan informasi yang dijumpai, Guru Dane meminta orang kepercayaannya dari kalangan Bali untuk mendapatkan informasi lebih lanjut terkait hal tersebut. Setelah itu, Guru Dane dapat mengetahui bahwa 1) Gadis yang sudah dihamili tersebut tidak ada yang dinikahi setelah melahirkan. 2) Beberapa hari sebelum melahirkan, gadis tersebut dibawa ke tempat yang berbeda. Yang ini tidak diketahui tempatnya. Namun, orang kepercayaan Guru Dane mendapat informasi bahwa mereka melahirkan di rumah titipan. Atau dibantu persalinan oleh belian yang sudah dipilih. 3) Beberapa anak haram yang lahir mendapatkan sedikit keuntungan, yakni diberi makan melalui pesuruh yang diperintahkan untuk mengantar makanan secara berkala. Namun sebagian dari mereka, bernasib tidak beruntung. Dibiarkan begitu saja. Mau hidup mau mati, tidak ada yang peduli.

Baca Juga :  Dinas Kebudayaan NTB Tak Mampu Mengurus Kebudayaan

Seterusnya, 4) Sampai pada umur tertentu, beberapa di antara anak haram tersebut diberi tanah untuk digarap. 5) beberapa di antara mereka ada yang diberikan hak istimewa untuk menjadi kalangan elit lokal pada masanya. 6) Kalangan elit dari anak haram inilah yang kemudian banyak berketurunan. 7) Pola kelahiran dan pengasuhan anak haram ini sebenarnya sudah berlangsung lama, jauh sebelum Guru Dane mendapatkan pengaruh. 8) Secara umumnya, diancam bunuh jika menikah dengan lelaki lain.

Sampai ketika Guru Dane menemukan lokalisasi gadis hamil di luar nikah tersebut, sebenarnya Guru Dane sudah sangat banyak menjumpai ketimpangan yang baginya tidak manusiawi. Dan semua itu diaktori oleh elit lokal. Karena itulah Guru Dane mengutuk tanah kelahirannya sendiri sebagai “Tanah berlimpah, tanah tak kan bermaruah”.

Kemarahan Guru Dane tiada habisnya karena semakin keras penentangan dari kalangan elit lokal yang dia tahu memiliki perilaku sangat buruk. Menghamili anak gadis dan istri orang, mengambil tanah orang, memperbudak sesama. Begitu bencinya kalangan elit lokal ini kepada Guru Dane, mereka tak henti-henti meyakinkan penjajah yang Guru Dane sangat berbahaya. Padahal penjajah meyakin, Guru Dane bukan orang bahaya. Pengaruh Guru Dane yang besar itu, tidak berpengaruh apa-apa kepada kestabilan penjajahan mereka. Namun, elit lokal tak bergeming. Mereka melakukan segala cara agar Guru Dane ditangkap dan dipenjara berulangkali. Keculasan elit lokal tersebut berhasil.

Guru Dane mengutuk tanahnya sendiri, “Tanah berlimpak, tanah tak kan bertuah. Anak haram yang disembah, berfoya-foya dari tanah haram rampasan ayah haram”. Begitu mendalam kutukan tersebut, Guru Dane bersumpah tidak akan menginjakkan kaki di tanahnya sendiri. Karena itu, begitu penangkapan terakhirnya sebelum dibuang, Guru Dane bersikeras tidak mau dibawa melewati tanahnya sendiri. Guru Dane meminta agar terus dibuang ke Timur. Itu lebih terhormat baginya.

Namun, karena elit lokal mengetahui betapa dalam Guru Dane mengutuk tanahnya sendiri, elit lokal melakukan segala macam cara agar Guru Dane tetap dibawa ke Mataram. Mereka benar-benar ingin menghinakan Guru Dane. Dan begitulah, Guru Dane tak pernah benar-benar menarik kembali kutukannya sampai dia dibuang jauh dari tanahnya sendiri.

Biar tanah kutukannya terus tak bermaruah. ***

 

Malaysia, 23 Juli 2026.

Penulis : Salman Faris

Berita Terkait

Iqbal-Dinda: Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem di NTB      
Dinas Kebudayaan NTB Tak Mampu Mengurus Kebudayaan
Bangkitnya Kelas Menengah: Kurva Gajah   
Mendedah Era Reformasi: Sebuah Refleksi   
Krismon 1997-1998 Bakal Terulang Kembali? 
ESAI Khaerul Majdi: Oase Sejarah’ dan Tahun-Tahun yang Sial: Melihat HIMMAH NWDI dari Timur
Esai Yuspianal Imtihan: Menilik Sikap Seniman di Era Artificial Intelligence 
MBG ‘Big Push’ Bagi Sektor Pendidikan  

Berita Terkait

Kamis, 23 Juli 2026 - 10:32 WITA

Lombok Barat Dikutuk Guru Dane

Minggu, 19 Juli 2026 - 18:13 WITA

Iqbal-Dinda: Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem di NTB      

Rabu, 8 Juli 2026 - 14:44 WITA

Bangkitnya Kelas Menengah: Kurva Gajah   

Kamis, 25 Juni 2026 - 12:11 WITA

Mendedah Era Reformasi: Sebuah Refleksi   

Jumat, 12 Juni 2026 - 10:12 WITA

Krismon 1997-1998 Bakal Terulang Kembali? 

Selasa, 9 Juni 2026 - 11:48 WITA

ESAI Khaerul Majdi: Oase Sejarah’ dan Tahun-Tahun yang Sial: Melihat HIMMAH NWDI dari Timur

Rabu, 3 Juni 2026 - 21:33 WITA

Esai Yuspianal Imtihan: Menilik Sikap Seniman di Era Artificial Intelligence 

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:42 WITA

MBG ‘Big Push’ Bagi Sektor Pendidikan  

Berita Terbaru

Gedung Kantor Bupati Lombok Barat. (Foto: Lombokini.com).

Opini

Lombok Barat Dikutuk Guru Dane

Kamis, 23 Jul 2026 - 10:32 WITA

Juru Bicara KPK Budi Prasetyo memberikan keterangan kepada awak media, Senin 20 Juli 2026 di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta Selatan. (Foto: Lombokini.com/Tamrin).

Hukrim

KPK OTT Bupati Lombok Barat dan Amankan 18 Orang

Senin, 20 Jul 2026 - 17:52 WITA