Wasekjen Seknas FITRA Ingatkan Risiko MBG Serap Anggaran Terlalu Besar

Rabu, 24 Juni 2026 - 16:47 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wakil Sekretaris Jenderal Seknas FITRA, Ervyn Kaffah. (Foto: Lombokini.com/Harianto).

Wakil Sekretaris Jenderal Seknas FITRA, Ervyn Kaffah. (Foto: Lombokini.com/Harianto).

LOMBOKINI.com – Ribuan relawan dan mitra Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memadati kawasan Kantor Gubernur NTB, pada Senin (22/6). Mereka datang membawa satu pesan yang sama terkait program unggulan Presiden Prabowo Subianto itu harus tetap dilanjutkan.

Aksi tersebut menjadi penegasan dukungan publik terhadap salah satu Program Strategis Nasional (PSN) yang selama ini diklaim mampu memperbaiki kualitas gizi anak-anak dan ibu hamil sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.

Dalam aksi unjuk rasa itu, massa menyampaikan sejumlah tuntutan, mulai dari dukungan terhadap keberlanjutan MBG, percepatan peningkatan gizi masyarakat, hingga pembukaan jutaan lapangan kerja baru yang diyakini dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional.

Mereka juga mendukung upaya pemerintah memperkuat tata kelola Badan Gizi Nasional (BGN) agar tetap bersih, transparan, dan bebas dari praktik korupsi.

Di tengah gelombang dukungan tersebut, muncul pandangan berbeda dari kalangan masyarakat sipil. Sekretariat Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Seknas FITRA) mengingatkan bahwa persoalan MBG tidak berhenti pada soal dukung atau tidak mendukung program, melainkan bagaimana program itu dirancang dan dijalankan secara berkelanjutan.

Antara Dukungan Publik dan Beban Anggaran

Wakil Sekretaris Jenderal Seknas FITRA, Ervyn Kaffah, menilai diskusi mengenai MBG seharusnya bergeser dari sekadar mempertahankan program menjadi mengevaluasi konsep implementasinya.

“Diskusinya kami kira itu tidak sederhana. Diskusinya itu adalah positioning MBG sendiri ini programnya itu mungkin konsepnya perlu ditinjau kembali,” kata Ervyn.

Baca Juga :  LSM Garuda: Kami Siap Jadi Cooling System dan Jembatan Komunikasi Masyarakat-Pemerintah

Menurut dia, salah satu persoalan mendasar terletak pada pendekatan universal yang digunakan dalam program tersebut. Dengan cakupan penerima manfaat yang sangat luas, pemerintah berpotensi mengalokasikan sumber daya fiskal dalam jumlah besar yang sebenarnya juga dibutuhkan sektor lain.

“Kan tidak harus skemanya universal. Karena dengan skema universal itu dia akhirnya menarik atau menghisap seluruh sumber daya untuk kepentingan yang sebenarnya wajib juga penanganannya oleh pemerintah,” ujarnya.

Pernyataan itu muncul di tengah berbagai diskusi mengenai kebutuhan pembiayaan program-program prioritas nasional. Dalam perspektif FITRA, tantangan utama bukan hanya memastikan MBG berjalan, tetapi juga menjaga keseimbangan penggunaan anggaran negara agar tidak mengorbankan kebutuhan pembangunan lainnya.

Karena itu, Ervyn mempertanyakan apakah seluruh kelompok yang saat ini masuk dalam skema penerima manfaat memang harus mendapatkan layanan yang sama.

“Jadi perlu dilihat lagi apakah cakupan penerima manfaatnya itu segitu banyaknya? Atau memang kemudian ada skema-skema tertentu yang perlu dipikirkan targeted penerima manfaatnya,” katanya.

FITRA Dorong Skema Lebih Tepat Sasaran

FITRA menilai pemerintah sebenarnya memiliki data yang cukup untuk menentukan kelompok masyarakat yang paling membutuhkan intervensi gizi dari negara.

Menurut Ervyn, pendekatan berbasis kelompok rentan atau masyarakat berpenghasilan rendah dapat menjadi opsi untuk meningkatkan efektivitas program sekaligus menjaga kesehatan fiskal.

Baca Juga :  Dikes Lombok Timur Temukan Bakteri E-Coli Melebihi Batas Normal di Dapur MBG

“Misalnya tidak harus seluruh penerima manfaat itu seluruh siswa, tapi cari yang desil berapa yang memang dia tidak mampu, datanya sudah ada,” ujarnya.

Selain soal sasaran penerima manfaat, FITRA juga menyoroti tata kelola implementasi program. Menurut Ervyn, pemerintah dapat menggunakan berbagai model pelaksanaan pembangunan yang pernah diterapkan sebelumnya, termasuk pendekatan yang menyerupai skema Instruksi Presiden (Inpres).

Namun, ia mengingatkan bahwa pilihan model pelaksanaan apa pun harus diikuti dengan mekanisme pengawasan yang kuat dan ruang partisipasi yang terbuka.

“Misalnya skemanya meniru yang kayak Inpres dulu. Itu juga boleh menurut saya, teorinya ada. Nah cuma balik lagi nanti soal tata kelolanya bagaimana?” katanya.

Ia menilai evaluasi terhadap tata kelola menjadi penting untuk memastikan pelaksanaan program tidak terpusat pada kelompok tertentu dan tetap membuka peluang keterlibatan berbagai pihak.

“Apakah itu kemudian menutup akses pihak lain untuk terlibat dalam pelaksanaan pembangunan itu yang perlu jadi refleksi dan diskusi,” ujarnya.

Bagi FITRA, masa depan MBG bukan hanya ditentukan oleh besarnya dukungan publik atau komitmen politik pemerintah. Yang lebih penting adalah memastikan program tersebut mampu berjalan efektif, tepat sasaran, dan tidak menggerus ruang fiskal yang juga dibutuhkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan dasar masyarakat lainnya.

“Terus dipikirkan ulang konsep mengimplementasikannya. Itu yang penting menurut kami,” pungkas Ervyn.***

Penulis : Harianto

Berita Terkait

Krismon 1997-1998 Bakal Terulang Kembali? 
NTB Kirim 24.974 Sapi Kurban ke Jabodetabek, Perputaran Uang Tembus Rp 500 M
Menjelang Iduladha, Pemkab Lombok Timur Sidak Distributor dan Gelar Pasar Murah
Potensi BBNKB di Samsat Selong Capai Rp 41 Miliar per Tahun
Jamkrida NTB Syariah Dorong Akselerasi Ekonomi Lombok Timur melalui Penguatan UMKM
Asosiasi UMKM NTB Protes Keras BGN Hentikan Menu Kering MBG
Danantara Benahi Tata Kelola dan Perkuat Fondasi Keuangan BUMN
Pakar Bantah Perjanjian Dagang dengan AS Bebani Indonesia: Rakyat Butuh Pekerjaan

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 14:39 WITA

Pria Paruh Baya di Pringgasela Tewas Disayat Tetangga Menggunakan Sabit

Rabu, 17 Juni 2026 - 17:01 WITA

Warga Suryawangi Tutup Paksa Tambang Galian C Ilegal

Senin, 15 Juni 2026 - 21:42 WITA

Geger, Mayat Bayi Ditemukan Mengambang di Saluran Irigasi Desa Pijot Keruak

Jumat, 12 Juni 2026 - 07:36 WITA

Niat Usut Kasus Pelecehan, Polisi di Sembalun Malah Pergoki Tiga Pemuda Asyik Pesta Sabu

Rabu, 10 Juni 2026 - 22:55 WITA

Bangun Reputasi Lewat Integritas, Bung Heru Besarkan Seniman Hukum Law Firm di NTB

Sabtu, 6 Juni 2026 - 20:47 WITA

Progres Kasus Santri Dibakar di Batukliang, Humas Polres Loteng: Penyidik Masih Kumpulkan Bukti

Sabtu, 6 Juni 2026 - 06:28 WITA

ICJR Kritik KUHAP Baru di Forum ADVOKAI: Kewenangan Advokat Masih Sebatas Teks

Kamis, 4 Juni 2026 - 11:38 WITA

Gerebek Rumah Pengedar di Keruak, Satresnarkoba Polres Lotim Amankan Dua Pria dan Paket Sabu

Berita Terbaru