LOMBOKINI.com – Majelis Ta’lim Darunnajah Al-Irsyadi Mamben menggelar Program Ziarah Mahabbah Kubra di Lombok Timur. Kegiatan tahunan ini tidak hanya menawarkan perjalanan religi, tetapi juga berupaya menjaga ingatan kolektif masyarakat tentang sejarah ulama.
Panitia menekankan pentingnya ziarah sebagai cara merawat hubungan generasi kini dengan para pendahulu. Di tengah derasnya arus informasi, mereka menilai menjaga jejak sejarah sangat penting agar masyarakat tidak tercerabut dari akar identitasnya.
Ketua Dewan Pembina, Ustadz Ahmad Asdaruddin, menjelaskan bahwa fokus ziarah ini memiliki keterkaitan kuat dengan sanad keilmuan ulama besar Lombok.
“Kami fokuskan ziarah makam ini kepada makam orang-orang yang memiliki hubungan, baik secara nasab maupun secara sanad keilmuan, dengan TGH. Umar Kelayu,” ujar Ustadz Asdar, Selasa 31 Maret 2026.
Ia menyebut sosok TGH Umar sebagai ulama kebanggaan Lombok yang pernah menjadi imam di Masjidil Haram. Dari garis keilmuan beliau, banyak tuan guru di Lombok lahir dan menyebarkan ajaran Islam hingga ke berbagai daerah.
Panitia merangkai ziarah ini dengan mengunjungi lima makam ulama. Peserta akan memulai perjalanan dari makam TGH Muhammad Arsyad di Mamben Lauk, kemudian menuju makam TGH Khalil dan TGH Muhammad Thahir di Mamben Daya.
Selanjutnya, rombongan melanjutkan perjalanan ke makam TGH Muhammad Said di Aik Anyar, dan menutup rangkaian ziarah di makam TGH Muhammad Ali di Merta Sari.
Menariknya, di setiap titik ziarah, panitia tidak hanya mengisi kegiatan dengan doa dan tahlil, tetapi juga menghadirkan penjelasan manaqib dari zuriat atau ahli makam. Hal ini memberi ruang bagi peserta untuk memahami perjuangan para ulama dalam menyebarkan Islam dan melawan kebodohan di masa lalu.
Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada Ahad, 29 Maret 2026. Panitia memberangkatkan rombongan pukul 07.30 WITA dari Mamben.
Selain sebagai wisata religi, penyelenggara juga berharap ziarah ini dapat memperkuat persatuan umat melalui kesadaran bahwa mereka terikat dalam satu sanad keilmuan yang sama. ***
Penulis : Najamudin Anaji







