LOMBOKINI.com – Tokoh Malari 1974, Dr. Hariman Siregar, mengingatkan publik bahwa sejarah dapat terulang dalam bentuk baru saat memberi peringatan dalam acara peringatan Malari dan Hari Ulang Tahun ke-26 Ikatan Nasional Demokrat (INDEMO) di Universitas Paramadina, Jakarta Timur, Kamis 15 Januari 2026.
Dalam forum refleksi tersebut, Hariman menyatakan situasi kekinian mengulang suasana transisi demokrasi tahun 2000-an, di mana kebebasan telah terbuka tetapi institusi belum kuat menjaganya.
Ia mengakui peran Presiden ke-3 B.J. Habibie dalam membuka kran kebebasan, namun menegaskan bahwa kebebasan harus disertai pemahaman konstitusi dan etika agar tidak berubah menjadi kekacauan.
“Kebebasan itu dibuka, tapi harus disertai pemahaman konstitusi dan etika,” tegas Hariman.
Hariman menekankan pentingnya membangun negara kuat melalui institusi yang kuat, bukan sekadar konsentrasi kekuasaan. Ia menegaskan kepastian hukum harus melindungi masyarakat, bukan melindungi kekuasaan.
Selain itu, Hariman menyoroti erosi nilai rasa malu sebagai pilar moral bangsa yang menjadi rem etik terakhir ketika hukum melemah.
Tokoh senior itu juga menyerukan perang total tanpa kompromi terhadap korupsi. “Harus ada penindakan hukum yang masif terhadap pelanggaran hukum dan korupsi,” tegasnya.
Acara yang merangkai dua peristiwa penting tersebut menegaskan eksistensi dan peran masyarakat sipil sebagai penyangga demokrasi.
“Pertemuan ini membuktikan masyarakat sipil tetap ada dan eksis,” ujar Hariman menutup pernyataannya.
Peringatan Malari 1974 dan HUT INDEMO ke-26 kali ini berfungsi sebagai cermin zaman, mengajak semua pihak kembali pada esensi bernegara: menghormati konstitusi, menegakkan hukum, memperkuat institusi, dan menjaga moral publik. ***
Penulis : Najamudin Anaji







