Harga Beras dan Hukum Pasar yang Kabur

Jumat, 5 September 2025 - 15:49 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Harga Beras dan Hukum Pasar yang Kabur. (Foto: Lombokini.com/Dok. Pribadi).

Harga Beras dan Hukum Pasar yang Kabur. (Foto: Lombokini.com/Dok. Pribadi).

Oleh: Hari Bahagia

Beberapa bulan lalu, saya ikut terlibat dalam tim penelitian tentang lumbung pangan desa. Topiknya terdengar gagah, seolah-olah kami sedang merancang strategi untuk menyelamatkan peradaban dari krisis pangan global.

Tapi, alih-alih merasa heroik, saya justru sering menahan tawa getir. Soalnya, di negeri yang katanya lumbung padi ini, ironi lebih berlimpah daripada gabah di sawah.

Di berbagai forum, para pejabat tampil penuh percaya diri. Mereka memamerkan data panen raya yang katanya melimpah ruah. Angka surplus diucapkan dengan nada kemenangan, seakan kita baru saja menaklukkan kolonialisme jilid dua.

Stok beras dikabarkan aman terkendali, bahkan melampaui target. Semua gabah petani diserap Bulog dengan harga pokok pembelian Rp 6.500 per kilogram.

Kedengarannya indah. Tapi mari kita telisik sedikit. Harga itu berlaku sama rata untuk semua gabah, entah yang baru setengah kering, entah yang masih bercampur tanah, entah yang kualitasnya bagus.

Semua dihargai setara, seperti prinsip kesetaraan dalam demokrasi. Bedanya, di sini kesetaraan justru membuat petani sama-sama mengeluh.

Sebab setelah gabah berpindah tangan, para petani mendadak ingat daftar pengeluaran biaya pupuk, sewa traktor, obat hama, upah buruh, dan tentu saja cicilan motor anak sulung yang dipakai kuliah di kota. Rp6.500 itu jadi terasa pas-pasan.

Akhirnya mereka hanya bisa tersenyum sebentar di depan petugas Bulog, lalu kembali ke rumah dengan wajah yang sama legam oleh debu sawah – plus pikiran yang makin kusut.

Yang bikin lebih kocak sekaligus menyedihkan, di televisi kita disuguhi wajah pejabat yang tersenyum lebar. Mereka menunjukkan grafik berwarna biru dan merah, garis naik turun yang entah kenapa mirip detak jantung pasien ICU. Bedanya, kalau pasien bisa gagal jantung, rakyat bisa gagal makan.

Baca Juga :  Swasembada Pangan di Lombok Timur: Apakah Sudah Tercapai?

Ekonomi Pasar Cuti Bersama

O ya, jangan lupa jargon! Di negeri ini, jargon adalah menu sehari-hari. Kita akrab dengan istilah “ketahanan pangan”, “kemandirian pangan”, “kedaulatan pangan”. Semuanya terdengar nyaring, heroik, bahkan nasionalis. Cocok untuk pidato, cocok untuk baliho.

Tapi kalau masuk dapur rakyat, ya yang ada tetap mie instan yang direbus dengan air pas-pasan. Rakyat pun belajar bahwa kedaulatan bukan soal kenyang, melainkan soal retorika.

Di desa, lumbung pangan memang masih ada. Bentuknya bagus, kadang hasil program pemerintah, dicat warna mencolok. Tapi jangan bayangkan penuh padi. Isinya sering cuma karung kosong yang menunggu diisi.

Ironisnya, yang justru penuh adalah baliho bertuliskan “Ketahanan Pangan Menuju Indonesia Emas 2045”. Seolah-olah karung kosong bisa berubah jadi beras hanya dengan melihat baliho.

Pertanyaan klasik pun muncul: kalau stok surplus, kenapa harga di pasar tetap bikin ibu-ibu sesak napas saat belanja di kios sembako? Bukankah logika ekonomi dasar bilang kalau barang melimpah, harga mestinya turun? Jangan-jangan hukum pasar sedang cuti bersama, atau sudah pindah domisili ke negara tetangga.

Saya jadi teringat dengan obrolan dua orang ibu rumah tangga di warung sembako. Katanya, harga beras makin bikin pening. “Katanya surplus, tapi kok kantong saya defisit?” ujarnya sambil tertawa getir. Dalam hatinya, tentu dia tidak sedang bercanda.

Lebih jauh lagi, ironi ini sebenarnya mengajarkan sesuatu. Negeri kita jago sekali menghitung angka, membuat laporan, dan merancang grafik. Tapi begitu menyangkut rasa kenyang, kita sering kalah oleh seporsi nasi bungkus sederhana. Surplus angka tidak otomatis berarti surplus kenyang.

Baca Juga :  Urgensi Muktamar Ke-35 NU di Lombok

Lucunya, fenomena ini bukan sekali dua kali terjadi. Hampir setiap tahun kita mendengar kabar panen raya dan surplus, tapi hampir setiap tahun juga harga beras naik.

Rasanya seperti menonton sinetron dengan alur berulang, plot twist-nya bisa ditebak, tapi kita tetap menonton karena tidak ada tontonan lain.

Barangkali masalahnya memang bukan pada sawah atau petani, melainkan pada sistem distribusi dan tata kelola. Gabah petani mengalir ke gudang, tapi beras di pasar tetap jadi barang mewah. Entah di mana titik bocornya, yang jelas rakyat cuma kebagian dampaknya.

Pada akhirnya, saya jadi berpikir, mungkin kita ini memang negara yang lebih ahli mencetak jargon ketimbang mencetak kenyang. Kita punya surplus istilah, defisit solusi. Kita punya surplus data, defisit logika. Kita punya surplus baliho, defisit beras murah.

Jadi, kalau suatu hari Anda mendengar pejabat berkata bahwa stok beras aman terkendali, jangan buru-buru percaya. Cobalah tes kecil dengan buka dompet, pergi ke pasar, tanyakan harga beras. Kalau Anda pulang dengan wajah pucat dan hanya mampu membeli mie instan, berarti Anda sudah lulus ujian realitas.

Surplus angka tak akan pernah mengenyangkan perut. Yang membuat kenyang adalah nasi di piring, bukan grafik di layar proyektor. Selama hukum pasar masih hobi cuti, rakyat tetap akan belajar satu hal: ironi bisa jadi lauk sehari-hari, meski tidak bikin kenyang.***

 

Penulis adalah Pegiat di Nusa Artivisme

Penulis : Hari Bahagia

Berita Terkait

Swasembada Pangan di Lombok Timur: Apakah Sudah Tercapai?
Merintih dari Tanah: Catatan H Rachmat Hidayat Tentang Pangan, Rakyat, dan Masa Depan
Urgensi Muktamar Ke-35 NU di Lombok
Perampingan Birokrasi NTB: Jalan Senyap Menuju Pemerintahan yang Lebih Substantif
Watak Jahat Mengurus Kebudayaan
Program ‘Ngopi’ di UIN Mataram: Ilmuwan Populis atau Ilmuwan Publik
Melankolia Musik Pop Sasak: Kehilangan yang Tidak Pernah Selesai
Lombok Barat: Kabupaten Pariwisata yang Makin Tertinggal?

Berita Terkait

Senin, 13 April 2026 - 13:23 WITA

Pengamat: Tagline ‘Kolotan’ Sekda NTB Kontraproduktif

Jumat, 10 April 2026 - 12:55 WITA

Urgensi Muktamar Ke-35 NU di Lombok

Kamis, 9 April 2026 - 21:06 WITA

Nursalim Sebut Ada Perintah ‘Gubernur Iqbal’ di Balik Munculnya Kasus Gratifikasi Dana Siluman DPRD NTB

Kamis, 9 April 2026 - 20:35 WITA

Asosiasi UMKM NTB Protes Keras BGN Hentikan Menu Kering MBG

Kamis, 9 April 2026 - 18:07 WITA

Iqbal Lantik Abul Chair sebagai Sekda NTB dan 13 Pejabat Eselon II

Rabu, 8 April 2026 - 18:44 WITA

Dukung Perpres Lahan Sawah, Didu: Jangan Sampai Tersandung Data Bermasalah

Minggu, 8 Maret 2026 - 22:17 WITA

LSM dan Mahasiswa NTB Bakal Gelar Unjuk Rasa Desak Pengusutan Dugaan Mark Up Anggaran MBG

Senin, 2 Maret 2026 - 04:35 WITA

Target Rasio Gini NTB 2029 Tercapai Lebih Cepat pada 2025

Berita Terbaru

Bupati Lombok Timur Haerul Warisin menghadiri panen padi kemitraan bersama PT Agrinas dan mengajak petani mendukung kemandirian pangan di Desa Montong Baan, Kecamatan Sikur, Kamis 13 Maret 2025. (Foto: Lombokini.com).

Opini

Swasembada Pangan di Lombok Timur: Apakah Sudah Tercapai?

Rabu, 22 Apr 2026 - 10:52 WITA