Ketua Umum HMI MPO Cabang Lombok Timur, Agamawan Salam. (Foto: Lombokini.com).
Ralat berita “Dua Kader Himmah NWDI Luka Berat Usai Bentrok dengan Aparat di Kantor Bupati Lombok Timur”.
Judul berita yang benar adalah “Kekerasan Aparat Lukai Kader HMI dan Himmah NWDI di Kantor Bupati Lotim”.
Bima Tiar Kader HMI Cabang Lombok Timur dan Mariadi kader Himmah NWDI saat menjalani perawatan di IGD RSUD Selong, Kamis 22 Januari 2026 malam. (Foto: Lombokini.com).
LOMBOKINI.com – Bentrokan antara aparat dan pengunjuk rasa melukai dua mahasiswa di halaman Kantor Bupati Lombok Timur, Kamis 22 Januari 2026. Kedua korban mengalami luka serius dan harus dilarikan ke rumah sakit.
Aksi Damai Berujung Ricuh
Ratusan massa dari Koalisi Rakyat Lombok Timur mendatangi kantor bupati untuk menuntut dialog langsung dengan Bupati Haerul Warisin.
Mereka menilai kepemimpinan daerah gagal memenuhi janji transparansi dan keadilan sesuai visi Lombok Timur Smart. Aparat keamanan kemudian membubarkan paksa aksi unjuk rasa tersebut.
Kondisi Korban: Jahitan hingga Serpihan Logam
Bentrokan itu melukai dua mahasiswa, yaitu Mariadi, kader Himpunan Mahasiswa Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (Himmah NWDI), dan Bima Tiar. Tim medis IGD RSUD dr. R. Soedjono Selong merawat Bima Tiar yang mendapat tujuh jahitan di pelipis. Sementara Mariadi menderita luka robek di mulut, kehilangan tiga gigi, dan satu gigi patah. Pihak medis juga menemukan serpihan logam tertanam di gusi Mariadi.
Klaim awal menyebut kedua korban merupakan kader Himmah NWDI. Namun, Ketua Umum HMI MPO Cabang Lombok Timur, Agamawan Salam, mengonfirmasi kepada Lombokini.com, Sabtu 24 Januari 2026, bahwa Bima Tiar adalah kader HMI.
“Korban kekerasan aparat atas nama Bima Tiar merupakan kader HMI Cabang Lombok Timur, bukan kader Himmah NWDI,” tegasnya.
HMI mengecam tindakan aparat sebagai tindakan biadab terhadap kader yang beraksi damai. HMI menuding Bupati Haerul Warisin absen dan lepas tanggung jawab sehingga memicu eskalasi kekerasan.
“Ketika pemimpin absen dari ruang dialog, aparat sering kali mengisi kekosongan itu dengan kekerasan,” ujarnya.
Tuntutan Tanggung Jawab dan Ancaman Aksi Lanjutan
HMI Cabang Lombok Timur mendesak Bupati Haerul Warisin dan Wakil Bupati Edwin Hadiwijaya bertanggung jawab penuh atas insiden tersebut. Mereka juga menuntut evaluasi menyeluruh terhadap prosedur dan tindakan aparat di lapangan.
Agamawan Salam menyatakan peristiwa ini menambah daftar korban kekerasan setelah seorang kader PMII mengalami luka robek di pelipisnya pada Selasa (20/1). Total korban bentrok dalam aksi unjuk rasa pekan ini menjadi tiga orang.
“Pemerintahan dengan visi Lombok Timur Smart kini hanya menyisakan duka mendalam di Gumi Patuh Karya,” pungkasnya.
Sebagai konsekuensi, HMI mengancam akan menggelar aksi besar-besaran jilid III di kantor Bupati Lombok Timur jika tuntutan mereka tidak dipenuhi. ***