LOMBOKINI.com – Direktur Mi6 Bambang Mei Finarwanto mendorong kader muda agar berani maju sebagai kandidat kepala daerah pada Pilkada 2029. Ia menyebut hal itu sebagai kebutuhan mendesak untuk menjaga demokrasi yang sehat dan adaptif.
“Membuka ruang luas bagi kader muda menjadi prasyarat utama lahirnya demokrasi yang hidup, adaptif, dan berkelanjutan,” ujarnya di Mataram, Sabtu 11 April 2026.
Analis politik NTB yang akrab disapa Didu itu menegaskan, tanpa keberanian memberi panggung kepada generasi baru, NTB hanya akan mengulang pola lama yang stagnan. Kekuasaan akan berputar pada figur yang sama sementara tantangan zaman terus berubah.
“Regenerasi bukan sekadar pergantian usia, tetapi pembaruan cara pandang, energi, dan keberanian menghadirkan solusi relevan bagi masa depan daerah,” tandas Didu.
Mantan Eksekutif Daerah WALHI NTB itu mengungkapkan, tantangan pembangunan daerah semakin kompleks dan tuntutan masyarakat kian tinggi. Karena itu, kebutuhan akan kepemimpinan yang adaptif, inovatif, dan berintegritas semakin mendesak.
Didu melihat stagnasi dalam kontestasi politik lokal. Figur-figur yang sama terus mendominasi panggung Pilkada dari periode ke periode. Kondisi ini, menurutnya, tidak hanya menghambat gagasan baru tetapi juga menurunkan kualitas kompetisi politik.
“Jika ruang kontestasi hanya diisi aktor yang sama, maka yang terjadi bukan kompetisi gagasan, melainkan sekadar pengulangan pola. Demokrasi kehilangan daya dorong sebagai mekanisme perubahan,” tegas Didu.
Ia menjelaskan, kader muda memiliki keunggulan relevan dengan kebutuhan zaman: adaptif terhadap teknologi dan informasi, serta memiliki perspektif terbuka terhadap inovasi kebijakan publik. Generasi muda juga lebih dekat dengan kelompok demografis produktif yang mendominasi struktur penduduk NTB.
Namun, Didu mengakui jalan bagi kader muda tidak mudah. Hambatan utama terletak pada mekanisme rekrutmen politik internal partai yang pragmatis. Partai lebih memilih kandidat populer ketimbang memberi kesempatan kepada kader muda.
“Partai politik sering terjebak logika jangka pendek. Padahal, jika ingin menjaga keberlanjutan organisasi dan demokrasi, mereka harus berani berinvestasi pada kaderisasi,” ujarnya.
Didu juga meminta para tokoh senior bersikap legowo. Ia menekankan, regenerasi kepemimpinan adalah proses alami yang perlu didukung, bukan dihambat.
“Sudah saatnya para senior mengambil peran sebagai pembimbing. Memberi ruang, membuka akses jaringan, serta mentransfer pengalaman. Ini bukan soal kehilangan panggung, tetapi tentang memastikan kesinambungan kepemimpinan,” katanya.
Dinasti Politik Jadi Tantangan
Didu mengkritisi praktik dinasti politik yang masih kuat di sejumlah daerah. Fenomena itu mempersempit ruang kompetisi bagi kader muda. Ketika akses kekuasaan hanya berputar di lingkar keluarga tertentu, prinsip meritokrasi sulit terwujud.
“Dinasti politik harusnya mendistribusikan peluang. Jika sejak awal tidak setara, maka hasil akhir sulit mencerminkan kualitas terbaik,” ujarnya.
Ia menegaskan, Pilkada 2029 harus menjadi titik balik untuk mengurangi dominasi dinasti politik melalui reformasi internal partai, peningkatan literasi politik masyarakat, dan penguatan regulasi.
Didu juga menyoroti pentingnya pendekatan representasi dalam pasangan calon, terutama mencerminkan keberagaman sosial di NTB. Hal itu penting untuk menjaga kohesi sosial dan membangun legitimasi politik.
“Jika kita ingin demokrasi daerah lebih berkualitas, maka kita harus berani berubah. Memberi ruang bagi kader muda sebuah keharusan. Tanpa itu, kita hanya akan terjebak dalam siklus lama yang tidak membawa kemajuan berarti,” pungkasnya. ***
Penulis : Najamudin Anaji







