Mi6 Dorong Figur dari Lombok Tengah Selatan Berani Maju di Pilkada 2029

Senin, 11 Mei 2026 - 17:35 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto, S.H. (Foto: Lombokini.com/Istimewa).

Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto, S.H. (Foto: Lombokini.com/Istimewa).

LOMBOKINI.com – Lembaga Kajian Sosial dan Politik Mi6 mendorong figur-figur potensial dari wilayah selatan Kabupaten Lombok Tengah agar berani tampil memperebutkan posisi kepala daerah. Mi6 menilai masyarakat kini harus menempatkan konstruksi sosial politik “Lauk Kawat” dan “Dayen Kawat” sebagai bagian dari sejarah, bukan lagi batas tak tertulis yang menentukan kepemimpinan daerah.

“Masa depan Lombok Tengah harus dibangun dengan kesetaraan. Sudah saatnya figur-figur dari wilayah selatan memiliki keberanian tampil sebagai calon pemimpin utama, bukan sekadar pelengkap komposisi politik,” kata Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto, di Mataram, Senin 11 Mei 2026.

Analis politik yang akrab disapa Didu ini menegaskan, ruang politik yang lebih setara dan inklusif harus hadir di Gumi Tatas Tuhu Trasna. Ruang politik itu harus berbasis kapasitas kepemimpinan, bukan warisan pembagian geografis lama.

Didu tidak menampik, dinamika politik Lombok Tengah selama ini erat kaitannya dengan istilah “Lauk Kawat” dan “Dayen Kawat”. Lauk Kawat merujuk pada kawasan selatan yang identik dengan daerah pesisir, kering, namun memiliki pantai indah. Dayen Kawat merujuk pada kawasan utara yang subur, hijau, dan dikenal sebagai lumbung pangan.

Dalam praktik politik, masyarakat sering menjadikan pembacaan “Lauk Kawat” dan “Dayen Kawat” sebagai formula tidak tertulis dalam menentukan pasangan kepala daerah. Namun faktanya, posisi bupati selalu berasal dari kawasan “Dayen Kawat”, sementara “Lauk Kawat” hanya menduduki posisi wakil.

Didu menilai pola semacam itu merupakan realitas politik historis yang lahir dari proses sosial masyarakat di masa lalu. Namun perkembangan zaman telah membawa perubahan besar terhadap cara masyarakat memandang kepemimpinan.

Menurut Didu, masyarakat kini semakin rasional dan terbuka dalam menentukan pilihan politik. Faktor asal wilayah tidak lagi menjadi pertimbangan utama. Publik lebih mengutamakan kapasitas, integritas, rekam jejak, dan kemampuan pemimpin menghadirkan solusi atas persoalan daerah.

“Atas nama demokrasi, jangan ada lagi wilayah yang merasa hanya ditakdirkan menjadi pelengkap kekuasaan,” tandas Didu.

Mantan eksekutif daerah WALHI NTB dua periode ini menegaskan, langkah Mi6 mendorong figur selatan sama sekali tidak membangun sekat baru antara masyarakat selatan dan utara. Mi6 justru memandang bahwa dikotomi “Lauk Kawat” dan “Dayen Kawat” perlu ditempatkan sebagai bagian dari sejarah sosial-politik daerah. Masyarakat tidak perlu lagi mempertajam dikotomi itu dalam praktik demokrasi modern.

Baca Juga :  Haerul Warisin Tegaskan Jangan Seret Gerindra ke Kasus LAZ

“Ini bukan soal membelah masyarakat atau mempertentangkan utara dan selatan. Yang ingin kami dorong adalah kesetaraan kesempatan politik. Semua putra-putri terbaik Lombok Tengah memiliki hak yang sama untuk tampil memimpin,” tegasnya.

Didu menilai, munculnya figur dari selatan sebagai calon bupati akan menjadi indikator semakin matangnya demokrasi di Lombok Tengah. Sebab, demokrasi yang sehat memberi ruang yang sama kepada siapa pun tanpa dibatasi latar geografis.

Kawasan selatan Lombok Tengah saat ini juga telah mengalami transformasi besar. Kehadiran kawasan ekonomi khusus pariwisata, pembangunan infrastruktur, pertumbuhan investasi, hingga meningkatnya konektivitas wilayah membuat selatan tidak lagi layak dipandang sebagai daerah pinggiran.

“Selatan hari ini bukan lagi wilayah yang berada di belakang. Pertumbuhan ekonomi baru justru banyak bergerak di kawasan selatan. Pariwisata internasional dan infrastruktur berkembang di sana. Ini melahirkan sumber daya manusia dan kelas sosial baru yang lebih percaya diri,” kata Didu.

Secara demografis, kawasan selatan Lombok Tengah memiliki jumlah penduduk yang relatif besar, bahkan lebih tinggi dibanding sebagian kawasan utara, meski selisihnya tidak signifikan. Kondisi ini menjadi modal sosial dan politik yang cukup kuat bagi lahirnya figur kepemimpinan baru dari selatan.

Namun, Didu mengingatkan bahwa modal geografis dan demografis saja tidak cukup. Figur yang ingin tampil di Pilkada 2029 tetap harus membangun kapasitas, jaringan sosial, komunikasi politik, dan gagasan pembangunan yang kuat untuk Lombok Tengah secara keseluruhan. Menurut Didu, kawasan selatan tidak kekurangan figur.

“Masyarakat Lombok Tengah sekarang membutuhkan pemimpin yang mampu menyatukan daerah ini dan membawanya melompat lebih maju, bukan sekadar figur selatan atau utara,” ujarnya.

Generasi Muda Bisa Patahkan Pola Lama

Didu mengungkapkan, generasi muda Lombok Tengah memiliki peluang besar mematahkan pola-pola lama politik daerah yang terlalu bertumpu pada pembacaan geografis. Anak-anak muda saat ini tumbuh dalam situasi sosial yang jauh lebih terbuka, cair, dan egaliter dibanding generasi sebelumnya.

Baca Juga :  DPD PDIP NTB Peringati 30 Tahun Kudatuli, Refleksi Perjuangan Demokrasi

Karena itu, Pilkada 2029 bisa menjadi momentum penting lahirnya politik baru yang lebih modern di Lombok Tengah. Politik yang tidak lagi dibangun di atas sekat wilayah, tetapi di atas pertarungan ide, kapasitas, dan visi pembangunan.

“Generasi muda hari ini lebih melihat kompetensi daripada sekadar asal kawasan. Mereka ingin pemimpin yang punya gagasan, energi, dan mampu bekerja. Ini momentum yang sangat baik untuk menghadirkan kepemimpinan yang lebih progresif,” katanya.

Didu juga menyoroti bahwa pembangunan Lombok Tengah ke depan membutuhkan pemimpin yang memahami perubahan sosial-ekonomi yang berlangsung sangat cepat. Apalagi Lombok Tengah kini menjadi salah satu pusat pertumbuhan strategis di NTB, terutama dengan perkembangan pariwisata dan ekonomi kreatif.

Tantangan Lombok Tengah ke depan tidak ringan. Selain menjaga keseimbangan pembangunan antarwilayah, daerah ini juga menghadapi tantangan urbanisasi, tekanan investasi, transformasi sosial, hingga peningkatan kualitas SDM. Karena itu, Didu menilai kepemimpinan Lombok Tengah tidak bisa lagi hanya bertumpu pada pola politik tradisional.

“Daerah ini membutuhkan pemimpin dengan perspektif baru. Pemimpin yang mampu membaca perubahan global, mengelola investasi tanpa meninggalkan masyarakat lokal, dan menjaga harmoni sosial di tengah percepatan pembangunan,” katanya.

Didu berpandangan, jika figur-figur dari wilayah selatan mulai berani tampil sebagai calon pemimpin utama, hal itu justru akan memperkaya kualitas demokrasi di Gumi Tatas Tuhu Trasna. Masyarakat akan memiliki lebih banyak alternatif pilihan, sementara kompetisi politik akan berlangsung lebih sehat dan terbuka.

“Demokrasi yang baik itu ketika semua orang merasa punya kesempatan yang sama. Ketika tidak ada lagi perasaan bahwa wilayah tertentu hanya pantas menjadi pelengkap,” ujar Didu.

Kendati begitu, masyarakatlah yang pada akhirnya menentukan pemimpin terbaik bagi Lombok Tengah. Namun tugas semua elemen masyarakat, termasuk kelompok intelektual dan civil society, adalah memastikan ruang demokrasi tetap terbuka dan memberi kesempatan adil bagi semua figur potensial.

“Lombok Tengah harus bergerak menuju politik yang lebih dewasa. Politik yang tidak lagi terjebak pada sekat lama, tetapi fokus pada kualitas kepemimpinan dan masa depan daerah,” tutupnya. ***

Penulis : Najamudin Anaji

Berita Terkait

Haerul Warisin Tegaskan Jangan Seret Gerindra ke Kasus LAZ
DPD PDIP NTB Peringati 30 Tahun Kudatuli, Refleksi Perjuangan Demokrasi
Rumah Aspirasi Lombok Timur Diresmikan, Rachmat Hidayat: Kawal Keluhan Warga hingga Tuntas
PDIP Lombok Tengah Gelar Donor Darah dan Pengobatan Gratis Peringati Bulan Bung Karno
Pemkab, DPRD, dan FKKD Sepakati Pilkades Serentak Lombok Timur Digelar 27 Januari 2027
DPRD Sebut Pelayanan Kesehatan di Lombok Timur Masih Jauh dari Ideal
Komisi IV DPRD Soroti ‘Darurat Data’ Infrastruktur, Anggaran Lombok Timur Terancam Meleset
Mori Hanafi Dinilai Miliki Modal Politik Mengilap untuk Pilgub NTB 2029

Berita Terkait

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:39 WITA

Bapenda Lombok Timur Luruskan Redaksi SPPT PBB: Rumah Wajib Pajak Tidak Akan Disita

Selasa, 28 Juli 2026 - 19:07 WITA

KPK Pantau Implementasi Desa Antikorupsi di Lombok Timur

Senin, 27 Juli 2026 - 12:11 WITA

KPK Geledah Rumah Kontraktor di Lombok Timur Terkait OTT Bupati Lombok Barat, Pemilik Rumah Buka Suara

Minggu, 19 Juli 2026 - 19:37 WITA

Koresponden tvOne Datangi Ponpes Al-Ishlahuddiny dan Sampaikan Maaf atas Polemik Pemberitaan

Kamis, 16 Juli 2026 - 20:20 WITA

Kapolres Lotim AKBP Ariakta Awali Masa Jabatan dengan Silaturahmi ke PBNW dan PB NWDI

Rabu, 15 Juli 2026 - 19:42 WITA

Gubernur NTB Dukung Penuh Pelaksanaan UKW SMSI 28-29 Juli

Rabu, 15 Juli 2026 - 12:19 WITA

Bupati Lotim Lepas Dandim dan Kapolres Lama, Sambut Pejabat Baru

Rabu, 15 Juli 2026 - 09:07 WITA

BAZNAS Lotim Klarifikasi Pernyataan Anggota Dewan Syariah Soal Zakat DPRD

Berita Terbaru

Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Lombok Timur, H. Haerul Warisin. (Foto: Lombokini.com/Paozan Azima).

Politik

Haerul Warisin Tegaskan Jangan Seret Gerindra ke Kasus LAZ

Senin, 3 Agu 2026 - 22:42 WITA

PT Amman Mineral International Tbk mengoperasikan smelter peleburan bijih tambang di Maluk, Kecamatan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. (Foto: Lombokini.com/Amman.co.id).

Opini

Beroperasinya Smelter PT. AMMAN: Renegoisasi Royalti 

Jumat, 31 Jul 2026 - 07:46 WITA