LOMBOKINI.com — Menulis kerap kali dipandang hanya sebagai aktivitas merangkai kata di atas kertas. Namun, bagi AS Rosyid, seorang esais dan pegiat ekoliterasi asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), menulis memiliki dimensi yang jauh lebih dalam, yakni sebagai sebuah proses kreatif yang tak ubahnya dengan bertukang, sekaligus medium meditatif untuk merapikan isi kepala.
Pandangan tersebut disampaikan AS Rosyid saat menjadi narasumber dalam acara daring bertajuk “Expressive Writing: Menyang Rasa dalam Aksara” yang digelar pada Sabtu, 13 Juni 2026.
Dalam pemaparannya, ia membedah secara mendalam bagaimana proses menulis dan meditasi sama-sama membutuhkan fondasi pikiran yang baik sebagai modal dasar terapi mandiri.
Menulis: Solidaritas Alam Pikir
Mengawali materinya dengan tajuk “Menulis yang Baik adalah Berpikir yang Baik”, penulis yang telah melahirkan lima buku ini menganalogikan aktivitas menulis seperti seorang perajin atau tukang mebel.
Menurutnya, pengalaman selama belasan tahun sebagai penulis membentuk keyakinan bahwa setiap kalimat harus ditatah dengan cermat agar menghasilkan karya yang fungsional sekaligus indah.
“Menulis itu tak ubahnya seperti tukang. Saya harus menatah kalimat agar semakin solid, sebagaimana seniman mebel bikin kursi. Bukan cuma duduknya harus kuat, tapi kursinya juga harus terukir indah,” ujar Rosyid menyampaikan analoginya.
Bagi Rosyid, prinsip dasar yang harus dipahami adalah bahwa menulis identik dengan berpikir. Logika liniernya sederhana: karena menulis adalah bentuk manifestasi dari proses berpikir, maka menulis dengan baik secara otomatis merefleksikan cara berpikir yang baik pula. Hubungan kausalitas inilah yang kemudian menjadikan berpikir yang baik sebagai modal dasar bagi sebuah terapi yang efektif.
Ledakan Emosi dan Kontrol Pikiran
Dalam konteks penulisan ekspresif (expressive writing) yang biasa digunakan dalam metode penyembuhan atau terapi emosional, Rosyid tidak menampik adanya teknik “meledakkan emosi”.
Teknik ini membebaskan seseorang untuk menuliskan apa saja tanpa memedulikan kaidah kebahasaan, terutama melalui tulisan tangan, guna menumpahkan seluruh kekacauan batin ke atas kertas.
Meski demikian, Rosyid menekankan bahwa proses tersebut tidak berhenti pada tahap luapan emosi semata. Sesaat setelah tulisan tersebut selesai dan dibaca kembali, manusia secara natural akan kembali pada proses kognitif untuk mengevaluasi apa yang telah ditulis.
“Bahkan saat meledakkan emosi ke kertas tanpa memedulikan kaidah, sesaat setelah membacanya, kita tetap butuh proses berpikir untuk mengevaluasinya. Nature kita akan tetap kembali ke proses berpikir,” jelasnya.
Proses terapi ini akan menjadi jauh lebih efektif apabila sejak awal penulis mampu mengontrol gerak pikirannya secara langsung saat pena mulai digoreskan. Dengan mengontrol pikiran secara sadar, kekacauan emosi dapat diurai secara lebih sistematis.
Tradisi Meditatif: Bukan Mengosongkan Pikiran
Meskipun tidak berangkat dari latar belakang ilmu psikologi formal, Rosyid mengaku banyak bersentuhan dengan berbagai pendekatan meditatif.
Pengalaman spiritualnya cukup beragam, mulai dari mendalami sufisme Islam, menjadi santri dalam kurun waktu yang lama di sebuah wihara untuk belajar langsung kepada para biksu Buddha, hingga mempelajari konsep filosofis para Yogi dalam tradisi Hindu.
Dari pengembaraan lintas tradisi tersebut, Rosyid meluruskan miskonsepsi umum mengenai meditasi. Bagi dia, meditasi bukanlah sebuah upaya untuk mengosongkan pikiran dari segala hal, melainkan sebuah momen di mana seseorang justru berhadapan langsung dengan dinamika pikirannya sendiri.
“Meditasi itu bukan mengosongkan pikiran. Justru kita lakukan adalah berjibaku dengan pikiran dan musuh-musuh yang mengendap di alam bawah sadar,” tegas Rosyid.
Ia kemudian mencontohkan esensi ritual ibadah seperti wirid atau zikir dalam tradisi sufi. Puncak dari zikir yang benar, menurut pandangannya, bukanlah sekadar pengulangan kata atau pelafalan asma Allah secara mekanis tanpa penghayatan.
Sebaliknya, zikir yang substansial harus mampu melahirkan kesadaran penuh untuk melawan ego dan meniadakan keakuan (ke-egoan).
Atas dasar filosofi kesadaran penuh tersebut, Rosyid secara jujur menyampaikan kritik pribadinya terhadap praktik zikir yang bersifat mekanis atau menggunakan hitungan paket tertentu yang kaku.
“Saya kurang setuju dengan zikir yang dipaket harus berapa kali, karena jadinya tidak lepas dan kurang jujur jika mengucapkan sesuatu tanpa kesadaran,” tuturnya.
Merapikan Tulisan untuk Merapikan Pikiran
Hal serupa juga ditemui dalam praktik para Yogi yang mendalami yoga dari sudut pandang filosofis, bukan sekadar olahraga fisik. Pada akhirnya, seluruh tradisi meditatif tersebut bermuara pada kesimpulan bahwa kemampuan berpikir yang baik adalah modalitas awal yang mutlak diperlukan untuk melakukan terapi mandiri.
Sebagai penutup, pegiat ekoliterasi ini mengajak peserta untuk membalik cara pandang konvensional dalam menulis. Jika selama ini orang berpikir bahwa pikiran yang rapi menghasilkan tulisan yang rapi, maka dalam konteks terapeutik, tindakan menulis itu sendirilah yang menjadi alatnya.
“Berpikir yang baik adalah modalitas awal terapi. Kita balik prosesnya: merapikan tulisan untuk merapikan pikiran,” pungkas Rosyid mengakhiri sesi pertama materinya itu.
Penulis : Paozan Azima







