Menulis untuk Merapikan Pikiran, Begitu Modal Dasar Meditasi yang Baik

Minggu, 12 Juli 2026 - 06:18 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

AS Rosyid saat memaparkan materinya dalam zoom (sc.)

AS Rosyid saat memaparkan materinya dalam zoom (sc.)

 

LOMBOKINI.com — Menulis kerap kali dipandang hanya sebagai aktivitas merangkai kata di atas kertas. Namun, bagi AS Rosyid, seorang esais dan pegiat ekoliterasi asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), menulis memiliki dimensi yang jauh lebih dalam, yakni sebagai sebuah proses kreatif yang tak ubahnya dengan bertukang, sekaligus medium meditatif untuk merapikan isi kepala.

Pandangan tersebut disampaikan AS Rosyid saat menjadi narasumber dalam acara daring bertajuk “Expressive Writing: Menyang Rasa dalam Aksara” yang digelar pada Sabtu, 13 Juni 2026.

Dalam pemaparannya, ia membedah secara mendalam bagaimana proses menulis dan meditasi sama-sama membutuhkan fondasi pikiran yang baik sebagai modal dasar terapi mandiri.

 

Menulis: Solidaritas Alam Pikir

Mengawali materinya dengan tajuk “Menulis yang Baik adalah Berpikir yang Baik”, penulis yang telah melahirkan lima buku ini menganalogikan aktivitas menulis seperti seorang perajin atau tukang mebel.

Menurutnya, pengalaman selama belasan tahun sebagai penulis membentuk keyakinan bahwa setiap kalimat harus ditatah dengan cermat agar menghasilkan karya yang fungsional sekaligus indah.

“Menulis itu tak ubahnya seperti tukang. Saya harus menatah kalimat agar semakin solid, sebagaimana seniman mebel bikin kursi. Bukan cuma duduknya harus kuat, tapi kursinya juga harus terukir indah,” ujar Rosyid menyampaikan analoginya.

Bagi Rosyid, prinsip dasar yang harus dipahami adalah bahwa menulis identik dengan berpikir. Logika liniernya sederhana: karena menulis adalah bentuk manifestasi dari proses berpikir, maka menulis dengan baik secara otomatis merefleksikan cara berpikir yang baik pula. Hubungan kausalitas inilah yang kemudian menjadikan berpikir yang baik sebagai modal dasar bagi sebuah terapi yang efektif.

Baca Juga :  Gigaduka: Penderitaan Modern dari Akal Imitasi (AI)

 

Ledakan Emosi dan Kontrol Pikiran

Dalam konteks penulisan ekspresif (expressive writing) yang biasa digunakan dalam metode penyembuhan atau terapi emosional, Rosyid tidak menampik adanya teknik “meledakkan emosi”.

Teknik ini membebaskan seseorang untuk menuliskan apa saja tanpa memedulikan kaidah kebahasaan, terutama melalui tulisan tangan, guna menumpahkan seluruh kekacauan batin ke atas kertas.

Meski demikian, Rosyid menekankan bahwa proses tersebut tidak berhenti pada tahap luapan emosi semata. Sesaat setelah tulisan tersebut selesai dan dibaca kembali, manusia secara natural akan kembali pada proses kognitif untuk mengevaluasi apa yang telah ditulis.

“Bahkan saat meledakkan emosi ke kertas tanpa memedulikan kaidah, sesaat setelah membacanya, kita tetap butuh proses berpikir untuk mengevaluasinya. Nature kita akan tetap kembali ke proses berpikir,” jelasnya.

Proses terapi ini akan menjadi jauh lebih efektif apabila sejak awal penulis mampu mengontrol gerak pikirannya secara langsung saat pena mulai digoreskan. Dengan mengontrol pikiran secara sadar, kekacauan emosi dapat diurai secara lebih sistematis.

 

Tradisi Meditatif: Bukan Mengosongkan Pikiran

Meskipun tidak berangkat dari latar belakang ilmu psikologi formal, Rosyid mengaku banyak bersentuhan dengan berbagai pendekatan meditatif.

Pengalaman spiritualnya cukup beragam, mulai dari mendalami sufisme Islam, menjadi santri dalam kurun waktu yang lama di sebuah wihara untuk belajar langsung kepada para biksu Buddha, hingga mempelajari konsep filosofis para Yogi dalam tradisi Hindu.

Dari pengembaraan lintas tradisi tersebut, Rosyid meluruskan miskonsepsi umum mengenai meditasi. Bagi dia, meditasi bukanlah sebuah upaya untuk mengosongkan pikiran dari segala hal, melainkan sebuah momen di mana seseorang justru berhadapan langsung dengan dinamika pikirannya sendiri.

Baca Juga :  Sastra Menjadi ‘Suaka’ di Tengah Absurditas Era Digitalisasi

“Meditasi itu bukan mengosongkan pikiran. Justru kita lakukan adalah berjibaku dengan pikiran dan musuh-musuh yang mengendap di alam bawah sadar,” tegas Rosyid.

Ia kemudian mencontohkan esensi ritual ibadah seperti wirid atau zikir dalam tradisi sufi. Puncak dari zikir yang benar, menurut pandangannya, bukanlah sekadar pengulangan kata atau pelafalan asma Allah secara mekanis tanpa penghayatan.

Sebaliknya, zikir yang substansial harus mampu melahirkan kesadaran penuh untuk melawan ego dan meniadakan keakuan (ke-egoan).

Atas dasar filosofi kesadaran penuh tersebut, Rosyid secara jujur menyampaikan kritik pribadinya terhadap praktik zikir yang bersifat mekanis atau menggunakan hitungan paket tertentu yang kaku.

“Saya kurang setuju dengan zikir yang dipaket harus berapa kali, karena jadinya tidak lepas dan kurang jujur jika mengucapkan sesuatu tanpa kesadaran,” tuturnya.

 

Merapikan Tulisan untuk Merapikan Pikiran

Hal serupa juga ditemui dalam praktik para Yogi yang mendalami yoga dari sudut pandang filosofis, bukan sekadar olahraga fisik. Pada akhirnya, seluruh tradisi meditatif tersebut bermuara pada kesimpulan bahwa kemampuan berpikir yang baik adalah modalitas awal yang mutlak diperlukan untuk melakukan terapi mandiri.

Sebagai penutup, pegiat ekoliterasi ini mengajak peserta untuk membalik cara pandang konvensional dalam menulis. Jika selama ini orang berpikir bahwa pikiran yang rapi menghasilkan tulisan yang rapi, maka dalam konteks terapeutik, tindakan menulis itu sendirilah yang menjadi alatnya.

“Berpikir yang baik adalah modalitas awal terapi. Kita balik prosesnya: merapikan tulisan untuk merapikan pikiran,” pungkas Rosyid mengakhiri sesi pertama materinya itu.

Penulis : Paozan Azima

Berita Terkait

Miris! Kepatuhan Berkendara di Lombok Timur di Bawah 50 Persen, Polantas: Biaya Operasi Kepala Rp 200 Juta, Helm Cuma Rp 150 Ribu
Sastra Bermutu Itu Bebas dari Ruang dan Waktu yang Fana: Karya yang Menentang Zaman
DPN SPI Rekomendasikan Bung Syam Ikuti Pendidikan Lemhannas RI
Gigaduka: Penderitaan Modern dari Akal Imitasi (AI)
Sastra Menjadi ‘Suaka’ di Tengah Absurditas Era Digitalisasi
Menjaga Kewarasan di Era Digital: Haul ke-4 Buya Syafii Maarif di Selong Kupas Tuntas Eksistensi Manusia dan AI
Kepala SMAN 1 Keruak Ajak Amalkan Pancasila dalam Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila
Pusat Keluarkan Bantuan Revitalisasi Sekolah untuk Lombok Timur Usulan DPR dan DPD, Kadis Dikbud Lotim Ungkapkan Hal Ini

Berita Terkait

Selasa, 7 Juli 2026 - 11:24 WITA

Perputaran Uang Capai Ratusan Miliar, Program MBG di Lombok Timur Soroti Akuntabilitas

Jumat, 3 Juli 2026 - 16:31 WITA

Sasar TNI-Polri Jadi Muzaki, Baznas Lombok Timur Siap Bentuk UPZ di Polres dan Kodim

Kamis, 2 Juli 2026 - 12:12 WITA

80 Tahun Mengabdi, Polres Lombok Timur Komit Kedepankan Sisi Humanis dan Pelayanan Rakyat

Rabu, 1 Juli 2026 - 14:25 WITA

CERPEN Yuspianal Imtihan: Ada Kosnpirasi Di Cerita Ini 

Jumat, 26 Juni 2026 - 05:49 WITA

Soroti Sengkarut Lotim, PMII: Guru Honorer Digaji Murah, Tambang Ilegal Malah Dipelihara

Kamis, 25 Juni 2026 - 22:18 WITA

Melalui ‘Polantas Menyapa’, Polantas Lotim Pilih Edukasi Santai dan Ngopi Bareng Bina Klub Motor

Kamis, 25 Juni 2026 - 22:13 WITA

Miris! Kepatuhan Berkendara di Lombok Timur di Bawah 50 Persen, Polantas: Biaya Operasi Kepala Rp 200 Juta, Helm Cuma Rp 150 Ribu

Rabu, 24 Juni 2026 - 11:44 WITA

Dugaan Jual-Beli Titik Program MBG dan Tambang Ilegal, Massa PMII dan HMI Geruduk Kejari Lombok Timur

Berita Terbaru