Sastra Bermutu Itu Bebas dari Ruang dan Waktu yang Fana: Karya yang Menentang Zaman

Kamis, 18 Juni 2026 - 02:31 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Riki menegaskan bahwa kekuatan sastra terletak pada keabadiannya yang melintasi batas waktu, sangat berbeda dengan fenomena viral di media sosial yang sifatnya sementara.

Riki menegaskan bahwa kekuatan sastra terletak pada keabadiannya yang melintasi batas waktu, sangat berbeda dengan fenomena viral di media sosial yang sifatnya sementara.

 

LOMBOKINI.com — Sastrawan kelahiran Sumatra itu, Riki Dhamparan Putra, memberikan pandangan kritis mengenai fenomena digital dan mutu karya sastra dalam sebuah acara diskusi publik yang bertajuk “Sastra dan Masyarakat Platform”.

Dalam pemaparannya, ia menyoroti bagaimana algoritma media sosial hari ini mendikte popularitas, yang sering kali mengorbankan nilai esensial dari sebuah mutu karya.

Ia memaparkan, viralisasi itu alat baru yang menjadi bukti bahwa kecerdasan algoritma menjadi dasar dari pembuatan platform yang kita pakai, seperti Instagram.

“Sistem ini bekerja berdasarkan jumlah suka, jumlah subscriber, dan aspek kuantitas. Viralisasi terjadi karena ada alat yang mendorong kita, sehingga kebodohan kita difasilitasi oleh alat tersebut, bukan oleh kesadaran kita sendiri,” ujar Riki.

Menurutnya, nilai kebaikan dan mutu dalam bersastra tidak boleh dikorbankan demi tren popularitas sesaat yang digerakkan oleh teknologi.

Ia menegaskan bahwa karya yang tidak bermutu tidak akan pernah bertahan sampai dari seribu tahun lagi. Ia menjelaskan kenapa karya yang bermutu itu bisa bertahan lama dengan meminjam baris puisi Chairil Anwar, ‘rasaku tidak dikandung alam’. Artinya, terangnya, kita tidak bisa menjadikan ukuran zaman yang mempopulerkan sebuah karya sastra lewat merek, produk, atau teknologi sebagai standar mutu.

Baca Juga :  80 Sekolah Penerima Bantuan Revitalisasi 2026

“Sastra yang bermutu itu konsisten dari dulu sampai sekarang; ia dibaca terus-menerus karena selalu mengingatkan manusia akan dirinya sendiri,” lanjutnya.

Lebih lanjut lagi, ia menjelaskan bahwa esensi dari puisi dan sastra yang bermutu sebenarnya sangat sederhana dan tidak melulu membutuhkan penjelasan teoretis yang rumit. Ia kembali merujuk pada salah satu baris puisi ikonik milik Chairil Anwar untuk membandingkannya dengan realitas gawai saat ini.

“Sebenarnya tidak perlu penjelasan teoretis yang rumit untuk memahami sastra Indonesia. Chairil Anwar sudah menyederhanakannya dalam bait: ‘Kaca jernih dari luar segala tampak’. Itulah mutu yang ia maksudkan. Sebaliknya, gadget kita adalah kaca yang buram karena pikiran kita tidak bekerja di sana dan kita terlalu mudah dipengaruhi oleh hal-hal superfisial di dalamnya,” tambah Riki.

Baca Juga :  Penderitaan Modern di Era AI: Manusia dan Realitas Palsu, Sastra sebagai Penawarnya

Di akhir penyampaiannya, Riki menegaskan bahwa kekuatan sastra terletak pada keabadiannya yang melintasi batas waktu, sangat berbeda dengan fenomena viral di media sosial yang sifatnya sementara.

“Apa itu sastra dan puisi yang bermutu? Cukup baca puisi Chairil Anwar: ‘Kaca jernih dari luar segala tampak’. Sastra yang bermutu itu bebas dari ruang dan waktu yang fana. Fenomena viral dan eksistensi itu sifatnya fana—sebentar lalu hilang—tetapi sajak yang berkualitas tidak akan demikian,” tuturnya.

Sebagai penutup, ia mencontohkan teks keagamaan atau sastra tradisi seperti Barzanji yang mutunya tetap terjaga melintasi abad karena kualitas nilai yang dikandungnya.

“Seperti tradisi Barzanji yang berasal dari abad lampau namun masih dibaca hari ini karena mutunya. Karya-karya yang bermutu pada akhirnya akan selalu menentang zaman,” pungkas Riki.

Berita Terkait

80 Sekolah Penerima Bantuan Revitalisasi 2026
Menulis untuk Merapikan Pikiran, Begitu Modal Dasar Meditasi yang Baik
Miris! Kepatuhan Berkendara di Lombok Timur di Bawah 50 Persen, Polantas: Biaya Operasi Kepala Rp 200 Juta, Helm Cuma Rp 150 Ribu
DPN SPI Rekomendasikan Bung Syam Ikuti Pendidikan Lemhannas RI
Gigaduka: Penderitaan Modern dari Akal Imitasi (AI)
Sastra Menjadi ‘Suaka’ di Tengah Absurditas Era Digitalisasi
Menjaga Kewarasan di Era Digital: Haul ke-4 Buya Syafii Maarif di Selong Kupas Tuntas Eksistensi Manusia dan AI
Kepala SMAN 1 Keruak Ajak Amalkan Pancasila dalam Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila

Berita Terkait

Rabu, 15 Juli 2026 - 12:19 WITA

Bupati Lotim Lepas Dandim dan Kapolres Lama, Sambut Pejabat Baru

Rabu, 15 Juli 2026 - 09:07 WITA

BAZNAS Lotim Klarifikasi Pernyataan Anggota Dewan Syariah Soal Zakat DPRD

Kamis, 9 Juli 2026 - 17:24 WITA

Sempurnakan Program DAK 2027 dengan Mendata Penulis Lokal: Adakah Peluang Pengadaan Buku Karya Penulis Lokal?

Selasa, 7 Juli 2026 - 11:24 WITA

Perputaran Uang Capai Ratusan Miliar, Program MBG di Lombok Timur Soroti Akuntabilitas

Jumat, 3 Juli 2026 - 16:31 WITA

Sasar TNI-Polri Jadi Muzaki, Baznas Lombok Timur Siap Bentuk UPZ di Polres dan Kodim

Kamis, 2 Juli 2026 - 12:12 WITA

80 Tahun Mengabdi, Polres Lombok Timur Komit Kedepankan Sisi Humanis dan Pelayanan Rakyat

Jumat, 26 Juni 2026 - 05:49 WITA

Soroti Sengkarut Lotim, PMII: Guru Honorer Digaji Murah, Tambang Ilegal Malah Dipelihara

Kamis, 25 Juni 2026 - 22:18 WITA

Melalui ‘Polantas Menyapa’, Polantas Lotim Pilih Edukasi Santai dan Ngopi Bareng Bina Klub Motor

Berita Terbaru

Bupati Lombok Timur melepas Dandim dan Kapolres lama serta menyambut pejabat baru dalam pisah sambut dua jabatan sekaligus, Selasa 14 Juli 2016 malam di Pendopo Bupati. (Foto: Lombokini.com/Humas).

Lombok Timur

Bupati Lotim Lepas Dandim dan Kapolres Lama, Sambut Pejabat Baru

Rabu, 15 Jul 2026 - 12:19 WITA

Kapolda NTB dan Kajati NTB beserta jajaran berfoto bersama usai pertemuan di Kantor Kejati NTB, Selasa 14 Juli 2026. Keduanya sepakat memperkuat sinergi penegakan hukum profesional dan berintegritas. (Foto: Lombokini.com/Asman).

Hukrim

Kapolda NTB Kunjungi Kajati, Perkuat Sinergi Penegakan Hukum

Selasa, 14 Jul 2026 - 22:25 WITA