Menolak Feodalisme, Merawat Kejujuran

Selasa, 22 April 2025 - 08:55 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menolak Feodalisme, Merawat Kejujuran. (Foto: Lombokini.com/Ilustrasi).

Menolak Feodalisme, Merawat Kejujuran. (Foto: Lombokini.com/Ilustrasi).

Oleh: Ariady Achmad

Kita tidak boleh menganggap feodalisme sekadar peninggalan sejarah. Ia masih hidup dalam cara kita berpikir, berbicara, dan bertindak. Sistem sosial-politik modern menyamarkannya dalam bentuk yang lebih halus namun tetap menekan: relasi kuasa yang kaku, budaya sungkan yang membungkam kritik, dan bahasa eufemistik yang mengaburkan kenyataan.

Birokrasi dan kehidupan politik kita terus mengulangi pola ini. Mereka memandang kritik sebagai ancaman. Mereka menganggap ketundukan sebagai kesetiaan. Mereka menjadikan sopan santun tameng untuk menghindar dari tanggung jawab. Bahkan, mereka sering menyebut korupsi sekadar “kelalaian administratif”.

Di ruang publik, kita masih mendengar pejabat lebih memilih istilah “kurang optimal” daripada mengakui kegagalan. Mereka menyebut penyimpangan sebagai “kesalahan prosedur”. Padahal, kita membutuhkan keterusterangan—keberanian menyebut salah sebagai salah.

Baca Juga :  Krismon 1997-1998 Bakal Terulang Kembali? 

Feodalisme semacam ini tidak hanya melanggengkan ketimpangan, tetapi juga melumpuhkan keberanian. Ia membuat pejabat merasa kebal terhadap kritik dan membuat rakyat ragu bersuara. Lama-kelamaan, ini menciptakan lingkungan yang permisif terhadap korupsi dan manipulasi kekuasaan.

Kini saatnya kita menegaskan arah baru: membangun kehidupan bernegara yang berpijak pada kesetaraan, transparansi, dan integritas.

Bangsa yang sehat tidak lahir dari kepatuhan membuta, melainkan dari partisipasi aktif seluruh warganya. Demokrasi sejati menempatkan semua orang setara di hadapan hukum dan dalam ruang publik. Negara hukum tidak mengenal kasta. Jabatan bukan kehormatan untuk disembah, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Dalam konteks ini, kejujuran harus menjadi nilai utama. Ia bukan sekadar sikap pribadi, melainkan fondasi tata kelola negara. Tanpa kejujuran, hukum berubah menjadi alat kekuasaan. Tanpa kejujuran, transparansi kehilangan makna. Tanpa kejujuran, pengawasan tidak akan pernah efektif.

Baca Juga :  Mori Hanafi Dinilai Miliki Modal Politik Mengilap untuk Pilgub NTB 2029

Kita membutuhkan pemimpin yang bersedia menerima kritik dan rakyat yang berani mengoreksi. Kritik bukan penghinaan, melainkan bentuk cinta pada negara. Keterusterangan bukan pemberontakan, melainkan sumbangsih untuk perbaikan.

Menolak feodalisme berarti menolak kepalsuan. Kita harus berhenti menutupi kebenaran demi gengsi atau hierarki. Kita harus mengembalikan ruang publik sebagai tempat kejujuran dan akal sehat. Kita harus menciptakan iklim di mana keberanian bersuara lebih dihargai daripada kesediaan menjilat.

Perubahan tidak akan datang hanya dari reformasi kebijakan. Ia harus tumbuh dari keberanian moral dan kesadaran bersama bahwa negara ini milik semua, bukan hanya milik penguasa. Dan semua itu bermula dari satu sikap paling mendasar: kejujuran.

Penulis : Ariady Achmad

Berita Terkait

Krismon 1997-1998 Bakal Terulang Kembali? 
ESAI Khaerul Majdi: Oase Sejarah’ dan Tahun-Tahun yang Sial: Melihat HIMMAH NWDI dari Timur
Esai Yuspianal Imtihan: Menilik Sikap Seniman di Era Artificial Intelligence 
MBG ‘Big Push’ Bagi Sektor Pendidikan  
Percepatan Swasembada Pangan: Inpres Prabowo Subianto 
Di Balik Narasi Akselerasi: Menguji Klaim Keadilan Pertumbuhan di Lombok Timur
Swasembada Pangan di Era Presiden Prabowo: Apakah Sudah Tercapai? 
Swasembada Pangan di Lombok Timur: Apakah Sudah Tercapai?

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 22:55 WITA

Bangun Reputasi Lewat Integritas, Bung Heru Besarkan Seniman Hukum Law Firm di NTB

Sabtu, 6 Juni 2026 - 21:37 WITA

KAI Tutup Rakernas 2026 dengan Perayaan HUT ke-18 di NTB

Selasa, 2 Juni 2026 - 18:05 WITA

LSM Garuda: Kami Siap Jadi Cooling System dan Jembatan Komunikasi Masyarakat-Pemerintah

Minggu, 31 Mei 2026 - 13:33 WITA

BPS NTB Buka Rekrutmen Mitra Sensus Ekonomi 2026 Secara Terbuka dan Berbasis Sistem

Jumat, 29 Mei 2026 - 10:51 WITA

Menjelang Demo 2 Juni, GASAK NTB Ingatkan Aliansi PPS Soal Titik Vital

Minggu, 17 Mei 2026 - 21:17 WITA

Imigrasi Malaysia Deportasi 10 PMI Ilegal Asal NTB, Disnakertrans: Ada yang Kabur dari Tempat Kerja

Jumat, 15 Mei 2026 - 16:52 WITA

Brigjen TNI Wawan Setiawan Nilai Pelaksanaan TMMD di Lombok Timur Sangat Baik

Kamis, 14 Mei 2026 - 00:10 WITA

Dandim 1615 Lotim Tegaskan Kopdes Merah Putih Jadi Solusi Terpadu Ketahanan Pangan

Berita Terbaru