Menhut Tegaskan Pembatasan Pendaki Rinjani Demi Kelestarian Alam

Minggu, 18 Mei 2025 - 20:59 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menhut Raja Juli Antoni Sebut Pembatasan Pendaki Rinjani Demi Kelestarian Alam. (Foto: Lombokini.com).

Menhut Raja Juli Antoni Sebut Pembatasan Pendaki Rinjani Demi Kelestarian Alam. (Foto: Lombokini.com).

LOMBOKINI.com Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menegaskan bahwa pembatasan kuota pendaki Gunung Rinjani bertujuan menjaga keseimbangan ekologi kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Pernyataan ini ia sampaikan menanggapi tuntutan penambahan kuota dari pelaku wisata sekitar Rinjani.

“Taman nasional merupakan kawasan ekonomi konservasi, jadi prioritas utamanya adalah menjaga keseimbangan ekologis. Kami membatasi kuota pendakian di Rinjani, seperti juga di taman nasional lain di Indonesia,”tegas Raja Juli usai menghadiri acara Flag Off Rinjani 100 di Sembalun, Ahad, 18 Mei 2025.

Baca Juga :  Hadiri HADI ke-73 NW, Menhut Raja Juli: Tokoh Bangsa Lahir dari Pesantren

Pembatasan Kuota untuk Cegah Kerusakan Ekosistem

Dia menjelaskan bahwa Rinjani memiliki peran penting sebagai kawasan konservasi. “Jika tidak dibatasi, Rinjani bisa kehilangan keindahannya dan mengalami kerusakan ekologis,” ujarnya.

Ia menegaskan, kebijakan ini bukan untuk mengurangi pendapatan pelaku wisata atau menghalangi pendaki. “Justru dengan pembatasan, Rinjani tetap cantik dan semakin menarik. Ini demi keberlanjutan ekonomi pelaku wisata sekitar,” tambahnya.

Respons atas Aksi Tour Operator 

Pernyataan ini menanggapi aksi Asosiasi Tour Operator Senaru (ATOS) yang menuntut penambahan kuota pendakian. Sebelumnya, mereka berunjuk rasa di Kantor Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) pada Selasa 8 2025.

Baca Juga :  Hadiri HADI ke-73 NW, Menhut Raja Juli: Tokoh Bangsa Lahir dari Pesantren

Sebelumnya, kuota pendakian jalur Senaru mencapai 240 orang per hari (60% mancanegara, 40% lokal). Namun, kebijakan baru memangkasnya menjadi 150 orang per hari.

Mencari Titik Keseimbangan  

Polemik ini mencerminkan tarik-menarik antara kepentingan ekonomi pariwisata dan konservasi lingkungan. Pemerintah berupaya menemukan solusi agar Rinjani tetap lestari, sementara pelaku wisata tetap bisa beroperasi. ***

Berita Terkait

Balai TNGR Serukan Wisata Bertanggung Jawab Atasi Lonjakan Sampah di Rinjani
Gubernur NTB Serukan Solidaritas dan Pelestarian Lingkungan pada Peringatan Isra’ Mi’raj
Pendakian Gunung Rinjani Ditutup Tiga Bulan, Ini Alasannya
TSBD Belanting Tanam Pohon di Bantaran Sungai untuk Cegah Banjir Bandang
Dari Muara Sampah Jadi Primadona Wisata, Bale Mangrove Kini Hadapi Ujian Tata Kelola
Pemkab Lombok Timur Ingatkan Masyarakat: Cek Status Lahan Sebelum Beli, Antisipasi LSD dan LP2B
Gubernur NTB Tegaskan Pelestarian Lingkungan sebagai Investasi Jangka Panjang
Kesal Janji Bupati Molor, Warga Perigi Lombok Timur Bangun Jembatan Darurat Sendiri

Berita Terkait

Sabtu, 7 Maret 2026 - 23:15 WITA

Hadiri HADI ke-73 NW, Menhut Raja Juli: Tokoh Bangsa Lahir dari Pesantren

Jumat, 6 Maret 2026 - 17:36 WITA

Hearing Bersama Komisi III DPRD, Pelaku Koperasi Lombok Timur Sampaikan Aspirasi

Jumat, 6 Maret 2026 - 04:43 WITA

Perampok Aniaya Dua Warga Jerowaru saat Gagal Curi Kerbau

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:25 WITA

Pengamat: Tingkat Kemiskinan Lombok Timur Capai Target, tapi Kemiskinan Ekstrem Tak Masuk RPJMD

Rabu, 4 Maret 2026 - 13:19 WITA

Pemkab Lombok Timur Siapkan Rp 30 Miliar untuk Sembako Ramadan 1447 H, Target 198 Ribu Penerima

Sabtu, 28 Februari 2026 - 15:41 WITA

Inflasi Ramadan 1447 H: Pengamat Minta Eliminasi ‘Mutant Statistics’

Jumat, 27 Februari 2026 - 23:58 WITA

S Bantah Gelapkan Rp 1,05 Miliar Dana Pembangunan Dapur MBG di Selong, Lombok Timur

Jumat, 27 Februari 2026 - 22:21 WITA

Warga Duga Korupsi Menu MBG di Lombok Timur, Nilai Jeblok Rp 3000 per Siswa

Berita Terbaru