LOMBOKINI.com – Suasana Dusun Pancor Manis, Desa Terair-air, Kecamatan Montong Gading, Kabupaten Lombok Timur, tampak tenang. Di balik hamparan sawah dan deretan rumah sederhana, berdiri sebuah bangunan sekolah yang memprihatinkan.
Plafon ruang kelasnya nyaris jatuh, dinding retak, dan kayu penopang atap mulai rapuh. Dari kejauhan, bangunan itu terlihat seperti menunggu waktu untuk benar-benar roboh.
Namun, di balik kondisi yang mengkhawatirkan itu, tawa anak-anak masih terdengar. Mereka berlarian di halaman, mengenakan seragam sekolah seadanya.
Di sekolah satu atap SD-SMP Montong Gading, sekitar 180 siswa tetap menjalani hari-hari belajar, meski harus berbagi ruangan dan bergiliran memakai kelas yang masih bisa dipakai.
“Sudah bertahun-tahun kondisinya begini. Kemarin ada yang ambruk lagi, ya tinggal tunggu roboh semua,” ungkap Zanwadi, penjaga sekolah yang juga membuka warung kecil di belakang bangunan itu, Rabu 24 September 2025.
Dari warung itulah, ia setiap hari menyaksikan wajah-wajah penuh semangat yang seolah menutup mata dari kenyataan getir sekolah mereka.
Terlupakan di Tengah Harapan
Cerita tentang sekolah ini bukanlah hal baru. Tiga tahun lalu, Gede Permana, seorang polisi hutan Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), kerap mampir ke warung Zanwadi ketika bertugas di Resort Joben. Dari sana, ia melihat langsung bangunan yang kian reyot.
“Sejak saya pertama kali ke sini, kondisinya sudah tidak terpakai. Sekarang malah makin parah,” ujarnya.
Baginya, sangat ironis jika sebuah ruang belajar, tempat mencetak generasi penerus justru menjadi ancaman bagi keselamatan.
Meski begitu, aktivitas belajar tetap berlangsung. Anak-anak terbiasa berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain, mengisi kelas seadanya.
Mereka tetap rajin datang, sebagian berjalan kaki melewati jalan berbatu, sebagian lain menumpang kendaraan orangtua. Tidak ada yang mengeluh, meski mereka tahu bangunan sekolah mereka jauh berbeda dari sekolah lain.
Zanwadi menuturkan, murid-murid masih bisa belajar berkat adanya ruang darurat yang dipakai bergantian. “Alhamdulillah masih aktif. Semua sekitar 180 siswa SD maupun SMP,” katanya.
Ucapannya seolah menegaskan bahwa semangat belajar tidak pernah padam, bahkan ketika dinding sekolah di baliknya retak dan atapnya nyaris runtuh.
Harapan pada Kebijakan
Bagi masyarakat Pancor Manis, sekolah satu atap ini bukan sekadar bangunan. Ia adalah jendela masa depan, pintu keluar dari kemiskinan, sekaligus benteng terakhir agar anak-anak desa tidak tertinggal. Namun, hingga kini, kondisi sekolah itu masih luput dari perhatian serius.
Gede berharap ada langkah nyata dari pemerintah daerah. “Ini semestinya jadi perhatian pemegang kebijakan. Anak-anak ini butuh tempat belajar yang aman dan layak,” ujarnya.
Harapan itu menggantung di udara, sama seperti bangunan sekolah yang rapuh menahan sisa-sisa kekuatannya.
Di Dusun Pancor Manis, anak-anak terus menunggu: bukan hanya giliran memakai kelas, tetapi juga giliran diperhatikan oleh pemerintah.***
Penulis : Hari Bahagia







