Kelas Hampir Roboh, Semangat Belajar Masih Menyala di Montong Gading

Rabu, 24 September 2025 - 16:16 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kelas Hampir Roboh, Semangat Belajar Masih Menyala di Montong Gading. (Foto: Lombokini.com).

Kelas Hampir Roboh, Semangat Belajar Masih Menyala di Montong Gading. (Foto: Lombokini.com).

LOMBOKINI.com Suasana Dusun Pancor Manis, Desa Terair-air, Kecamatan Montong Gading, Kabupaten Lombok Timur, tampak tenang. Di balik hamparan sawah dan deretan rumah sederhana, berdiri sebuah bangunan sekolah yang memprihatinkan.

Plafon ruang kelasnya nyaris jatuh, dinding retak, dan kayu penopang atap mulai rapuh. Dari kejauhan, bangunan itu terlihat seperti menunggu waktu untuk benar-benar roboh.

Namun, di balik kondisi yang mengkhawatirkan itu, tawa anak-anak masih terdengar. Mereka berlarian di halaman, mengenakan seragam sekolah seadanya.

Di sekolah satu atap SD-SMP Montong Gading, sekitar 180 siswa tetap menjalani hari-hari belajar, meski harus berbagi ruangan dan bergiliran memakai kelas yang masih bisa dipakai.

“Sudah bertahun-tahun kondisinya begini. Kemarin ada yang ambruk lagi, ya tinggal tunggu roboh semua,” ungkap Zanwadi, penjaga sekolah yang juga membuka warung kecil di belakang bangunan itu, Rabu 24 September 2025.

Dari warung itulah, ia setiap hari menyaksikan wajah-wajah penuh semangat yang seolah menutup mata dari kenyataan getir sekolah mereka.

Baca Juga :  Nusa Medica Clinic Sembalun Siapkan Evakuasi Helikopter dan Asuransi Internasional bagi Pendaki Rinjani

Terlupakan di Tengah Harapan

Cerita tentang sekolah ini bukanlah hal baru. Tiga tahun lalu, Gede Permana, seorang polisi hutan Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), kerap mampir ke warung Zanwadi ketika bertugas di Resort Joben. Dari sana, ia melihat langsung bangunan yang kian reyot.

“Sejak saya pertama kali ke sini, kondisinya sudah tidak terpakai. Sekarang malah makin parah,” ujarnya.

Baginya, sangat ironis jika sebuah ruang belajar, tempat mencetak generasi penerus justru menjadi ancaman bagi keselamatan.

Meski begitu, aktivitas belajar tetap berlangsung. Anak-anak terbiasa berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain, mengisi kelas seadanya.

Mereka tetap rajin datang, sebagian berjalan kaki melewati jalan berbatu, sebagian lain menumpang kendaraan orangtua. Tidak ada yang mengeluh, meski mereka tahu bangunan sekolah mereka jauh berbeda dari sekolah lain.

Zanwadi menuturkan, murid-murid masih bisa belajar berkat adanya ruang darurat yang dipakai bergantian. “Alhamdulillah masih aktif. Semua sekitar 180 siswa SD maupun SMP,” katanya.

Baca Juga :  Mulai 2027, Bahasa Inggris Menjadi Mata Pelajaran Wajib Bagi Siswa SD

Ucapannya seolah menegaskan bahwa semangat belajar tidak pernah padam, bahkan ketika dinding sekolah di baliknya retak dan atapnya nyaris runtuh.

Harapan pada Kebijakan

Bagi masyarakat Pancor Manis, sekolah satu atap ini bukan sekadar bangunan. Ia adalah jendela masa depan, pintu keluar dari kemiskinan, sekaligus benteng terakhir agar anak-anak desa tidak tertinggal. Namun, hingga kini, kondisi sekolah itu masih luput dari perhatian serius.

Gede berharap ada langkah nyata dari pemerintah daerah. “Ini semestinya jadi perhatian pemegang kebijakan. Anak-anak ini butuh tempat belajar yang aman dan layak,” ujarnya.

Harapan itu menggantung di udara, sama seperti bangunan sekolah yang rapuh menahan sisa-sisa kekuatannya.

Di Dusun Pancor Manis, anak-anak terus menunggu: bukan hanya giliran memakai kelas, tetapi juga giliran diperhatikan oleh pemerintah.***

Penulis : Hari Bahagia

Berita Terkait

Menjaga Kewarasan di Era Digital: Haul ke-4 Buya Syafii Maarif di Selong Kupas Tuntas Eksistensi Manusia dan AI
Kepala SMAN 1 Keruak Ajak Amalkan Pancasila dalam Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila
Pusat Keluarkan Bantuan Revitalisasi Sekolah untuk Lombok Timur Usulan DPR dan DPD, Kadis Dikbud Lotim Ungkapkan Hal Ini
Kemendikdasmen Tegaskan Guru Non-ASN Tetap Boleh Mengajar di Sekolah Negeri
Penguatan TC Berjenjang Dongkrak Kemampuan Kafilah MTQ Lotim, Pelatih Antisipasi Jeda Lomba
Pemprov NTB Reformasi Pendidikan, Sinkronkan Data hingga Program Magang Jepang
20 Persen Dana BOSP 2026 Boleh untuk Gaji Honorer, Lombok Timur Segera Terapkan
Mulai 2027, Bahasa Inggris Menjadi Mata Pelajaran Wajib Bagi Siswa SD

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 14:29 WITA

Dikes Lombok Timur Temukan Bakteri E-Coli Melebihi Batas Normal di Dapur MBG

Kamis, 4 Juni 2026 - 13:53 WITA

Polres Ungkap Identitas Mayat Wanita di Pantai Labuhan Haji, Keluarga Tolak Otopsi

Kamis, 4 Juni 2026 - 12:00 WITA

Ditemukan Meninggal di Pantai Labuhan Haji, Wanita Asal Tanjung Luar Diduga Alami Gangguan Jiwa

Rabu, 27 Mei 2026 - 16:17 WITA

Korsleting Listrik ke Tabung Gas, Rumah Warga Paok Lombok Terbakar usai Salat Iduladha

Selasa, 26 Mei 2026 - 14:34 WITA

Damkarmat Lombok Timur Wajibkan Simulasi Kebakaran untuk Akreditasi Puskesmas

Selasa, 26 Mei 2026 - 10:57 WITA

Sempat Terkendala Kabut Tebal, Evakuasi Udara Pendaki Malaysia di Gunung Rinjani Berhasil Dilakukan

Senin, 25 Mei 2026 - 19:10 WITA

Kabut Tebal Tunda Evakuasi Helikopter Pendaki Malaysia Cedera Tulang Belakang di Rinjani

Selasa, 19 Mei 2026 - 20:18 WITA

Ratusan Nelayan Lombok Timur Demo Tuntut Kuota BBM Subsidi

Berita Terbaru

Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin. (Foto: Lombokini.com).

Lombok Timur

Bupati Lotim Pastikan Mutasi Jabatan Kembali Digelar pada Juli 2026

Rabu, 10 Jun 2026 - 21:31 WITA