Derita Bu Rusna, Pedagang Kecil di Kantin Pemda Lombok Timur

Senin, 16 Juni 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Nasib Pilu Bu Rusna, Pedagang Kantin Pemda Lombok Timur: Antara Janji Bantuan dan Realita Sepi Pembeli. (Foto: Lombokini.com)

Nasib Pilu Bu Rusna, Pedagang Kantin Pemda Lombok Timur: Antara Janji Bantuan dan Realita Sepi Pembeli. (Foto: Lombokini.com)

LOMBOKINI.com – Bu Rusna (57 tahun) memandangi meja-meja kosong di kantin sederhananya dengan lesu. Perempuan paruh baya ini jelas merasakan dampak drastis dari sepi nya aktivitas perkantoran di kompleks Pemda Lombok Timur.

“Sebelum ada kantor Bupati baru, pembeli selalu ramai di kantin saya,” keluhnya dengan suara berat saat Lombokini.com berkunjung ke kantinnya, pada Senin 16 Juni 2025. “Sekarang, saya bisa duduk berjam-jam tanpa kedatangan pembeli sama sekali,” tambahnya sambil memegang erat gelas kopi yang tak kunjung laku, Senin 16 Juni

Nasib Pilu Pedagang Kantin Pemda Lombok Timur: Antara Janji Bantuan dan Realita Sepi Pembeli
Nasib Pilu Pedagang Kantin Pemda Lombok Timur: Antara Janji Bantuan dan Realita Sepi Pembeli. (Foto: Lombokini.com).

Tak hanya memangkas jam operasional, kondisi ini juga memaksa Bu Rusna mengurangi stok dagangannya secara drastis.

Padahal, setelah puluhan tahun berjualan, pemerintah sama sekali tidak pernah memberikan bantuan modal usaha maupun Program Keluarga Harapan (PKH).

“Ke mana lagi saya harus mengadu?” tanyanya dengan suara serak sambil menatap dagangannya yang mulai berdebu. Kerut di wajahnya semakin dalam seiring beban ekonomi yang kian menekan.

Baca Juga :  Knalpot Brong dan Tanpa Helm Diburu, Satlantas Lotim Catat 1.009 Penindakan dalam Sebulan
Stok Dagangan Bu Rusna dan Harapan Menipis: Suara Pedagang Kecil yang Tak Tersentuh Bantuan PKH di Lombok Timur.
Stok dagangan Bu Rusna dan harapan menipis, Pedagang kecil yang tak tersentuh bantuan modal usaha di Lombok Timur. (Foto: Lombokini.com).

Nasib Bu Rusna ternyata mewakili puluhan pedagang kecil lain di Lombok Timur. “Dulu sejak pagi sudah mengantre untuk beli kopi atau nasi bungkus. Sekarang, saya harus rela menunggu seharian tanpa pembeli,” ujarnya sambil mengusap keringat di dahinya.

Janji Bantuan Mandek di Birokrasi

Meskipun pemerintah Lombok Timur sudah mengumumkan program bantuan UMKM sejak April 2025, nyatanya realisasi bantuan masih terhambat birokrasi yang berbelit. Setiap pagi, Bu Rusna tetap membuka kantinnya dengan harapan tipis, hanya untuk menutupnya kembali dengan dagangan yang hampir utuh.

“Kami terus menanti realisasi janji itu,” katanya sambil membersihkan piring-piring yang masih bersih. Ia berjuang keras melawan waktu, berharap bantuan segera turun sebelum usahanya benar-benar kolaps.

Klaim Pemerintah Tak Sejalan dengan Fakta di Lapangan

Di sisi lain, Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin dan Wakil Bupati H. Moh. Edwin Hadiwijaya terus mengklaim sedang memprioritaskan bantuan UMKM. Bahkan, Bupati dengan tegas menyatakan akan menambah anggaran bantuan modal usaha di tahun 2025.

Baca Juga :  Majelis Taklim Darunnajah Al-Irsyadi Mamben Salurkan 1 Ton Beras dan 100 Terpal untuk Korban Gempa Flores

“Kami benar-benar memprioritaskan program bantuan modal UMKM tahun ini,” tegas Bupati dalam konferensi pers 21 April 2025. Namun sayangnya, pemerintah tetap memberlakukan kriteria ketat dengan mengutamakan pedagang asongan, bakulan, dan kaki lima yang paling terdampak.

Sementara janji bantuan masih mengambang, Bu Rusna terus bertahan dengan gigih. Setiap hari ia tetap membuka usaha, meski hanya untuk menghitung kerugian dari dagangan yang tak laku.

Kini, Bu Rusna hanya bisa berharap dan berdoa agar janji pemerintah tidak sekadar menjadi wacana belaka. Nasib pedagang kecil seperti Bu Rusna benar-benar tergantung pada realisasi program yang hingga kini masih menjadi tanda tanya. ***

Penulis : Najamudin Anaji

Follow WhatsApp Channel lombokini.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menelisik Praktik Konservasi Inklusif Yayasan JARI di Wilayah Selat Alas
DKP Lombok Timur Soroti Kesenjangan Akses Digital dan Kendala Subsidi BBM Nelayan Tradisional
Perempuan Pesisir Lombok Timur: Mengawal Ekonomi Kelautan dan Pelestarian Mangrove Lewat Awik-Awik
Knalpot Brong dan Tanpa Helm Diburu, Satlantas Lotim Catat 1.009 Penindakan dalam Sebulan
Tim Kemanusiaan Majlis Ta’lim Darunnajah Al-Irsyadi Mamben Kirim Bantuan Pakaian untuk Korban Gempa NTT
Yayasan Mutiara Cendekia dan LSM Garuda Indonesia Salurkan Santunan kepada 30 Warga Sekotong
Majelis Taklim Darunnajah Al-Irsyadi Mamben Salurkan 1 Ton Beras dan 100 Terpal untuk Korban Gempa Flores
DPRD Lombok Timur Tetapkan APBD Perubahan 2026, Minta Pemda Percepat Realisasi

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 05:31 WITA

Menelisik Praktik Konservasi Inklusif Yayasan JARI di Wilayah Selat Alas

Kamis, 22 Oktober 2026 - 12:14 WITA

Perempuan Pesisir Lombok Timur: Mengawal Ekonomi Kelautan dan Pelestarian Mangrove Lewat Awik-Awik

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:53 WITA

Knalpot Brong dan Tanpa Helm Diburu, Satlantas Lotim Catat 1.009 Penindakan dalam Sebulan

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:31 WITA

Tim Kemanusiaan Majlis Ta’lim Darunnajah Al-Irsyadi Mamben Kirim Bantuan Pakaian untuk Korban Gempa NTT

Jumat, 9 Oktober 2026 - 22:23 WITA

Yayasan Mutiara Cendekia dan LSM Garuda Indonesia Salurkan Santunan kepada 30 Warga Sekotong

Berita Terbaru

Ketua TP PKK Provinsi NTB Hj. Sinta Agathia M. Iqbal menyapa seorang anak dalam acara cegah stunting di Kantor Desa Pringgabaya Utara, Kecamatan Pringgabaya LombokTimur. (Foto: Lombokini.com)

Opini

Benarkan Stunting di Lotim Turun Empat Persen? 

Jumat, 23 Okt 2026 - 12:12 WITA