Dende Tamari: Perempuan Sasak Menentang Kekuasaan

Minggu, 26 Oktober 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Bengkel Aktor Mataram Pementaskan "Dende Tamari" dengan Semangat Lokal dan Kritik Sosial. (Foto: Lombokini.com).

Bengkel Aktor Mataram Pementaskan "Dende Tamari" dengan Semangat Lokal dan Kritik Sosial. (Foto: Lombokini.com).

LOMBOKINI.com – Bengkel Aktor Mataram (BAM) kembali menegaskan eksistensinya sebagai komunitas teater yang konsisten di Nusa Tenggara Barat. Pada Sabtu, 25 Oktober 2025, mereka berhasil menuntaskan pementasan lakon Dende Tamari di Gedung Tertutup Taman Budaya NTB, yang disaksikan oleh ratusan penonton hingga larut malam.

Lebih lanjut, pertunjukan ini merupakan pementasan ke-63 BAM yang menandai perjalanan panjang kelompok teater tersebut. Dalam kesempatan ini, Kepala Taman Budaya NTB, Lalu Surya Mulawarman, menyampaikan apresiasi mendalam terhadap konsistensi BAM dan relevansi pementasan kali ini.

Baca Juga :  Performance Studies Mempersoalkan Tubuh, Bukan Mempersembahkan Tubuh

Sementara itu, sutradara Kongso Sukoco menegaskan bahwa teater bukan sekadar hiburan, melainkan alat untuk berpikir dan mempertanyakan.

“Oleh karena itu, kami bertekad untuk mengembalikan kekuatan kata dan rasa,” ujarnya.

Dende Tamari sendiri merupakan adaptasi dari tragedi klasik Yunani Antigone ke dalam konteks lokal Lombok. Lakon ini menghadirkan sosok Dende Tamari, perempuan Sasak yang berani menentang kekuasaan demi kemanusiaan.

Selain itu, BAM secara kreatif menafsir ulang karya besar dunia ke dalam lanskap lokal, sekaligus menghidupkan tokoh-tokoh klasik dengan tubuh dan aksen lokal.

Baca Juga :  Performance Studies Mempersoalkan Tubuh, Bukan Mempersembahkan Tubuh

Tidak hanya itu, pementasan ini juga melibatkan aktor muda BAM seperti Winsa, Dende Dila, dan Wulan Eryana Sain, serta didukung oleh tim kreatif yang menghadirkan kekuatan estetika berbasis lokal.

Dengan demikian, musik tradisional, tata cahaya, dan artistik panggung berhasil menjadi jembatan antara dunia klasik dan realitas lokal.

Melalui Dende Tamari, BAM mengajak penonton untuk mempercayai kekuatan perempuan, keberpihakan sosial, dan cinta pada kemanusiaan.

“Pada akhirnya, seni adalah suara perlawanan, cermin kehidupan, dan panggilan hati nurani,” demikian tutup Kongso Sukoco. ***

Editor : Najamudin Anaji

Follow WhatsApp Channel lombokini.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Performance Studies Mempersoalkan Tubuh, Bukan Mempersembahkan Tubuh
Wilayah Wisata Sembalun Diakui UNESCO, tapi Sembalun Bumbung Kurang Diperhatikan Pemerintah
Festival Gawe Beleq Sakra Barat Resmi Ditutup Kapolres Lombok Timur
Awik-Awik Baru untuk Pendaki Rinjani: Wajib Ikut Ritual Adat Sembeq Buraq? Ini Penjelasan TNGR
JAMNAS V BPAN Mengumpulkan Pemuda Adat Se-Nusantara di Desa Perigi: Desak DPR RI Segera Sahkan RUU Masyarakat Adat
Ratusan Pemuda Adat Nusantara dari Berbagai Wilayah Melebur dalam Sakralnya Tradisi Tetulaq Desa di Desa Perigi
Lombok Timur Jadi Tuan Rumah Jambore Nasional V BPAN, Ratusan Peserta Siap Berkumpul di Wilayah Adat Perigi dan Limbungan
Dukung Revitalisasi Keraton, TSB dan Kemenbud Sinergi Lindungi Cagar Budaya Nasional

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 16:04 WITA

Performance Studies Mempersoalkan Tubuh, Bukan Mempersembahkan Tubuh

Selasa, 1 September 2026 - 13:24 WITA

Wilayah Wisata Sembalun Diakui UNESCO, tapi Sembalun Bumbung Kurang Diperhatikan Pemerintah

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 23:30 WITA

Festival Gawe Beleq Sakra Barat Resmi Ditutup Kapolres Lombok Timur

Kamis, 30 Juli 2026 - 19:21 WITA

Awik-Awik Baru untuk Pendaki Rinjani: Wajib Ikut Ritual Adat Sembeq Buraq? Ini Penjelasan TNGR

Selasa, 30 Juni 2026 - 18:58 WITA

JAMNAS V BPAN Mengumpulkan Pemuda Adat Se-Nusantara di Desa Perigi: Desak DPR RI Segera Sahkan RUU Masyarakat Adat

Berita Terbaru