Dende Tamari: Perempuan Sasak Menentang Kekuasaan

Minggu, 26 Oktober 2025 - 12:57 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bengkel Aktor Mataram Pementaskan

Bengkel Aktor Mataram Pementaskan "Dende Tamari" dengan Semangat Lokal dan Kritik Sosial. (Foto: Lombokini.com).

LOMBOKINI.com – Bengkel Aktor Mataram (BAM) kembali menegaskan eksistensinya sebagai komunitas teater yang konsisten di Nusa Tenggara Barat. Pada Sabtu, 25 Oktober 2025, mereka berhasil menuntaskan pementasan lakon Dende Tamari di Gedung Tertutup Taman Budaya NTB, yang disaksikan oleh ratusan penonton hingga larut malam.

Lebih lanjut, pertunjukan ini merupakan pementasan ke-63 BAM yang menandai perjalanan panjang kelompok teater tersebut. Dalam kesempatan ini, Kepala Taman Budaya NTB, Lalu Surya Mulawarman, menyampaikan apresiasi mendalam terhadap konsistensi BAM dan relevansi pementasan kali ini.

Sementara itu, sutradara Kongso Sukoco menegaskan bahwa teater bukan sekadar hiburan, melainkan alat untuk berpikir dan mempertanyakan.

“Oleh karena itu, kami bertekad untuk mengembalikan kekuatan kata dan rasa,” ujarnya.

Dende Tamari sendiri merupakan adaptasi dari tragedi klasik Yunani Antigone ke dalam konteks lokal Lombok. Lakon ini menghadirkan sosok Dende Tamari, perempuan Sasak yang berani menentang kekuasaan demi kemanusiaan.

Selain itu, BAM secara kreatif menafsir ulang karya besar dunia ke dalam lanskap lokal, sekaligus menghidupkan tokoh-tokoh klasik dengan tubuh dan aksen lokal.

Tidak hanya itu, pementasan ini juga melibatkan aktor muda BAM seperti Winsa, Dende Dila, dan Wulan Eryana Sain, serta didukung oleh tim kreatif yang menghadirkan kekuatan estetika berbasis lokal.

Dengan demikian, musik tradisional, tata cahaya, dan artistik panggung berhasil menjadi jembatan antara dunia klasik dan realitas lokal.

Melalui Dende Tamari, BAM mengajak penonton untuk mempercayai kekuatan perempuan, keberpihakan sosial, dan cinta pada kemanusiaan.

“Pada akhirnya, seni adalah suara perlawanan, cermin kehidupan, dan panggilan hati nurani,” demikian tutup Kongso Sukoco. ***

Editor : Najamudin Anaji

Berita Terkait

KKN IAI Hamzanwadi Kunjungi Museum Genggelang, Telusuri Narasi Sejarah yang Terlupakan
Perang Topat Bukan Toleransi
Para Budayawan Sepakati Pembentukan Dewan Kebudayaan di Tiap Daerah
Wabup Edwin Serahkan Santunan dan Dokumen pada Puncak Pesona Budaya Pengadangan
Kolaborasi Seni ‘BASWARA’ Jadi Wadah Lahirkan Seniman Muda Lombok Timur
Menghidupkan Kembali Ritual Boteng Kekep
Ngaji Budaya: Pematenan Identitas Sasak Dinilai Tidak Serius
Ali BD: Masyarakat Harus Jadi Pengimbang Kekuasaan yang Kurang Berkualitas

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 13:13 WITA

Polri Luncurkan SIM Digital, Pengendara Cukup Tunjukkan di Ponsel

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:50 WITA

Kemendikdasmen Tegaskan Guru Non-ASN Tetap Boleh Mengajar di Sekolah Negeri

Kamis, 21 Mei 2026 - 16:35 WITA

SMSI dan ABPEDNAS Jajaki Kolaborasi Nasional Perkuat Tata Kelola Desa

Selasa, 19 Mei 2026 - 18:53 WITA

Cadangan Beras RI Tembus Rekor 5,37 Juta Ton, Wamentan: Tertinggi dalam Sejarah

Minggu, 17 Mei 2026 - 14:01 WITA

Mulai 2027, Bahasa Inggris Menjadi Mata Pelajaran Wajib Bagi Siswa SD

Senin, 4 Mei 2026 - 23:30 WITA

Zulhas: Koperasi Merah Putih Menjadi Offtaker, Agen Pupuk Bersubsidi dan Penyalur Gas 3 Kg

Jumat, 1 Mei 2026 - 19:12 WITA

Prabowo Keluarkan Keppres Satgas PHK untuk Lindungi Buruh

Jumat, 1 Mei 2026 - 15:31 WITA

Prabowo Buka Baju dan Peluk Buruh Usai Pidato May Day di Monas

Berita Terbaru