Soroti Sengkarut Lotim, PMII: Guru Honorer Digaji Murah, Tambang Ilegal Malah Dipelihara

Jumat, 26 Juni 2026 - 05:49 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mereka menggelar aksi dengar pendapat (hearing) guna menyuarakan raport merah tata kelola daerah, mulai dari maraknya tambang tak berizin hingga rendahnya kesejahteraan tenaga pendidik.

Mereka menggelar aksi dengar pendapat (hearing) guna menyuarakan raport merah tata kelola daerah, mulai dari maraknya tambang tak berizin hingga rendahnya kesejahteraan tenaga pendidik.

LOMBOKINI.com – Sejumlah aktivis dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Lombok Timur mendatangi Gedung DPRD setempat pada Rabu (24/6).

Mereka menggelar aksi dengar pendapat (hearing) guna menyuarakan raport merah tata kelola daerah, mulai dari maraknya tambang tak berizin hingga rendahnya kesejahteraan tenaga pendidik.

Aspirasi massa mahasiswa ini diterima langsung oleh Wakil Ketua DPRD Lombok Timur, M. Waes Al Qarni, SE., di ruang rapat dewan.

Ketua Cabang PMII Lombok Timur, Yogi Setiawan, SH, menyatakan gerakan ini merupakan bentuk “jihad konstitusi” dalam mengawal ketimpangan yang dirasakan masyarakat arus bawah.

Isu paling krusial yang diangkat adalah nasib tragis guru honorer yang masih menerima upah jauh di bawah standar kelayakan.

“Bagaimana mungkin anak-anak kita menjadi orang terdidik sedangkan untuk seorang guru hanya dibayar sangat murah. Bahkan ada yang gajinya cuma Rp80.000, Rp100.000, dan itu pun tidak dibayar setiap bulan, melainkan sekali dalam delapan bulan,” kritik salah satu perwakilan PMII saat berargumen di hadapan pimpinan dewan.

Oleh karena itu, PMII mendesak Pemkab Lombok Timur mempercepat regulasi pengangkatan guru honorer menjadi P3K atau ASN, serta menjamin ketepatan waktu penyaluran gaji.

Baca Juga :  Lapas Selong Beri Remisi kepada 362 Warga Binaan di HUT ke-81 RI

Selain masalah pendidikan, mahasiswa juga menyoroti carut-marut distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai salah sasaran karena menumpuk di perkotaan dan mengabaikan wilayah terpencil (3T).

Kasus keracunan makanan berulang pada program tersebut juga menjadi catatan tajam mahasiswa agar pengawasan anggaran desa diperketat demi mencegah korupsi.

Sektor lingkungan hidup tidak luput dari kritik keras. PMII menuding fungsi pengawasan DPRD mandul lantaran membiarkan sekitar 80 persen aktivitas pertambangan beroperasi tanpa Izin Usaha Pertambangan (IUP) sah, hingga berdampak pada pencemaran sumber air warga.

Mahasiswa menilai ada kejanggalan dalam kebijakan daerah yang tetap menarik retribusi dari objek ilegal demi mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Tambangbilegal yang tidak resmi bukan ditarik retribusi, tapi ditutup! Ditutup untuk memenuhi regulasinya,” tegas salah satu orator massa.

PMII juga memperingatkan agar jajaran legislatif maupun eksekutif tidak bermain mata atau memiliki kepentingan bisnis dalam lingkaran tambang tersebut.

Menjawab rentetan tuntutan tersebut, Wakil Ketua DPRD Lombok Timur, M. Waes Al Qarni, menyatakan siap mengawal aspirasi mahasiswa dan meneruskan poin tuntutan mereka ke pemerintah pusat.

Baca Juga :  Polres Lombok Timur Rotasi Sejumlah Pejabat Utama dan Kapolsek

Terkait polemik penarikan retribusi pada tambang ilegal, Waes berdalih kebijakan itu merupakan langkah transisi formal berdasarkan rekomendasi bagian hukum agar para pemilik usaha segera melegalkan bisnis mereka.

“Kenapa dilakukan pemerintah penarikan retribusi? Informasi yang disampaikan kepada kami, itu rekomendasi dari mereka sembari pelaku usaha bisa mengurus atau menyelesaikan proses perizinan,” kilih Waes.

Sementara untuk isu guru honorer, Waes mengeklaim pihak legislatif sejauh ini berkomitmen penuh mengamankan posisi tenaga honorer daerah agar tidak ada kebijakan pemutusan hubungan kerja massal.

“Langkah nyatanya kemarin, semua kabupaten menghapus tenaga honorer tapi kami di kabupaten ini tidak ada yang dirumahkan. Itu bentuk pemerintah daerah mengontrol untuk menjadi P3K. Kami memiliki Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang kami arahkan untuk itu,” pungkas Waes.

Hearing ini berakhir damai dengan kesepakatan bahwa DPRD Lombok Timur akan segera memfasilitasi pertemuan lanjutan yang melibatkan mahasiswa PMII dan dinas-dinas terkait guna membedah transparansi tata kelola tambang serta regulasi daerah.

Penulis : Paozan Azima

Berita Terkait

Pemkab Lombok Timur Petakan Kebutuhan ASN, Ribuan Tenaga Honorer Masuk Usulan
Kebakaran di Pasar Keruak Hanguskan Empat Toko, Kerugian Capai Rp 400 Juta
Pemkab Lombok Timur Gelar Rakor Evaluasi Program Pencegahan Korupsi
Lombok Timur Peringkat Pertama Penerima Program LSDP Bantuan Bank Dunia
TGB Imbau Warga Lombok Timur Kompak Jaga Persatuan Jelang HUT ke-131
Kebakaran Menghanguskan Asrama Santri Ponpes NW Anjani, Tidak Ada Korban Jiwa
Festival Gawe Beleq Sakra Barat Resmi Ditutup Kapolres Lombok Timur
HMPS SI FT Unham Gelar Seminar Pangan Hadirkan Sekda Lotim

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 09:38 WITA

Kebakaran Sade: Raffi dan The Dudas-1 Beri Bantuan, Pemerintah Siapkan Rekonstruksi

Jumat, 21 Agustus 2026 - 16:02 WITA

TGB: Elan Vital Bangsa Hidup Jika Mahasiswa Terus Bersuara

Rabu, 5 Agustus 2026 - 10:21 WITA

Kejanggalan Pengelolaan APBD NTB 2025, Empat Anggota DPRD Desak BPK Gelar Audit Investigatif

Senin, 3 Agustus 2026 - 22:42 WITA

Haerul Warisin Tegaskan Jangan Seret Gerindra ke Kasus LAZ

Senin, 27 Juli 2026 - 11:27 WITA

DPD PDIP NTB Peringati 30 Tahun Kudatuli, Refleksi Perjuangan Demokrasi

Senin, 13 Juli 2026 - 16:27 WITA

BGN Kembali Salurkan MBG dan Serap Masukan dari Pelaksana di Lapangan

Jumat, 10 Juli 2026 - 17:47 WITA

Presiden Prabowo Tegaskan Komitmen Berantas Korupsi dan Tutup Kebocoran Anggaran

Kamis, 9 Juli 2026 - 14:36 WITA

Besok, Presiden Prabowo Kunjungan Kerja Perdana ke NTB

Berita Terbaru