Sejak lama, sejarah kesenian manusia sesungguhnya adalah sejarah tentang upaya melampaui keterbatasan dirinya sendiri. Seni tidak pernah benar-benar puas menjadi sekadar representasi realitas. Bahkan sejak awal, para seniman telah mencoba menembus batas tubuh, bahasa, logika, ruang, hingga identitas kemanusiaannya sendiri. Ketika pelukis prasejarah menggambar hewan di dinding gua, ketika penyair menulis metafora yang mustahil, ketika musisi menciptakan bunyi-bunyian elektronik, atau ketika sineas memakai teknologi CGI untuk membangun dunia yang tidak pernah ada—semuanya merupakan bagian dari dorongan yang sama: keinginan untuk keluar dari realitas manusia yang sempit menuju kemungkinan yang lebih luas.
Karena itu, kemunculan Artificial Intelligence atau AI sebenarnya bukanlah sesuatu yang benar-benar asing dalam perjalanan seni. AI hanyalah fase terbaru dari sejarah panjang hubungan antara manusia, imajinasi, dan teknologi berbasis bahasa algoritma yang rumit. Namun ironisnya, ketika teknologi ini mulai mampu menghasilkan gambar, musik, puisi, video, bahkan gagasan konseptual secara mandiri atau semi-mandiri, muncul ketakutan baru: bahwa AI bukan lagi dipandang sebagai alat bantu, melainkan pesaing. Dari sinilah lahir paradoks besar dalam dunia seni kontemporer kita dewasa ini. Di satu sisi, seniman selama berabad-abad lamanya ingin menciptakan sesuatu yang melampaui dirinya sebagai manusia. Di sisi lain, ketika sesuatu yang mereka ciptakan kini mampu “melampaui manusia” itu mulai muncul, manusia sendirilah yang justru merasa terancam olehnya.
Fenomena ini memperlihatkan benturan antara romantisme seni tradisional dengan logika teknologi modern yang selama ini diimpi impikan itu. Dalam paradigma klasik, seni sering dianggap sebagai ekspresi jiwa manusia—sesuatu yang lahir dari pengalaman batin, trauma, cinta, kematian, spiritualitas, dan kesadaran eksistensial yang diperjuangkan. Pandangan ini sangat dipengaruhi oleh warisan humanisme dan romantisisme Eropa abad ke-18 dan ke-19, terutama gagasan bahwa seniman adalah individu unik yang memiliki “aura” dan orisinalitas personal. Tokoh seperti Johann Wolfgang von Goethe atau Friedrich Nietzsche pada era yang sama memengaruhi pandangan bahwa kreativitas merupakan manifestasi kehendak dan pengalaman manusia yang tidak dapat direplikasi oleh mesin.
Namun memasuki abad ke-20, pemikiran tersebut mulai digugat. Gerakan avant-garde merupakan pintu gerbang menuju reruntuhan itu. Aliran aliran pun kemudian mulai bermunculan seperti Dadaisme, Surealisme, Futurisme, hingga seni konseptual yang kini justru berusaha menghancurkan definisi seni yang mapan. Tokoh tokoh yang bermunculan kala itu seperti Marcel Duchamp misalnya, pernah memamerkan urinoir sebagai karya seni berjudul Fountain pada tahun 1917. Tindakan ini menjadi simbol bahwa seni bukan lagi sekadar keterampilan teknis, melainkan permainan gagasan, konteks, dan dekonstruksi makna. Duchamp secara tidak langsung membuka jalan bagi pemikiran baru bahwa seniman tidak harus selalu “membuat” karya dengan tangan mereka sendiri. Yang penting adalah ide dan kerangka konseptualnya.
Perkembangan teknologi digital kemudian mempercepat transformasi tersebut. Pada era 1960-an hingga 1980-an, muncul seni komputer dan seni generatif yang menggunakan algoritma untuk menghasilkan karya seni visual. Seniman mulai bekerja bersama mesin. Teknologi synthesizer mengubah arah musik. Kamera digital mengubah wacana fotografi. CGI mengubah pencarian dan pencapaian sinema. Internet mengubah distribusi karya lebih mengglobal. Dititik inilah semua hal yang dikhawatirkan itu bermula. Tiap tiap-tiap perubahan ini pada awalnya juga ditolak oleh sebagian kalangan karena dianggap “tidak murni.” Ketika fotografi pertama kali ditemukan pada abad ke-19, banyak pelukis merasa terancam karena mesin kamera dianggap akan membunuh seni lukis realistis. Namun tetap saja, sejarah tengah membuktikan jalannya sendiri bahwa dewasa ini seni fotografi justru melahirkan bentuk-bentuk artistik baru, sementara seni lukis bergerak menuju impresionisme, abstraksi, ekspresionisme hingga artbrut.
AI dewasa ini pada akhirnya, berada pada posisi sejarah yang mirip dengan kemunculan teknologi sebelumnya, tetapi skalanya jauh lebih besar. Berbeda dengan teknologi sebelumnya yang hanya memperluas kemampuan teknis manusia, AI mulai memasuki wilayah yang selama ini dianggap eksklusif milik manusia: kreativitas. Model-model AI generatif kini mulai merambah pasar. AI generatif yang mampu menulis puisi, membuat ilustrasi, menciptakan musik pelbagai genre, meniru gaya visual tertentu, bahkan menghasilkan simulasi percakapan filosofis. Di sinilah muncul pertanyaan mendasar: apakah kreativitas masih bisa disebut eksklusif milik manusia?
Beberapa ilmuwan kognitif dan filsuf teknologi dewasa ini mencoba menjawab pertanyaan ini dari sudut pandang yang berbeda. Alan Turing misalnya, sejak awal telah mempertanyakan apakah mesin dapat “berpikir.” Konsep Turing Test yang ia uji coba kala itu, membuka diskusi tentang batas antara kecerdasan manusia dan kecerdasan mesin. Sementara itu, Marshall McLuhan melihat teknologi berbasis komputasi sebagai “perpanjangan tubuh manusia.” Dalam konteks ini, AI dapat dipahami bukan sebagai lawan manusia, melainkan ekstensi baru dari imajinasi yang “tetap lahir” atas kehendak manusia itu sendiri.
Namun kritik terhadap AI juga sangat kuat. Salah satu persoalan terbesar adalah legalitas dan etika. Model AI dilatih menggunakan miliaran data yang sebagian besarnya itu diambil dari internet, termasuk karya-karya seniman tanpa izin eksplisit. Banyak ilustrator, penulis, dan musisi menuduh perusahaan AI melakukan eksploitasi terhadap kerja kreatif manusia. Mereka berargumen bahwa AI “belajar” dari karya orang lain tanpa kompensasi yang layak. Gugatan hukum terhadap perusahaan teknologi mulai bermunculan di pelbagai negara. Persoalan hak cipta menjadi semakin rumit karena hukum tradisional belum sepenuhnya siap menghadapi karya yang diciptakan oleh algoritma.
Di sisi lain, pendukung AI berargumen bahwa seluruh sejarah seni sebenarnya juga dibangun dari proses peniruan, referensi, dan transformasi. Tidak ada seniman yang benar-benar menciptakan sesuatu dari kekosongan absolut. Semua seniman belajar dari karya sebelumnya. Dalam pengertian tertentu, AI dianggap hanya melakukan proses tersebut dalam skala yang jauh lebih besar dan lebih cepat. Perdebatan ini memperlihatkan bahwa konflik tentang AI sesungguhnya bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga persoalan filsafat tentang apa arti kreativitas dan kepemilikan dalam budaya manusia.
Resistensi terhadap AI juga dipengaruhi oleh faktor ekonomi. Banyak pekerja kreatif takut kehilangan pekerjaan karena perusahaan mulai menggunakan AI untuk menggantikan ilustrator, editor, penulis naskah, atau komposer musik. Ketakutan ini tidak sepenuhnya irasional. Revolusi industri sebelumnya memang menunjukkan fenomena yang sama, bahwa teknologi sering menggantikan jenis-jenis pekerjaan tertentu. Namun sejarah juga memperlihatkan bahwa teknologi biasanya melahirkan bentuk pekerjaan dan medium artistik baru untuk menggantikan yang hilang sebelumnya itu. Tantangannya adalah bagaimana masyarakat mampu beradaptasi secara etis dan struktural terhadap perubahan tersebut.
Dalam konteks seni kontemporer, AI justru mulai membuka kemungkinan artistik yang sebelumnya sulit dibayangkan. Seniman kini dapat berkolaborasi dengan mesin untuk menciptakan karya interaktif, instalasi berbasis data, musik generatif, hingga pertunjukan multimedia yang terus berubah secara real-time. AI memungkinkan eksplorasi bentuk-bentuk estetika baru yang bersifat hibrid antara manusia dan algoritma. Dalam beberapa kasus, AI bahkan diperlakukan bukan sebagai alat, tetapi sebagai “rekan kreatif”.
Fenomena ini berkaitan erat dengan konsep posthumanism, yaitu gagasan filsafat yang mempertanyakan posisi manusia sebagai pusat segalanya. Tokoh seperti Donna Haraway melalui gagasan Cyborg Manifesto menjelaskan bahwa batas antara manusia, mesin, dan teknologi sebenarnya semakin kabur. Dalam dunia posthuman, identitas manusia tidak lagi tunggal dan stabil, melainkan bercampur dengan jaringan teknologi, data, dan sistem digital. Seni berbasis AI menjadi salah satu manifestasi paling nyata dari perubahan tersebut. Saat manusia sadar bahwa dirinya sedang menggenggam smartphone misalnya. Sudah secara langsung menunjukkan bahwa manusia tidak lagi mengandalkan seluruh elemen dan kemampuan dirinya sebagai manusia. Melainkan sedang berkolaborasi dengan teknologi mesin.
Namun penting dipahami bahwa AI tidaklah memiliki kesadaran emosional sebagaimana manusia. AI bekerja melalui pola statistik, prediksi data, dan probabilitas linguistik atau visual. Mesin tidak mengalami kesedihan, cinta, trauma, atau kerinduan secara eksistensial. Yang dilakukan AI adalah mensimulasikan pola-pola ekspresi tersebut berdasarkan data yang dipelajarinya. Karena itu, sebagian kritikus tetap percaya bahwa manusia akan selalu memiliki dimensi pengalaman batin yang tidak bisa digantikan mesin. Bahkan jika manusia menitipkan perintah agar AI ini dapat mengutarakan makna kesedihan, kebahagiaan, kecemasan dan sebagainya. Tetap saja AI tidak sedang merasakannya sebagai entitas biologis.
Meski demikian, perdebatan ini mungkin justru menunjukkan sesuatu yang lebih mendasar: bahwa manusia sebenarnya sedang berhadapan dengan refleksi dirinya sendiri. AI adalah cermin besar dari akumulasi budaya manusia. Ia belajar dari jutaan lukisan manusia, miliaran kalimat manusia, dan ribuan tahun sejarah ekspresi manusia yang di digitalisasi. Ketika AI menghasilkan karya yang tampak “manusiawi,” sesungguhnya yang terlihat adalah pantulan kolektif dari peradaban manusia itu sendiri.
Maka tuduhan bahwa AI telah “merampas” seni mungkin terlalu sederhana dan mengada ada. Yang sedang terjadi sebenarnya adalah pergeseran definisi tentang seni, kreativitas, dan kemanusiaan. Seperti semua hal tentang revolusi artistik sebelumnya, AI memunculkan ketakutan sekaligus kemungkinan baru. Ia dapat menjadi alat eksploitasi kapitalisme digital, tetapi juga dapat menjadi medium eksplorasi artistik yang radikal. Ia dapat menghancurkan pekerjaan tertentu, tetapi juga membuka bahasa estetik yang belum pernah ada sebelumnya.
Pada akhirnya, pertanyaan paling penting bukanlah apakah AI bisa menjadi seniman, melainkan: bagaimana manusia memilih untuk tetap menjadi manusia di tengah teknologi yang semakin menyerupainya. Sebab, mau secanggih apapun teknologi AI yang belakangan ini dianggap sebagai ancaman oleh sebagian kalangan manusia. Faktanya manusialah yang menjadi pusat kendalinya, karena di sini, manusia hanya bertindak sebagai pengguna. Manusia yang masih berupaya menjaga kewarasannya justeru menitikberatkan edukasinya ditujukan pada manusia lainnya agar lebih selektif dan memiliki keterampilan untuk memilih, “memanfaatkan teknologi ini atau meninggalkannya” meskipun pada akhirnya, tetap saja akan menimbulkan dua simpulan yang terus berulang. “Bahwa teknologi ciptaan manusia akan melahirkan dua versi barisan masyarakat yang berdiri berdampingan, antara mereka yang pro dan kontra”
Sawing, 2026
Penulis : Yuspianal Imtihan
Editor : Paozan Azima







