LOMBOKINI.com – Warga Desa Suela, Lombok Timur, menolak tegas rencana pembangunan Sekolah Unggulan SMA Garuda Taruna Nusantara standar Nasional di kawasan Kebun Raya Lemor.
Mereka menegaskan kawasan tersebut merupakan aset berharga yang wajib dilindungi,baik oleh pemerintah maupun masyarakat.
Kebun Raya Lemor: Aset Ekologis dan Sosial yang Terancam
Parizi, perwakilan warga, menekankan bahwa Kebun Raya Lemor menyimpan nilai ekologis dan sosial yang sangat tinggi. Mantan aktivis PMII tersebut menegaskan,
“Kebun raya ini merupakan aset berharga bersama dengan mata air Lemor yang telah memberikan banyak manfaat bagi masyarakat,” dalam keterangan resminya pada Senin 8 September 2025.
Parizi mengingatkan bahwa status hukum kawasan tersebut telah ditetapkan sebagai Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) melalui SK Menteri Kehutanan No. 22/2012.
Pemerintah Kabupaten Lombok Timur memperkuat status ini dengan menerbitkan Peraturan Bupati No. 188.45/714/LHK/2017 yang menetapkan kawasan tersebut untuk fungsi konservasi, penelitian, dan wisata ekologi.
Tawaran Solusi: Manfaatkan Lahan Tidak Produktif
“Kami menolak keras pembangunan sekolah di sana. Pemerintah seharusnya menambah aset, bukan malah mengurangi,” tegas Parizi.
Ia menambahkan bahwa warga tidak menolak pembangunan sekolah unggulan, namun mereka menolak lokasinya di kawasan konservasi.
Parizi menyarankan pemerintah memanfaatkan tanah lain yang kurang produktif. “Pemda memiliki banyak aset tanah. Lebih baik gunakan tanah pecatu atau lahan tidak produktif daripada mengorbankan Kebon Raya Lemor,” ujarnya.
Warga berharap pemerintah daerah dan DPRD meninjau ulang rencana tersebut. “Kami berharap bupati meninjau kembali kebijakan ini, dan DPR menjalankan fungsi kontrolnya,” pungkasnya.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melakukan kunjungan kerja ke Lombok Timur pada Sabtu (16/8) untuk meninjau rencana pembangunan SMA Unggulan Garuda Nusantara.
Sekretaris Daerah Lombok Timur, Juaini Taofik, secara langsung menerima kunjungan tersebut di ruang rapat bupati. Pertemuan itu juga dihadiri oleh sembilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dan akademisi dari Universitas Mataram.
Mereka membahas pemanfaatan lahan Kebun Raya Lemor yang memiliki luas total 40 hektare. Rencananya, 20 hektare lahan akan dialihkan untuk pembangunan sekolah, sementara sisanya akan tetap sesuai peruntukan awal.
Target Pembangunan dan Status Lahan
Sekda Juaini Taofik menyatakan dukungan penuh terhadap proyek yang merupakan program strategis Kementerian Pendidikan Tinggi ini. SMA Unggulan Garuda Nusantara akan berstatus nasional dengan pendanaan penuh dari pemerintah pusat. Meski berdiri di Lombok Timur, sekolah ini akan merekrut siswa dari seluruh Indonesia.
Sekda memastikan bahwa dokumen administrasi akan pihaknya selesaikan tepat waktu. Mereka menargetkan pembangunan dapat selesai pada awal tahun 2026.
“Tanahnya sudah ada dan bersertifikat, tinggal proses balik nama,” tutup Juaini Taofik. ***
Editor : Najamudin Anaji







