LOMBOKINI.com – Pegiat lingkungan Angga Setio Utomo menyoroti gelombang bencana di Sumatera sebagai peringatan keras bagi NTB. Menurutnya, daerahnya juga rentan terhadap bencana ekologis serupa.
“Ini bukan hanya duka bagi Aceh atau Sumatera. Ini duka kita bersama sebagai bangsa,” ujar Angga, Senin 14 Desember 2025.
Data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan, banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah menewaskan sedikitnya 990 orang. Sebanyak 5.400 orang luka-luka dan 220 orang masih hilang.
Bencana tersebut melanda 52 kabupaten/kota, merusak ribuan fasilitas publik, dan mengungsikan sekitar 800 ribu warga.
Angga mengingatkan banjir bandang yang melanda bantaran Kali Ancar dan Kali Jangkuk di Mataram pada 6 Juli 2025 lalu. Dia menjelaskan, cuaca ekstrem yang diperburuk degradasi lingkungan dan alih fungsi lahan mengancam banyak wilayah, termasuk NTB.
“Intinya mari bekerja sama, bahu-membahu, gotong royong menjaga lingkungan dan alam NTB yang kita cintai ini,” serunya.
Ia menekankan, penanganan darurat oleh pemerintah harus sejalan dengan perubahan perilaku masyarakat. Pencegahan dari hulu, menurutnya, adalah kunci agar bencana tidak terus berulang dengan skala lebih besar.
Angga berharap tragedi di Sumatera menjadi cermin bagi semua pihak di NTB untuk berbenah sebelum bencana datang tanpa peringatan. ***
Editor : Najamudin Anaji







