Sargassum, dari Momok Wisata Jadi Harapan Baru Pertanian NTB

Rabu, 27 Agustus 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kick off program Blue Innovative Startup Acceleration (BISA) di Lombok Timur. (Foto: Lombokini.com/Hari).

Kick off program Blue Innovative Startup Acceleration (BISA) di Lombok Timur. (Foto: Lombokini.com/Hari).

LOMBOKINI.com Selama bertahun-tahun, Sargassum mengganggu wisata bahari dan aktivitas nelayan pesisir. Namun, anak muda NTB bersama mitra startup kini mengubah gulma laut cokelat ini menjadi produk biostimulan yang menyuburkan lahan pertanian.

Melalui program Blue Innovative Startup Acceleration (BISA), Lombok Research Center (LRC) dan startup Aquabloom memperkenalkan teknologi yang mengolah Sargassum menjadi biostimulan pertanian.

Mereka meluncurkan program ini di Desa Kertasari, Kecamatan Labuhan Haji, dengan dukungan penuh pemerintah daerah, baik Provinsi NTB maupun Kabupaten Lombok Timur.

Direktur LRC, Suherman, menyatakan inisiatif ini merupakan bagian dari upaya besar untuk membangun pertanian berkelanjutan.

“Sargassum menyimpan nilai ekonomi yang tinggi. Dengan dukungan banyak pihak, proyek ini akan berkelanjutan dan memberi manfaat bagi masyarakat pesisir dan petani,” katanya pada Selasa, 26 Agustus 2025.

Aquabloom melihat peluang besar di balik masalah yang selama ini ditimbulkan Sargassum. Direktur Aquabloom, Michelle Arsjad, menyebut biostimulan berbahan Sargassum mampu meningkatkan hasil pertanian 20-30 persen.

Baca Juga :  Kebakaran di Pasar Keruak Hanguskan Empat Toko, Kerugian Capai Rp 400 Juta

“Produk ini dapat petani gunakan untuk berbagai tanaman. Dari padi, jagung, hortikultura, hingga tembakau. Uji coba di sejumlah daerah menunjukkan 90 persen lahan mengalami peningkatan produksi,” jelasnya.

Michelle menekankan bahwa kunci keberhasilan terletak pada keberlanjutan. Menurutnya, program ini harus bersifat jangka panjang dan masyarakat dapat mereplikasinya di lokasi lain.

“Tanpa kesinambungan, manfaatnya hanya sesaat. Karena itu, semua pihak perlu terlibat,” tambahnya.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi NTB menilai inisiatif ini mendukung agenda pembangunan daerah. PPID Bappeda NTB, Maulida Illiyani, menyatakan pengolahan Sargassum sangat relevan dengan isu ketahanan pangan dan pengurangan kemiskinan.

“Program ini memberikan dampak kompleks, mulai dari mengurangi sampah, mewujudkan pertanian berkelanjutan, hingga meningkatkan ekonomi pesisir,” katanya.

Baca Juga :  Ratusan Ribu Jamaah Banjiri Pancor, Ikuti Hultah ke-91 NWDI dan Haul ke-29 Maulana Syaikh

Dia juga menekankan pentingnya dukungan masyarakat desa. “Jika pemerintah desa dan masyarakat bersatu, saya yakin Kertasari tidak hanya maju di sektor pertanian, tetapi juga memiliki komoditas unggulan dari Sargassum,” tambah Maulida.

Inovasi biostimulan ini menawarkan perspektif baru: limbah laut dapat menjadi solusi pangan. Dalam konteks global, pendekatan ini sejalan dengan tren ekonomi biru yang memanfaatkan potensi laut untuk pertumbuhan ekonomi berkelanjutan tanpa merusak ekosistem.

Inovasi semacam ini tidak hanya memberi nilai tambah bagi masyarakat lokal, tetapi juga dapat menjadi model bagi daerah lain.

Acara peluncuran program ini mereka tutup dengan penandatanganan kontrak kerja sama antara LRC, Aquabloom, dan Pemerintah Desa Kertasari.

Meski baru langkah awal, inisiatif ini menawarkan narasi baru bagi NTB; dari wilayah yang berhadapan dengan tumpukan gulma laut, menjadi pelopor inovasi ekonomi biru berbasis masyarakat.***

Penulis : Hari

Editor : Najamudin Anaji

Follow WhatsApp Channel lombokini.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

UAS Paparkan Tujuh Pelajaran dari Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid
Wabup Lombok Timur Ingatkan Warga Tak Salahkan Kadus hingga Bupati soal Bansos
DPRD Lotim Sesalkan Pemkab: Pungut Retribusi, Lalai Rawat Pasar
Pemkab Lotim Alokasikan Tambahan APBD 2026 untuk Infrastruktur dan Kesehatan
Bapenda Lotim Kejar PAD Rp 600 M, Target 100 Persen Akhir Tahun
Pemerintah Saling Tuding Soal Carut-Marut Data Desil, Masyarakat Harus ke Mana?
Pemkab Lombok Timur Petakan Kebutuhan ASN, Ribuan Tenaga Honorer Masuk Usulan
Kebakaran di Pasar Keruak Hanguskan Empat Toko, Kerugian Capai Rp 400 Juta

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 14:43 WITA

UAS Paparkan Tujuh Pelajaran dari Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid

Jumat, 11 September 2026 - 22:05 WITA

Wabup Lombok Timur Ingatkan Warga Tak Salahkan Kadus hingga Bupati soal Bansos

Rabu, 9 September 2026 - 18:38 WITA

DPRD Lotim Sesalkan Pemkab: Pungut Retribusi, Lalai Rawat Pasar

Rabu, 9 September 2026 - 14:14 WITA

Pemkab Lotim Alokasikan Tambahan APBD 2026 untuk Infrastruktur dan Kesehatan

Selasa, 8 September 2026 - 14:42 WITA

Bapenda Lotim Kejar PAD Rp 600 M, Target 100 Persen Akhir Tahun

Berita Terbaru

Kegaduhan Seputar Desil. (Foto: Lombokini.com)

Opini

Kegaduhan Seputar Desil 

Sabtu, 19 Sep 2026 - 16:40 WITA

{"remix_data":[],"remix_entry_point":"challenges","source_tags":["local"],"origin":"unknown","total_draw_time":0,"total_draw_actions":0,"layers_used":0,"brushes_used":0,"photos_added":0,"total_editor_actions":{},"tools_used":{"addons":1,"transform":1,"effects":1},"is_sticker":false,"edited_since_last_sticker_save":true,"containsFTESticker":false}

Sastra

CERPEN-CERPEN YUSPIANAL IMTIHAN: Tetaring Hultah

Senin, 14 Sep 2026 - 05:52 WITA