LOMBOKINI.com – Teluk Ekas di Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), memikat peselancar global dengan ombak berlapis dan panorama eksotis. Namun, kepadatan pengunjung mengancam keindahan dan keselamatan spot selancar yang diakui setara Hawaii ini.
Peselancar dari berbagai tingkatan, pemula hingga profesional, mengakui ombak Ekas sangat ramah. Fanfan, peselancar asal China yang telah menjelajahi 12 negara, menyamakan sensasi Ekas dengan Hawaii, Amerika Serikat. Ia mengaku jatuh hati pada ketenangan dan kealamian Ekas.
“Ekas menawarkan suasana lebih tenang dan alami. Hanya Ekas yang membuat saya jatuh hati,” ujar Fanfan kepada awak media Rabu 13 Agustus 2025. Ia memuji momen ketika ombak bergelombang serempak membentuk lintasan sempurna, didukung langit biru dan air jernih.
“Di sini, saya merasa seperti di dunia lain. Bahkan, saya berencana menetap lebih lama,” tambahnya.
Namun, Fanfan memperingatkan ancaman serius: kepadatan pengunjung. Ia menceritakan satu spot kecil pernah memadati 11 kapal dengan 100 orang.
“Satu ombak idealnya cukup untuk dua orang. Pernah suatu hari, saya tertabrak pemula sampai kepala terluka dan dijahit enam jahitan!” tegasnya.
Menurutnya, bahaya utama berasal dari rebutan spot yang memicu intimidasi hingga kekerasan. Fanfan juga menyoroti lemahnya regulasi: “Spot ini milik desa, tapi pemerintah belum menetapkan aturan kunjungan yang jelas!” protesnya, merujuk pada absennya aturan ketat untuk kapal rute Awang-Ekas.
Ia berharap semua pihak menjaga keindahan Ekas. “Saya selalu kembali setiap tahun… karena orang-orangnya ramah dan tidak saling serobot. Rasanya, Ekas seperti surga nyata,” pungkas Fanfan.
Menanggapi hal ini, Staf Khusus Pariwisata Lombok Timur Ahmad Roji menegaskan Pemda telah menerbitkan aturan pembatasan.
“Saat ini, kami membatasi maksimal empat kapal per jam dengan tujuh penumpang. Penumpukan kapal jelas merusak kenyamanan dan aturan ini harus semua pihak taati!” tegasnya.
Aturan tersebut bertujuan melindungi spot selancar sekaligus menjaga keamanan pengunjung. ***
Penulis : Najamudin Anaji







