Penderitaan Modern di Era AI: Manusia dan Realitas Palsu, Sastra sebagai Penawarnya

Kamis, 18 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Penderitaan yang sesungguhnya: ketika orang tidak lagi hidup dalam kejujuran dengan dirinya sendiri. Itulah gambaran penderitaan manusia modern.

Penderitaan yang sesungguhnya: ketika orang tidak lagi hidup dalam kejujuran dengan dirinya sendiri. Itulah gambaran penderitaan manusia modern.

LOMBOKINI.com – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan modernisasi, manusia modern justru kerap terjebak dalam kepalsuan realitas yang melahirkan penderitaan eksistensial.

Menanggapi fenomena ini, penyair dan pengamat sosial-budaya terkemuka Indonesia, Riki Dhamparan Putra, menegaskan bahwa karya sastra memegang peran krusial sebagai media untuk menguji sekaligus mendewasakan manusia dalam menghadapi realitas tersebut.

Riki Dhamparan Putra—sastrawan kelahiran Pasaman, Sumatera Barat, yang dikenal lewat karya-karya puitisnya seperti Percakapan Lilin (2004) dan Mencari Kubur Baridin (2014)—menyampaikan pandangan mendalam mengenai kegagalan manusia modern.

Sastrawan yang juga aktif menulis esai sosial-budaya ini menggarisbawahi bahwa sebagian besar manusia pada dasarnya secara eksistensial akrab dengan kegagalan.

“Kegagalan itu secara eksistensial memang takdir kita, terima saja. Namun, kegagalan itu baru akan menjadi bermakna jika kita mampu mengeksplorasinya menjadi sesuatu yang bisa dibagikan dengan orang lain. Di sinilah salah satu fungsi mendalam dari sastra,” ujar Riki di sebuah acara diskusi publik di Kampus 2 Universitas Hamzanwadi, Kamis 11 Juni 26.

Baca Juga :  CERPEN Yuspianal Imtihan: Pertanyaan Seputar Cerpen

Meminjam kerangka guru besar dan antropolog Teuku Jacob mengenai sejarah interaksi manusia dengan alat, Riki mengaitkan konsep penderitaan tersebut dengan metafora penyair legendaris Amir Hamzah, yaitu “bertukar tangkap dengan lepas.”

Menurut pembacaannya yang sejalan dengan para ahli, manusia cenderung gagal mengendalikan temuan-temuannya sendiri. Jargon pemerintah maupun ekonomi tentang pembangunan modernisme yang menjanjikan kesejahteraan dinilai kandas.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa kemajuan teknologi modern, termasuk AI, justru berjalan beriringan dengan kesenjangan ekonomi yang terus meningkat.

Teknologi, menurut Riki, kerap melahirkan platform komoditas yang menampilkan “realitas palsu”. Melalui media sosial, manusia didorong untuk terus berpura-pura bahagia dan menampilkan citra terbaik lewat emotikon atau manipulasi visual, meskipun realitas kehidupan batin mereka yang sebenarnya sedang kusut atau menderita.

Baca Juga :  CERPEN YUSPIANAL IMTIHAN: CERpen ini (Di)buat Menggunakan AI

“Di mata Pak Jacob, itulah penderitaan yang sesungguhnya: ketika orang tidak lagi hidup dalam kejujuran dengan dirinya sendiri. Itulah gambaran penderitaan manusia modern,” lanjutnya.

Riki, yang juga menulis buku kumpulan esai Suaka-Suaka Kearifan (2018) dan Berdiang di Perapian Buya Syafii (2021), menekankan pentingnya kehadiran sastra di era digital ini. Berbeda dengan platform modern yang memalsukan realitas demi kesenangan semu, sastra bergerak dengan cara yang jujur.

“Sastra tidak memalsukan realitas, tapi bermain dengan realitas. Dengan seperti itu sastra justru menguji bagaimana realitas tersebut dapat mendewasakan kita,” pungkas Riki.

Di akhir penjelasannya, ia mengajak para pencinta dan pelajar sastra Indonesia untuk tidak melupakan akar kepenyairan Nusantara dengan kembali membaca karya-karya Amir Hamzah.

Menurutnya, memahami kedalaman sajak Amir Hamzah merupakan kunci penting untuk menangkap pesan eksistensial yang juga ia tuangkan dalam puisi-puisinya sendiri. ***

Penulis : Paozan Azima

Follow WhatsApp Channel lombokini.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

CERPEN YUSPIANAL IMTIHAN: CERpen ini (Di)buat Menggunakan AI
CERPEN Yuspianal Imtihan: Pertanyaan Seputar Cerpen
CERPEN Yuspianal Imtihan: Warisan Ilmu Kecepatan Tangan
Sempurnakan Program DAK 2027 dengan Mendata Penulis Lokal: Adakah Peluang Pengadaan Buku Karya Penulis Lokal?
CERPEN Yuspianal Imtihan: Ada Kosnpirasi Di Cerita Ini 
Viralisasi Berkelindan dengan Motif Ekonomi, Program Literasi Selalu Dilayakkan Proyek Belaka

Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 06:07 WITA

CERPEN YUSPIANAL IMTIHAN: CERpen ini (Di)buat Menggunakan AI

Minggu, 23 Agustus 2026 - 08:00 WITA

CERPEN Yuspianal Imtihan: Pertanyaan Seputar Cerpen

Kamis, 6 Agustus 2026 - 05:34 WITA

CERPEN Yuspianal Imtihan: Warisan Ilmu Kecepatan Tangan

Kamis, 9 Juli 2026 - 17:24 WITA

Sempurnakan Program DAK 2027 dengan Mendata Penulis Lokal: Adakah Peluang Pengadaan Buku Karya Penulis Lokal?

Rabu, 1 Juli 2026 - 14:25 WITA

CERPEN Yuspianal Imtihan: Ada Kosnpirasi Di Cerita Ini 

Berita Terbaru

Tampak botol bir Bintang, botol air mineral Aqua Panna, serta satu loyang pizza ukuran medium beralas papan kayu menghiasi meja kayu di pinggir Pantai Kuta, Lombok Tengah. (Foto: Lombokini.com/Tangkapan Layar Story medsos Yeyen Safitri)

Gaya Hidup

Perindo Tegur Keras Anggota DPRD Lotim YS Usai Story Botol Miras

Kamis, 10 Sep 2026 - 13:31 WITA

Anggota DPRD Lombok Timur dari PAN, Ir. Baidullah. (Foto: Lombokini.com)

Lombok Timur

DPRD Lotim Sesalkan Pemkab: Pungut Retribusi, Lalai Rawat Pasar

Rabu, 9 Sep 2026 - 18:38 WITA