CERPEN Yuspianal Imtihan: Ada Kosnpirasi Di Cerita Ini 

Rabu, 1 Juli 2026 - 14:25 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi (istimewa LOMBOKINI.com/Zan)

Ilustrasi (istimewa LOMBOKINI.com/Zan)

Empat jam setengah setelah Azan subuh berkumandang, Pak Anal dicari cari Ibu Soh. Tetapi sampai langit menguning lalu berubah orange, sampai semua penghuni di kampus tempatnya bekerja ini akan pulang melanjutkan studi mengeja pelajaran hidupannya masing masing, pak Anal belum juga menampakkan batang hidungnya. Padahal pak Anal biasanya akan sangat dengan mudah ditemukan di kantin bawah nangka. Tempat favorit, sekaligus sebagai laborarotium alami, juga sebagai ruang kelas yang maha asyik menurut pandangan sederhananya. Selain menjadi laboratorium dan ruang kelas yang maha asyik, di kantin bawah nangka inilah pak Anal selalu bersedia menenggelamkan dirinya lebih dalam, agar ia dapat menjadi saksi hidup atas berbagai keluhan mahasiswa, yang gemar membahas segala sesuatu, mengenai situasi dan kondisi yang kerap mereka alami di kampusnya.

Pak Anal selalu bersedia mendengar keluhan para masiswa dari program studinya sendiri. Program Studi Seni Drama Tari dan Musik (Prodi Sendratasik). Mereka sering mengeluh soal sarana dan prasarana di kampusnya yang masih kurang lengkap; sampai sekarang kampusnya belum juga memiliki gedung pertunjukan yang layak. Yang sewaktu waktu bisa mereka gunakan untuk menggelar suatu pementasan. Persoalan mereka yang agak berat adalah karena mereka akan selalu merasa menderita secara finasial pada saat nantinya menghadapi ujian tengah semester dan ujian akhir semester.

Keluhan lain yang tak kalah menyita perhatian para mahasiswanya adalah karena suara suara sumbang yang malah lebih sering terdengar apabila mereka memilih berkegiatan di area kampus. Mereka sering sekali kena komplain dari para dosen dari program studi lain yang sama sekali tidak faham seni. Mereka (para dosen) itu beralasan bahwa apa yang dilakukan oleh para mahasiswa tersebut dapat mengganggu jam pelajaran. Padahal suara drumband di kampusnya jauh lebih menganggu dan meninimbulkan polusi suara selama berpuluh-puluh tahun lamanya ketimbang pementasan yang mereka lakukan dengan memperhatikan manual acara dan sebagainya dan sebagainya.

Akibatnya, ya mereka selalu mengalah. Konsekuensinya ya mau tidak mau, mereka harus merogoh kocek lebih dalam untuk menyukseskan pementasan di tempat lain. Pak Anal benar-benar berat melihat perjuangan mereka, saat nantinya harus berujung patungan untuk menyewa gedung, membiayai properti, artistik pertunjukan, panggung, konsumsi dan transportasi yang terus saja membengkak dari tahun ke tahun. Apalagi situasi sekarang ini BBM malah harganya dinaikkan lagi. Berulang-ulang kali, yang juga barangkali ini dilakukan untuk menutup-nutupi kasus lain. Pikir pak Anal begitu.

Kendati demikian, belakangan ini pak Anal justru sedang merasa prihatin dan sangat menyayangkan bahwa saat ini sudah sangat jarang ada mahasiswa yang berani menyuarakan segala macam kasus dan bentuk kekacauan yang terjadi dan menimpa negara ini. Mereka seperti sudah dibungkam sedemikian hebatnya. Mereka sudah sangat terlena dengan dagelan baru, besutan para elit dari sebuah komunitas rahasia, bernama program prestasi mahasiswa. Yang mana menurut tafsirannya, program prestasi mahasiswa ini adalah sebuah program resmi yang secara terus-menerus dihujamkan tepat di hati dan fikiran mereka, sebagai sebuah proses doktrinisasi tingkat tinggi dan sangatlah sulit untuk dihalang-halangi.

Lagi baginya, program prestasi ini, goals-nya adalah bahwa mereka harus dinyatakan siap bersaing di tingkat global pada era digital masa kini dan di waktu-waktu yang akan datang. Produk turunannya, kelak mereka akan bertindak sebagai yang maha manut, yang maha “Iya kami siap”, yang maha “baik diterima” dan yang maha “oke” untuk mempermudah jalannya skenario perubahan pada wajah wajah baru, dalam kajian kajian kebudayaan yang disusun secara ajek dan benar. Oleh siapa? Siapa lagi kalau bukan sekelompok elit tadi. Yang jelas dan sudah pasti adalah bahwa hari ini pak Anal seolah-olah dikabarkan menghilang. Pak Anal seolah di bawa asa dan terdampar di tubir penantian yang maha sabar.

Apa sebenarnya yang terjadi padanya? Mengapa ia secara tiba-tiba raib bak air hujan yang menyesap masuk ke atas pasir yang kering? Tidak ada yang tahu. Padahal di lantai dua. Di gedung rektorat yang bentuknya kotak dan kurang estetik ini, ada Ibu Soh yang dengan wajah getir dan sangat gelisah menunggu kabar keadaan dan kondisinya. Mengingat, para mahasiswa yang diutus untuk mencari keberadaan pak Anal hidup-hidup sejak tadi pagi belum juga kembali.

“Yaok. Ndekman-man kendaitan pak Anal? Be mbe jek laikne pak Anal ah? Obak mek pada pete ya malik sampek ne kendaitan ndeh. Dendek ulek-ulek pokok mundek ne kendaitan. Harus ne selesai selapuk masalah ine, jelo ine, jelo ine doang melengku (Loh, belum ketemu juga pak Anal? Mmm kemana sebenarnya pak Anal ya? Coba kalian cari lagi sampai dia ketemu ya. Pokoknya, jangan pulang pulang kalau dia belum di ketemukan. Harus dia selesai semua masalah ini, hari ini, Saya maunya hari ini)

Baca Juga :  Sastra Menjadi ‘Suaka’ di Tengah Absurditas Era Digitalisasi

Ibu Soh langsung menanyai beberapa orang mahasiswa yang kembali setelah wara-wiri kesana-kemari mencari Pak Anal.

“ye angkak ne buk. ndk man inik kendaitan, padahal ito ite wah aning kami mete ye. Terakhir kami endah mastiang jok Balene, laguk ndk arak iti. Seninak ne endah ketoan kemi. Laguk ndkne taok mbe jage laikne. Kembek jek angkak buk, arak masalah apa jek Bu? Astaga maaf buk, maafang ite gih karena lancang beketoan marak ngene?”

Jawab salah seorang di antara mereka. Mereka sepertinya tampak menderita sekali, karena kelelahan setelah seharian bolak balik, dari satu titik ke titik pencarian lainnya. Belum lagi saat mereka harus berlari menuju lantai dua di gedung rektorat kampus ini. Tapi sebentar, pernyataan di atas perlu diterjemahkan terlebih dahulu kedalam bahasa Indonesia yang Artinya;

“Iya makanya ini Ibu. Belum bisa ditemukan. Padahal sudah kesana kemari kami mencarinya. Terakhir kami juga memastikan ke rumahnya. Tapi tidak ada. Istrinya juga kami tanyai, tetapi dia juga tidak tahu pak Anal pergi kemana. Memangnya ada apa Buk? Apakah Ibu ada masalah? Astaga maaf ya bu karena saya telah lancang bertanya seperti ini?”

“Sebentar Ibu, mohon maaf ya. Sebelum Ibu lanjutkan berbicara lagi dengan kami. Bagaimana kalau sekarang Ibu ngomongnya pakai bahasa Indonesia saja. Sekali lagi maaf ya buk. Tiang sekedar menyarankan. Tiang juga berpikir ini penting, agar si pengarang cerpen ini tidak bolak balik menerjemahkan bahasa daerah kita ke dalam bahasa Indonesia, repot bu. Repot. Si pengarang yang berperan menulis cerita ini juga mesti diselamatkan terlebih dahulu agar ia tidak kesal di belakang nanti.” Ucap salah seorang mahasiswa yang dengan gagah berani mau mengatur dan memerintah Ibu Soh.

“We yak pe kurang ajar lalok ke, imbe ke adab pe lek gurunpe ka, be terus epe nono mele ngatur dait pe perintah perintah apa apa juakne. We pe Sulhiah, pe Doris coba epe ahdue nono pe inget inget isin pengajian te terbin nono. Adap di atas ilmu nono lebih penting. Yak pe tuang ke?” (Hei jangan kamu kurang ajar makanya, dimana adabmu kepada gurumu ah, lah kok kamu yang malah mau mengatur atur juga kamu memerintah segala sesuatunya. Woi kamu Sulhiah, kamu Doris coba kamu ingat ingat lagi isi pengajian kita yang kemarin itu. Bahwa adap di atas ilmu itu jauh lebih penting. Apa kalian tidak tahu?”

Tampak seorang mahasiswa berwajah oval, tegas dan keturunan Suralaga di antara mereka, tiba tiba menyela kedua orang temannya. Lantaran satu temannya yang cewek bernama Sulhiah itu dinilai terlalu lancang setelah bertanya dan menyimpulkan sendiri prihal apa yang terjadi antara Ibu Soh dan pak Anal.

Masak iya si Sulhiah tadi tega sekali menanyakan apakah ada hubungan yang spesial antara Ibu soh dan pak Anal. Sehingga Ibu Soh harus segera meminta pertanggung jawaban pak Anal. Di mana karena lari dari tanggung jawabnya, akhirnya pak Anal memilih menghilang. Ia juga tadi bertanya apakah pak Anal meninggalkan Ibu Soh karena sebelumnya Ibu Soh tahu kalau pak Anal ternyata bukanlah orang yang baik. Pak Anal yang menurut penilaian objektifnya Ibu Soh. Ternyata selama bekerja sebagai dosen, pak Anal memiliki kinerja yang buruk, tidak bisa mengajar, suka marah marah dan memiliki banyak pembenci di kampusnya. Sehingga pak Anal harus segera di sidang olehnya. Sidang etik. Lalu si Sulhiah juga mereka-reka bahwa barangkali karena meja kerja Ibu Soh telah dinodai. Sehingga pak Anal harus diminta sesegera mungkin agar menghapus noda tersebut. Yang terakhir menurut si Sulhiah itu, dengan menambahkan lagi rekaannya: Bahwa jangan-jangan karena pak Anal ingin segera menikahi ibu mertuanya Ibu Soh yang menjanda berpuluh-puluh tahun. Sehingga mengetahui itu, Ibu Soh tidaklah sudi memiliki mertua seperti pak Anal yang tidak bertanggung jawab, yang tidak baik, memiliki kinerja yang buruk, tidak bisa mengajar, suka marah marah, memiliki banyak pembenci,  juga merupakan orang yang telah menodai meja kerjanya Ibu Soh. Jadi, pak Anal memang sudah sepantasnya mendapatkan ganjaran. Iya, si Sulhiah-lah yang tadi dengan lantang mengatakan itu semua, sambil beberapa kali terlihat menindas jerawatnya yang banyak dipipi kirinya, yang besarnya kayak biji-biji kedelai.

Baca Juga :  Penderitaan Modern di Era AI: Manusia dan Realitas Palsu, Sastra sebagai Penawarnya

Sementara temannya yang lain, seorang mahasiswa yang bernama Doris itu, malah menyarankan kalau Ibu Soh mau berbicara dengan mereka, lebih baik Ibu Soh menggunakan bahasa Indonesia saja. Sebab, dengan menggunakan bahasa Indonesia maka semua orang Indonesia yang suka membaca akan langsung tahu artinya. Soalnya, orang Indonesia yang kurang membaca akan memiliki wawasan dan pengetahuan yang sedikit. Sambil memberi penekanan dibagian ini; Bahwa orang Indonesia yang kurang membaca akan menjadi orang bodoh, yang mudah sekali kena tipu daya. Bahwa orang Indonesia yang tidak suka membaca dan berakhir bodoh soalnya sudah kelewat banyak di negara ini, dan keadaan ini sudah saatnya dikurangi. Karena menurutnya, orang-orang bodoh di negara ini ternyata banyak yang malahan bisa jadi pemimpin. Jadi si Doris sebenarnya ingin menyelamatkan si pengarang, agar tidak perlu repot bolak-balik menerjemahkan dua bahasa yang berbeda tadi. Sempat juga si Doris mengatakan kalau menjadi mahasiswa zaman sekarang perlu memang para dosen diceramahi sesekali. Sebab para dosen juga memiliki keterbatasan, ada pula di antara dosen di kampusnya yang punya tabiat buruk karena lebih suka menggurui daripada memberikan studi praktik. Doris lalu membenarkan satu hal pada pernyataan tadi; Bahwa sekarang ini, sebagai mahasiswa yang pintar, mereka perlu mengatur dan memerintah dosen sesekali, agar memiliki adab di atas ilmunya.

Itulah yang dikomplain oleh si mahasiswa keturunan Suralaga tadi. Bahwa apa yang dikatakan dua temannya, si Sulhiah dan Doris tidak bisa dibenarkan. Meskipun ia tahu kalau si Doris temannya itu berasal dari Makassar. Dia, mahasiswa keturunan Suralaga itu bahkan tidak peduli meskipun di satu sisi kedua temannya memang ada benarnya, tapi di sisi lain, ia sendiri juga banyak salahnya. Dia goblok ternyata si keturunan Suralaga ini, kalau tidak mengetahui bahwa ada begitu banyak penulis hebat kebanggan tanah air lahir dari sana. Makassar.

“Aduh Pak, coba bapak jangan menambah dan melebih-lebihkan pernyataan dalam bentuk apapun yang sebetulnya tidak pernah kami katakan sebelumnya. Jangan coba mengambil kesempatan dalam kesempitan di cerita kali ini pak. Kami bisa muak. Kami muak kalau bapak memperalat dan memfitnah kami begini. Gini saja pak. Bapak sebenarnya, maunya apa hah? kami juga punya harga diri lo pak?”

Tiba-tiba mereka secara serentak membentak dan menatap tajam ke arah si pengarang cerita ini. Si pengarang pun tampak menciut nyalinya. Ibu Soh dan para mahasiswa itu tampak sangat geram, mulut mereka komat-kamit, raut wajah mereka begitu bengis, di tangan mereka segala hal yang dapat melukai tubuh dan perasaan seseorang sudah mereka pegang sambil bersiap-siap mengejar si pengarang cerita ini. Tetapi, sebelum kaki mereka sempat bergerak selangkah saja, si pengarang cerita ini pun langsung menutup laptopnya.

Si pengarang lalu senyam senyum. Sebab merasa telah selamat dari amukan orang-orang yang ada di dalam ceritanya tadi. Sambil menyeruput kopi hitam dan menghisap sebatang rokok Magnum andalannya, Dia kembali tersenyum dan tertawa sekencang kencangnya. Ternyata selama enam jam setengah setelah Azan Subuh berkumandang, Pak Anal inilah yang ternyata menjadi pengarang cerita ini. Dia sebetulnya tidak pernah kemana mana. Dia memang sudah ada di kantin bawah nangka sejak pagi tadi.

Saya yang belakangan tahu kalau ternyata pak Anal dan si pengarang adalah orang yang sama. Lalu mulai geram melihat dia dengan tega menyusun cerita model begini. Di mana saya sendiri merasa, bahwa apa yang dia lakukan ini sudah sangat keterlaluan. Karena dia telah berani beraninya menyindir kampus tempatnya bekerja sebagai dosen. Yang padahal kampus inilah satu-satunya sumber pendapatan baginya untuk membayar cicilan rumah bersubsidinya. Keterlaluan memang. Maka, saya pun lansung menghampirinya dan tanpa basa-basi langsung menampar pipi kirinya tiga belas kali sambil mengatakan;

“Woi Bajingan..! Coba ente jangan bikin masalah di sini ya.

Penulis : Yuspianal Imtihan

Berita Terkait

Viralisasi Berkelindan dengan Motif Ekonomi, Program Literasi Selalu Dilayakkan Proyek Belaka
Penderitaan Modern di Era AI: Manusia dan Realitas Palsu, Sastra sebagai Penawarnya

Berita Terkait

Selasa, 30 Juni 2026 - 18:58 WITA

JAMNAS V BPAN Mengumpulkan Pemuda Adat Se-Nusantara di Desa Perigi: Desak DPR RI Segera Sahkan RUU Masyarakat Adat

Sabtu, 27 Juni 2026 - 19:17 WITA

Lombok Timur Jadi Tuan Rumah Jambore Nasional V BPAN, Ratusan Peserta Siap Berkumpul di Wilayah Adat Perigi dan Limbungan

Senin, 22 Juni 2026 - 20:56 WITA

Dukung Revitalisasi Keraton, TSB dan Kemenbud Sinergi Lindungi Cagar Budaya Nasional

Minggu, 8 Februari 2026 - 19:17 WITA

KKN IAI Hamzanwadi Kunjungi Museum Genggelang, Telusuri Narasi Sejarah yang Terlupakan

Jumat, 5 Desember 2025 - 18:25 WITA

Perang Topat Bukan Toleransi

Senin, 1 Desember 2025 - 23:32 WITA

Para Budayawan Sepakati Pembentukan Dewan Kebudayaan di Tiap Daerah

Sabtu, 15 November 2025 - 15:57 WITA

Wabup Edwin Serahkan Santunan dan Dokumen pada Puncak Pesona Budaya Pengadangan

Minggu, 26 Oktober 2025 - 12:57 WITA

Dende Tamari: Perempuan Sasak Menentang Kekuasaan

Berita Terbaru