Sentilan Kiki Sulistyo: Kepopuleran Sastra dan Bagaimana Hilangnya Insting Manusia di Zaman Digital ini

Jumat, 12 Juni 2026 - 10:07 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sebelum era ponsel pintar, seseorang bisa mendatangi rumah temannya dengan keyakinan penuh tanpa perlu bertukar pesan terlebih dahulu, karena pikiran manusia terlatih membaca pola pergerakan sesamanya yang masih terbatas.

Sebelum era ponsel pintar, seseorang bisa mendatangi rumah temannya dengan keyakinan penuh tanpa perlu bertukar pesan terlebih dahulu, karena pikiran manusia terlatih membaca pola pergerakan sesamanya yang masih terbatas.

LOMBOKINI.com – Popularitas sastra di Indonesia saat ini dinilai baru sebatas menyentuh permukaan. Masyarakat pada umumnya, termasuk mahasiswa bahasa dan sastra, cenderung hanya mengenal produk sastra seperti puisi, cerpen, dan novel, tanpa benar-benar memahami perkembangan pemikiran di dalamnya.

Hal tersebut disampaikan oleh sastrawan nasional kelahiran Ampenan, Kiki Sulistyo, dalam acara Diskusi Publik bertajuk Sastra dan Masyarakat Platform yang berlangsung di Kampus Teknik Universitas Hamzanwadi, Kamis (11/6/2026).

Agenda ini diinisiasi oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (HMPS PBSI) Universitas Hamzanwadi yang berkolaborasi dengan Komunitas Kelas Menulis Reading Buya Syafii Ma’arif.

Kiki mengungkapkan keprihatinannya terhadap pemahaman sastra yang masih minim di tingkat akar rumput.

“Secara umum, sastra di Indonesia populer, tapi kepopulerannya tidak selalu diiringi dengan pengetahuan terhadapnya,” ujar Kiki

Kepopulerannya itu, lanjutnya, hanya berpatok pada “masyarakat hanya tahu produk sastra seperti puisi, cerpen, atau novel saja“. Artinya, secara umum tidak banyak orang yang benar-benar paham sastra, hanya tahu saja.

Baca Juga :  Bupati Lombok Barat Lepas 54 Kafilah, Target Juara Umum MTQ NTB

Bahkan menurutnya mahasiswa jurusan sastra pun masih banyak yang asing dengan sejarah sastra Indonesia, termasuk bagaimana puisi berkembang dari masa ke masa serta faktor-faktor yang memengaruhi perubahannya.

Selain menyoroti pemahaman sastra, pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa ini juga membedah fenomena digitalisasi yang melahirkan masyarakat platform.

Kiki menerangkan bahwa kampanye masif mengenai teknologi yang selalu disebut mempermudah hidup sebenarnya menyimpan sisi lain yang mengontrol manusia.

Menurutnya, setiap kemudahan teknologi yang diterima manusia selalu dibayar dengan hilangnya salah satu bagian dari kemampuan alamiah diri sendiri.

“Setiap kali ada suatu keadaan di mana kita dibuat seperti lebih mudah melakukan sesuatu, itu artinya ada sesuatu yang dihilangkan dari diri kita karena sudah tidak dipakai lagi. Teknologi mempermudah hidup Anda, tapi (di sisi lain) teknologi mempermudah mereka (orang-orang induatrial) mengontrol hidup Anda,” tegasnya.

Baca Juga :  Gigaduka: Penderitaan Modern dari Akal Imitasi (AI)

Ia memberikan analogi sederhana tentang bagaimana teknologi komunikasi jarak jauh, seperti SMS dan WhatsApp, secara perlahan mengikis naluri atau insting sosial manusia dalam membaca pola kebiasaan lingkungan sekitarnya.

Sebelum era ponsel pintar, seseorang bisa mendatangi rumah temannya dengan keyakinan penuh tanpa perlu bertukar pesan terlebih dahulu, karena pikiran manusia terlatih membaca pola pergerakan sesamanya yang masih terbatas.

“Begitu ada teknologi komunikasi, kita harus SMS atau WA dulu. Berarti ada satu yang hilang, yaitu naluri itu harus dihilangkan karena enggak dipakai lagi. Setiap kali ada kemudahan, itu berarti ada yang dihilangkan,” pungkas Kiki.

Acara diskusi publik ini dihadiri oleh puluhan mahasiswa dan pencinta literasi lokal yang antusias membedah relasi antara eksistensi sastra, manusia, dan cengkeraman platform digital hari ini.

Penulis : Paozan Azima

Berita Terkait

Bupati Lombok Barat Lepas 54 Kafilah, Target Juara Umum MTQ NTB
Sekda Lotim Saksikan Bule Swiss Ucap Syahadat di Penutupan TC MTQ XXXI 2026
Qoriah Asal Lombok Tengah Harumkan NTB di MTQ Internasional 2026
Majelis Ta’lim Darunnajah Gelar Ziarah Mahabbah Kubra, Rawat Sanad Keilmuan Ulama Lombok Timur
Warga Lengkok Embuk Mamben Lauk Khidmati Peringatan Nuzulul Qur’an, Hadirkan Qori Internasional dan Nasional
Majelis Taklim Darunnajah Mamben Tutup Pesantren Mukim Ramadan 1447 H
Jadwal Imsakiyah dan Buka Puasa Lombok Timur 4 Ramadan 1447 H-22 Februari 2026
50 Ucapan Menyambut Ramadan 1447 H, Singkat dan Sarat Makna

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 22:55 WITA

Bangun Reputasi Lewat Integritas, Bung Heru Besarkan Seniman Hukum Law Firm di NTB

Sabtu, 6 Juni 2026 - 20:47 WITA

Progres Kasus Santri Dibakar di Batukliang, Humas Polres Loteng: Penyidik Masih Kumpulkan Bukti

Sabtu, 6 Juni 2026 - 06:28 WITA

ICJR Kritik KUHAP Baru di Forum ADVOKAI: Kewenangan Advokat Masih Sebatas Teks

Kamis, 4 Juni 2026 - 11:38 WITA

Gerebek Rumah Pengedar di Keruak, Satresnarkoba Polres Lotim Amankan Dua Pria dan Paket Sabu

Rabu, 3 Juni 2026 - 19:39 WITA

Kejagung Tahan Dadan, Sony, dan Lodewyk Pusung sebagai Tersangka Korupsi Program MBG

Minggu, 31 Mei 2026 - 07:52 WITA

Tak Sampai 24 Jam, Dua Begal HP di Rensing Bat Diringkus Satreskrim Polres Lombok Timur

Minggu, 31 Mei 2026 - 06:04 WITA

Resahkan Warga, Polres Lombok Timur Buru Pembuat Hoaks Teror ‘Pocong Berparang’ di Korleko-Selong

Jumat, 29 Mei 2026 - 19:05 WITA

Polisi Naikkan Status Kasus Dugaan Penipuan Proyek Dapur MBG di Lombok Timur ke Penyidikan

Berita Terbaru

Stok Pertalite Tersedia, Pertamina Siaga Penuhi Kebutuhan di Seluruh Wilayah. (Foto: Tamrin/Lombokini.com).

Nasional

Pertamina Pastikan Stok Pertalite Cukup dan Distribusi Normal

Jumat, 12 Jun 2026 - 22:25 WITA

Sayangnya, lompatan teknologi dalam 200 tahun terakhir telah membalikkan hierarki tersebut. Alat yang awalnya diciptakan untuk membantu manusia, kini berbalik mengendalikan sang penciptanya sendiri.

Pendidikan

Gigaduka: Penderitaan Modern dari Akal Imitasi (AI)

Jumat, 12 Jun 2026 - 22:06 WITA

Fenomena ini diperparah oleh dominasi masyarakat platform digital yang dikontrol oleh kepentingan profit industri, sehingga mengikis naluri organik dan kedaulatan berpikir manusia demi mengejar kecepatan serta validasi semu.

Pendidikan

Sastra Menjadi ‘Suaka’ di Tengah Absurditas Era Digitalisasi

Jumat, 12 Jun 2026 - 15:00 WITA

Para demonstran menggelar aksi di Gedung DPR/MPR pada masa krisis moneter 1997/1998. (Foto: Lombokini.com/Wrong Area).

Ekonomi

Krismon 1997-1998 Bakal Terulang Kembali? 

Jumat, 12 Jun 2026 - 10:12 WITA