Viralisasi Berkelindan dengan Motif Ekonomi, Program Literasi Selalu Dilayakkan Proyek Belaka

Jumat, 19 Juni 2026 - 09:06 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sastrawan Nusa Tenggra Barat (NTB), Kiki Sulistyo. (Foto: Lombokini.com/Paozan Azima).

Sastrawan Nusa Tenggra Barat (NTB), Kiki Sulistyo. (Foto: Lombokini.com/Paozan Azima).

LOMBOKINI.com – Sastrawan asal Nusa Tenggara Barat (NTB) sekaligus pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2017, Kiki Sulistyo, melontarkan kritik tajam terhadap fenomena viralisasi dan salah kaprah pemaknaan literasi di tengah masyarakat saat ini.

Menurutnya, gerakan literasi yang digulirkan pemerintah saat ini kerap terjebak menjadi komoditas proyek birokrasi, alih-alih membangun daya kritis masyarakat. Kritikan ini langsung disampaikan pada acara diskusi publik yang bertajuk Sastra dan Masyarakat Modern, pada Kamis, 11 Juni 2026.

Kiki Sulistyo, yang dikenal lewat buku puisinya Di Ampenan Apa Lagi Yang Kau Cari dan buku cerpen Muazin Pertama di Luar Angkasa dan Musik Akhir Zaman, dikenal luas dalam kancah sastra Indonesia sebagai sastrawan yang jeli menangkap realitas sosial.

Pendiri Komunitas Akarpohon di Mataram ini kerap membawa pendekatan yang mendalam, baik dalam karya kreatif maupun dalam diskursus kebudayaan.

Kiki menilai istilah “literasi” kini mengalami pendangkalan makna. Banyak pihak mereduksi literasi sebatas aktivitas fisik seperti membuka lapak buku atau taman bacaan.

Baca Juga :  Sempurnakan Program DAK 2027 dengan Mendata Penulis Lokal: Adakah Peluang Pengadaan Buku Karya Penulis Lokal?

Padahal, esensi dari menjadi literate adalah kemampuan kognitif dalam memahami teks secara mendalam—termasuk aspek sintaksis dan semantiknya—bukan sekadar kemampuan mekanis untuk mengeja atau membaca.

Ia bahkan menganalogikan program literasi bentukan pemerintah seperti orang yang membawa makanan saat menjenguk orang sakit.

“Karena yang kita jenguk sakit, akhirnya kita yang makan makanan yang kita bawa. Program literasi pemerintah itu, alih-alih masyarakat yang menikmati, justru para pembuat proyeknya yang menikmati (anggaran proyeknya),” ujar Kiki.

Mengutip pemikiran strukturalis Roland Barthes, Kiki membagi pembaca menjadi dua kategori pertama consumer. Merupakan pembaca pasif yang sekadar mengonsumsi teks tanpa melakukan penafsiran kritis.

Kedua, Reader Pembaca aktif yang mampu membedah konten, konsep, hingga konteks yang melatari sebuah teks. Kemampuan ini, menurut Kiki, bukanlah hegemoni akademik melainkan kapasitas yang bisa dipelajari oleh siapa saja.

Baca Juga :  CERPEN Yuspianal Imtihan: Warisan Ilmu Kecepatan Tangan

Sebaliknya, fenomena viralisasi bergerak di ranah yang sama sekali berbeda karena digerakkan murni oleh motif ekonomi dan popularitas (endorsement), yang ujung-ujungnya bermuara pada uang.

Dalam melihat mutu karya sastra, masyarakat modern kerap dipaksa berpikir praktis akibat pola hidup konsumtif. Kiki mencontohkan bagaimana warna hijau pada daun sebetulnya tidak memiliki fungsi praktis, namun alam menyediakannya.

Manusia yang telah “dikolonisasi” untuk menjadi konsumen kini selalu menuntut fungsi praktis pada segala hal, mirip dengan menjamurnya minimarket modern yang memangkas ruang tawar-menawar.

Kiki menegaskan bahwa dalam menilai sebuah karya sastra atau fenomena, penelaah tidak boleh terjebak pada dikotomi kaku “benar” atau “salah”. Sastra dan akademisi memiliki cara pandangnya masing-masing yang harus dielaborasi berdasarkan konteksnya.

“Kebenaran itu tidak satu. Kita harus bisa membedakan mana kebenaran substantif dan mana yang sekadar kebetulan,” pungkasnya. ***

Penulis : Paozan Azima

Berita Terkait

CERPEN Yuspianal Imtihan: Warisan Ilmu Kecepatan Tangan
Sempurnakan Program DAK 2027 dengan Mendata Penulis Lokal: Adakah Peluang Pengadaan Buku Karya Penulis Lokal?
CERPEN Yuspianal Imtihan: Ada Kosnpirasi Di Cerita Ini 
Penderitaan Modern di Era AI: Manusia dan Realitas Palsu, Sastra sebagai Penawarnya

Berita Terkait

Sabtu, 25 Juli 2026 - 13:28 WITA

Londo Ireng dan Malu Menjadi Indonesia  (terbuka untuk Prabowo Subianto)

Kamis, 23 Juli 2026 - 10:32 WITA

Lombok Barat Dikutuk Guru Dane

Minggu, 19 Juli 2026 - 18:13 WITA

Iqbal-Dinda: Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem di NTB      

Minggu, 19 Juli 2026 - 10:53 WITA

Dinas Kebudayaan NTB Tak Mampu Mengurus Kebudayaan

Rabu, 8 Juli 2026 - 14:44 WITA

Bangkitnya Kelas Menengah: Kurva Gajah   

Kamis, 25 Juni 2026 - 12:11 WITA

Mendedah Era Reformasi: Sebuah Refleksi   

Jumat, 12 Juni 2026 - 10:12 WITA

Krismon 1997-1998 Bakal Terulang Kembali? 

Selasa, 9 Juni 2026 - 11:48 WITA

ESAI Khaerul Majdi: Oase Sejarah’ dan Tahun-Tahun yang Sial: Melihat HIMMAH NWDI dari Timur

Berita Terbaru

Ilustrasi Cerpen Yuspianal Imtihan

Sastra

CERPEN Yuspianal Imtihan: Warisan Ilmu Kecepatan Tangan

Kamis, 6 Agu 2026 - 05:34 WITA

Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Lombok Timur, H. Haerul Warisin. (Foto: Lombokini.com/Paozan Azima).

Politik

Haerul Warisin Tegaskan Jangan Seret Gerindra ke Kasus LAZ

Senin, 3 Agu 2026 - 22:42 WITA