LOMBOKINI.com – Tembok pendopo Bupati Lombok Timur berdiri megah. Ornamen dan cat dindingnya senantiasa dipercantik hampir setiap tahun, memancarkan kewibawaan pusat kepemimpinan daerah.
Namun, tepat di sebelah kanan pagar pembatas gedung megah tersebut, ada kontras sosial yang mengiris hati, siswa SMPN 2 Selong tengah berjuang mengejar masa depan di atas lantai semen dengan tembok sekolah yang sudah lusuh. Dan visual memperhatikan ini, sekolah tersebut juga berhadapan dengan Taman Tugu Selong yang senantiasa terlihat agung.
Senin (3/8/2026), suasana saat mata pelajaran PPKN di salah satu ruang kelas SMPN 2 Selong berlangsung tak biasa. Tidak ada deretan meja dan kursi kayu. Para siswa terpaksa duduk lesehan di lantai.
Saat membaca, kepala mereka tertunduk hampir kening menyentuh lantai; dan begitu ketika harus mencatat penjelasan guru, tubuh-tubuh mungil itu terpaksa membungkuk.
Dan bayangkan, kondisi ini bukanlah peristiwa sehari dua hari. “Sudah cukup lama hal ini berlangsung,” ungkap Multazam, Plt Kepala Sekolah SMPN 2 Selong yang baru beberapa pekan bertugas di sekolah tersebut.
Ironi ini tidak hanya berhenti pada ketiadaan sarana belajar. Bangunan sekolah tampak lapuk. Seakan-akan sekolah itu sudah saatnya ambruk. Pintu-pintu kelas mulai rusak, atap plafon berlubang, hingga fasilitas sanitasi yang lumpuh total.
Lebih dari 500 siswa di sekolah tersebut harus menahan diri atau berjalan keluar area sekolah menuju Masjid Raya Al Mujahidin Selong hanya untuk sekadar buang air kecil.
“Tak ada air,” celoteh beberapa siswa polos saat ditanya mengenai toilet sekolah mereka yang mangkrak.
Situasi ini tak pelak menciptakan efek domino. Punggung yang pegal karena terus-menerus membungkuk di lantai membuat semangat belajar anak-anak perlahan surut.
Multazam mengakui, tidak sedikit siswa yang akhirnya memilih absen atau enggan masuk sekolah akibat kondisi fisik yang melelahkan selama jam pelajaran.
Sebagai pimpinan baru, Multazam kini dituntut berpikir ekstra keras demi menyelamatkan nasib pendidikan 500 lebih anak didiknya.
Rencana awal untuk mengalokasikan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) guna pengadaan meja dan kursi rupanya terbentur tembok tebal keterbatasan anggaran.
Porsi Dana BOS yang diterima sekolah tidak sebanding dengan beban operasional yang ada, terlebih dana tersebut harus dibagi untuk membiayai honorarium guru PPPK paruh waktu.
“Kami sedang berikhtiar untuk memenuhi segala kebutuhan sekolah, setidaknya mendekati SMPN 1 Selong yang memiliki siswa 1.200 orang itu,” ujar Multazam optimis.
Di antara sederet kehancuran fasilitas, kebutuhan yang paling mendesak saat ini sebenarnya adalah ketersediaan sumber air bersih atau pembuatan sumur bor.
Selain demi saniter siswa, kebiasaan ratusan murid yang menumpang buang air ke masjid dikhawatirkan mengganggu kebersihan tempat ibadah tersebut.
Kini, pihak sekolah menggantungkan harapan pada uluran tangan para wakil rakyat melalui alokasi program Pokok Pikiran (Pokir) anggota DPRD Lombok Timur.
Masyarakat berharap, ketimpangan yang berada persis di pelataran pusat pemerintahan daerah ini segera mendapat perhatian serius sebab masa depan generasi bangsa tak seharusnya terus dibiarkan bersujud di atas lantai yang dingin. ***
Penulis : Paozan Azima







