Krismon 1997-1998 Bakal Terulang Kembali? 

Jumat, 12 Juni 2026 - 10:12 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Para demonstran menggelar aksi di Gedung DPR/MPR pada masa krisis moneter 1997/1998. (Foto: Lombokini.com/Wrong Area).

Para demonstran menggelar aksi di Gedung DPR/MPR pada masa krisis moneter 1997/1998. (Foto: Lombokini.com/Wrong Area).

Oleh: Lalu Muh.Kabul

Krisis geopolitik di Timur Tengah (Perang Iran vs Israel-Amerika Serikat) sejak Februari 2026 menyebabkan kenaikan harga minyak global. Kenaikan ini memicu terdepresiasinya nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sebesar 6,51 persen, dari Rp 17.140 per dolar AS pada 21 April 2026 menjadi Rp 18.261,85 per dolar AS pada 9 Juni 2026 (Bank Indonesia, 2026). Namun, nilai tukar rupiah kembali menguat dari Rp 18.261,85 per dolar AS pada 9 Juni 2026 menjadi Rp 18.060,85 pada 11 Juni 2026 (Bank Indonesia, 2026). Sebelumnya, jatuhnya rezim Orde Baru disebabkan (kalimat pasif, perlu diubah) – mari kita aktifkan: Krisis moneter (krismon) 1997/1998 menyebabkan jatuhnya rezim Orde Baru, yang kemudian berkembang menjadi krisis ekonomi dan mengakibatkan terdepresiasinya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebesar 63,66 persen, dari Rp 2.383 per dolar AS pada akhir tahun 1996 menjadi Rp 14.900 per dolar AS pada Juni 1997 (Tanjung, 2001). Orang kemudian memprediksi bahwa Indonesia saat ini belum krisis, tetapi sedang menuju ke jurang krisis. Lalu, akankah krismon 1997/1998 terulang kembali?

Kita dapat melacak penyebab krismon 1997/1998 dengan merujuk pada ideologi global yang dikenal sebagai “Neoliberalisme” (Harvey, 2016). Neoliberalisme merupakan teori dan praktik ekonomi untuk menyejahterakan masyarakat dengan memperkuat peran swasta, kebebasan individu, pasar bebas, dan perdagangan bebas. Jika kita membiarkan pasar bebas tanpa campur tangan negara (pemerintah), masyarakat secara keseluruhan akan mencapai kesejahteraan bersama secara optimal (Pareto optimal). Neoliberalisme berpijak pada teori ekonomi Adam Smith, yang dikenal sebagai Bapak Ilmu Ekonomi melalui karyanya Wealth of Nations (1776). Seluruh mahasiswa ekonomi di universitas-universitas dunia mempelajari teori ini, dan teori ini menjadi arus utama (mainstream) dalam pemikiran ekonomi.

Dalam konteks Neoliberalisme, pihak swasta memperkuat peran mereka, bukan negara. Sebaliknya, Pasal 33 UUD 1945 (ayat 2 dan 3) menyatakan bahwa cabang-cabang produksi penting yang menguasai hidup orang banyak dan sumber kekayaan alam di Indonesia dikuasai oleh negara, bukan diserahkan pengelolaannya ke mekanisme pasar bebas (Prabowo Subianto, 2023). Di sisi lain, dalam konteks Neoliberalisme, setiap individu dibiarkan bersaing secara bebas menurut “hukum rimba”, dan individu yang menang dapat bertahan hidup. Ini berbeda dengan Pasal 33 UUD 1945 (ayat 1) yang menyatakan bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan. Mubyarto (2003) memaknai Pasal 33 UUD 1945 ayat (1) tersebut bahwa kemakmuran masyarakat secara keseluruhan lebih diutamakan daripada kemakmuran individu. Negara melaksanakan ekonomi tersebut melalui ekonomi koperasi, ekonomi berdasarkan kerja sama, bukan ekonomi berdasarkan persaingan pasar bebas.

Baca Juga :  Esai Yuspianal Imtihan: Menilik Sikap Seniman di Era Artificial Intelligence 

Perekonomian yang terkandung dalam Pasal 33 UUD 1945 itulah yang disebut “Ekonomi Panca Sila”. Perekonomian yang berjalan di era Orde Baru sejatinya bukanlah Ekonomi Panca Sila, melainkan ekonomi Neoliberalisme, di mana pihak swasta besar (konglomerat) mendominasi jalannya roda perekonomian. Para konglomerat tersebut merupakan 1 persen orang terkaya di Indonesia yang menguasai 36 persen kekayaan Indonesia (Prabowo Subianto, 2023). Pada krismon 1997/1998, ketika nilai tukar menembus Rp10.000 per dolar AS, sekitar 70 persen perusahaan konglomerat yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) memiliki rasio utang dolar terhadap total kekayaan mencapai 50 persen atau lebih (Chatib Basri & Ari Kuncoro, 1998).

Para konglomerat tersebut menghadapi utang luar negeri jangka pendek yang jatuh tempo sekitar 18 bulan (Tanjung, 2001). Karena itu, mereka memburu dolar untuk membayar utang mereka yang jatuh tempo. Hal ini menimbulkan krismon 1997/1998 sehingga rupiah terdepresiasi sangat tajam terhadap dolar AS, mencapai 63,66 persen, dari Rp 2.383 per dolar AS pada akhir 1996 menjadi Rp 14.900 per dolar AS pada Juni 1997 (Tanjung, 2001). Krismon 1997/1998 itu pun berimbas pada kerusuhan, merontokkan perbankan, dan memicu pergolakan politik yang menyebabkan jatuhnya rezim Orde Baru. Berakhirnya era Orde Baru kemudian melahirkan era Reformasi.

Baca Juga :  MBG 'Big Push' Bagi Sektor Pendidikan  

Di era Reformasi, pemerintah tidak menyibukkan diri dengan urusan Ekonomi Panca Sila, tetapi tetap menyibukkan diri dengan ekonomi konglomerat yang lahir dari rahim Neoliberalisme. Pemerintah sibuk menyelamatkan perbankan (termasuk bank swasta milik para konglomerat) melalui Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang mencapai Rp 371 miliar pada Desember 1996 dan meningkat menjadi Rp 177,10 triliun pada Desember 1997 (Tanjung, 2001). Selain BLBI, pemerintah juga menggelontorkan dana rekapitulasi perbankan sebesar Rp 650 triliun berupa obligasi yang bunganya menjadi tanggungan APBN (Mubyarto, 2004). Ketika krisis global 2008 melanda, pemerintah kembali menyibukkan diri dengan menyelamatkan Bank Century melalui BLBI sebesar Rp 6,7 triliun (Fahri Hamzah, 2011). Di era Reformasi sekarang, kebijakan Presiden Prabowo Subianto berpijak pada Ekonomi Panca Sila.

Pada krismon 1997/1998, ekonomi kerakyatan yang merupakan subsistem Ekonomi Panca Sila tidak mati, justru sebaliknya berkembang pesat (Mubyarto, 2004). Dalam periode 1995-2002, ekonomi kerakyatan, yakni usaha kecil dan mikro, berkembang pesat di mana-mana melalui pendanaan mandiri atau melalui dana keuangan mikro seperti pegadaian dan koperasi. Dalam periode yang sama, kredit yang disalurkan melalui pendanaan mandiri atau Perum Pegadaian meningkat 5,6 kali lipat (560 persen), dan jumlah nasabah yang menggadaikan naik menjadi 3 kali lipat lebih (368 persen). Di Yogyakarta, anggota KOSUDGAMA (Koperasi Serba Usaha Dosen-Dosen Gadjah Mada) meningkat jumlahnya 5 kali lipat selama periode 1998-2002, dengan nilai pinjaman meningkat 11 kali lipat, dari Rp 1,04 miliar menjadi Rp 11,57 miliar. Kalaupun krismon 1997/1998 terulang kembali, yang akan terkapar adalah ekonomi konglomerat yang lahir dari rahim Neoliberalisme, bukan Ekonomi Panca Sila. Kita tidak perlu meratapi terkaparnya ekonomi konglomerat. Kita baru saja memperingati hari lahirnya Pancasila pada 1 Juni 2026. Di era Reformasi sekarang, kepada ekonomi manakah kita berpihak: Ekonomi Panca Sila atau ekonomi Neoliberalisme?

Penulis adalah Direktur Lembaga Pengembangan Pedesaan (LPP).

Berita Terkait

ESAI Khaerul Majdi: Oase Sejarah’ dan Tahun-Tahun yang Sial: Melihat HIMMAH NWDI dari Timur
Esai Yuspianal Imtihan: Menilik Sikap Seniman di Era Artificial Intelligence 
MBG ‘Big Push’ Bagi Sektor Pendidikan  
NTB Kirim 24.974 Sapi Kurban ke Jabodetabek, Perputaran Uang Tembus Rp 500 M
Menjelang Iduladha, Pemkab Lombok Timur Sidak Distributor dan Gelar Pasar Murah
Percepatan Swasembada Pangan: Inpres Prabowo Subianto 
Di Balik Narasi Akselerasi: Menguji Klaim Keadilan Pertumbuhan di Lombok Timur
Haroen: Potensi BBNKB di Samsat Selong Capai Rp 41 Miliar per Tahun

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 22:55 WITA

Bangun Reputasi Lewat Integritas, Bung Heru Besarkan Seniman Hukum Law Firm di NTB

Sabtu, 6 Juni 2026 - 20:47 WITA

Progres Kasus Santri Dibakar di Batukliang, Humas Polres Loteng: Penyidik Masih Kumpulkan Bukti

Sabtu, 6 Juni 2026 - 06:28 WITA

ICJR Kritik KUHAP Baru di Forum ADVOKAI: Kewenangan Advokat Masih Sebatas Teks

Kamis, 4 Juni 2026 - 11:38 WITA

Gerebek Rumah Pengedar di Keruak, Satresnarkoba Polres Lotim Amankan Dua Pria dan Paket Sabu

Rabu, 3 Juni 2026 - 19:39 WITA

Kejagung Tahan Dadan, Sony, dan Lodewyk Pusung sebagai Tersangka Korupsi Program MBG

Minggu, 31 Mei 2026 - 07:52 WITA

Tak Sampai 24 Jam, Dua Begal HP di Rensing Bat Diringkus Satreskrim Polres Lombok Timur

Minggu, 31 Mei 2026 - 06:04 WITA

Resahkan Warga, Polres Lombok Timur Buru Pembuat Hoaks Teror ‘Pocong Berparang’ di Korleko-Selong

Jumat, 29 Mei 2026 - 19:05 WITA

Polisi Naikkan Status Kasus Dugaan Penipuan Proyek Dapur MBG di Lombok Timur ke Penyidikan

Berita Terbaru

Stok Pertalite Tersedia, Pertamina Siaga Penuhi Kebutuhan di Seluruh Wilayah. (Foto: Tamrin/Lombokini.com).

Nasional

Pertamina Pastikan Stok Pertalite Cukup dan Distribusi Normal

Jumat, 12 Jun 2026 - 22:25 WITA

Sayangnya, lompatan teknologi dalam 200 tahun terakhir telah membalikkan hierarki tersebut. Alat yang awalnya diciptakan untuk membantu manusia, kini berbalik mengendalikan sang penciptanya sendiri.

Pendidikan

Gigaduka: Penderitaan Modern dari Akal Imitasi (AI)

Jumat, 12 Jun 2026 - 22:06 WITA

Fenomena ini diperparah oleh dominasi masyarakat platform digital yang dikontrol oleh kepentingan profit industri, sehingga mengikis naluri organik dan kedaulatan berpikir manusia demi mengejar kecepatan serta validasi semu.

Pendidikan

Sastra Menjadi ‘Suaka’ di Tengah Absurditas Era Digitalisasi

Jumat, 12 Jun 2026 - 15:00 WITA

Para demonstran menggelar aksi di Gedung DPR/MPR pada masa krisis moneter 1997/1998. (Foto: Lombokini.com/Wrong Area).

Ekonomi

Krismon 1997-1998 Bakal Terulang Kembali? 

Jumat, 12 Jun 2026 - 10:12 WITA