Kisah Pilu Ziadatun Nisa: Bertahan Hidup Jadi Buruh Cuci Demi Sekolah, Beratap Kelas yang Nyaris Roboh

Selasa, 11 Agustus 2026 - 16:06 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ziadatun Nisa (14) mengais upah Rp 3.000 dari mencuci pakaian dan piring tetangga untuk membeli perlengkapan sekolah serta menyambung hidup sehari-hari. (Foto: Lombokini.com/Istimewa)

Ziadatun Nisa (14) mengais upah Rp 3.000 dari mencuci pakaian dan piring tetangga untuk membeli perlengkapan sekolah serta menyambung hidup sehari-hari. (Foto: Lombokini.com/Istimewa)

LOMBOKINI.com – Di balik keindahan Pulau Lombok, terselip kisah perjuangan hidup yang memilukan dari seorang remaja bernama Ziadatun Nisa (14). Siswa kelas 3 MTs Nawarul’uyun NW Serumbung, Desa Pemongkong, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur ini harus berjuang seorang diri demi menyambung hidup dan mengenyam pendidikan, di tengah keterbatasan fasilitas sekolah yang memprihatinkan.

Sejak lahir, Zia sapaan akrabnya, tidak pernah melihat kedua orang tuanya. Neneknya membesarkan dia dalam kesederhanaan. Namun, setahun lalu, sang nenek yang menjadi satu-satunya sandaran hidupnya berpulang ke Rahmatullah.

Kini, Zia hidup sebatang kara di sebuah rumah berdinding pagar bambu tanpa kasur. Ia hanya beralaskan tikar tipis yang dingin saat malam tiba.

Untuk bertahan hidup dan membeli perlengkapan sekolah, Zia bekerja sebagai buruh cuci panggilan dari rumah ke rumah.

“Dari rumah ke rumah, saya mencuci pakaian dan piring. Upahnya Rp 3.000 setiap kali mencuci. Uangnya saya pakai untuk beli nasi bungkus, sisanya saya tabung untuk beli buku dan pensil,” ungkap Zia dengan tegar, Selasa 11 Agustus 2026.

Baca Juga :  KPK Geledah Rumah Kontraktor di Lombok Timur Terkait OTT Bupati Lombok Barat, Pemilik Rumah Buka Suara
Ziadatun Nisa (14) menyimak pelajaran di ruang kelas MTs Nawarul'uyun, Lombok Timur, di tengah ancaman genteng-genteng atap yang nyaris roboh menimpa kepalanya.
Ziadatun Nisa menyimak pelajaran di ruang kelas MTs Nawarul’uyun, Desa Pemongkong, Jerowaru Lombok Timur, di tengah ancaman atap yang nyaris roboh. (Foto: Lombokini.com).

Keterbatasan ekonomi ini membuat Zia kerap mengurung diri di kelas saat jam istirahat berganti. Ketika teman-temannya pergi ke kantin, Zia memilih bertahan di kursinya dengan alasan membaca buku atau mengerjakan tugas. Ia berusaha menutupi rasa malu karena tidak memiliki uang jajan.

Bahkan, hingga saat ini Zia belum mampu membeli seragam putih yang lengkap. Ia hanya memiliki satu rok biru dan terpaksa pergi ke sekolah menggunakan sandal jepit serta tas usang pemberian almarhum neneknya yang resletingnya sudah sering macet.

Mimpi di Balik Puing Ruang Kelas

Awalnya, Zia membayangkan sekolah sebagai tempat yang nyaman layaknya sekolah-sekolah di perkotaan lengkap dengan buku, meja, dan kursi yang layak. Namun, kenyataan pahit harus diterimanya. Ruang kelas tempatnya belajar selama dua tahun ini kondisinya sangat memprihatinkan. Puing-puing genteng berjatuhan dari atap yang rapuh.

“Setiap belajar, kadang saya suka menoleh ke atas karena takut gentengnya jatuh. Sudah hampir dua tahun kami belajar di ruang kelas yang sewaktu-waktu atapnya bisa roboh,” tuturnya.

Baca Juga :  TGB Tegaskan Pemerintah Harus Jadi Fasilitator, Bukan Pesaing Rakyat

Di dalam hati kecilnya, Zia sempat merasa dunia tidak adil pada mimpi-mimpinya, namun ia tetap memilih bersabar dan berserah diri kepada Allah SWT.

Di tengah ancaman atap yang nyaris roboh, Ziadatun Nisa (14) tetap memusatkan perhatian pada setiap materi yang disampaikan gurunya di MTs Nawarul'uyun, Lombok Timur.
Ziadatun Nisa (berbaju merah) dan teman sekelasnya tetap memusatkan perhatian pada penjelasan guru, meski atap ruang kelas MTs Nawarul’uyun di Lombok Timur terancam roboh kapan saja. (Foto: Lombokini.com/Istimewa)

Meski kini sudah duduk di kelas 3 dan sebentar lagi akan lulus, Zia menyimpan harapan besar agar sekolahnya segera mendapat bantuan perbaikan. Ia tidak ingin adik-adik kelasnya merasakan kecemasan yang sama saat menuntut ilmu.

“Mimpi saya ingin punya ruang kelas yang bagus. Kalaupun saya sudah kelas 3, minimal adik-adik kelas nanti bisa merasakan sekolah dengan kelas yang baru dan nyaman untuk belajar,” harap Zia. Selain itu, ia juga memimpikan seragam yang lengkap, sepatu baru, serta rumah bambunya bisa direnovasi agar layak huni.

Kisah Zia adalah potret nyata dari perjuangan anak bangsa di pelosok negeri yang menolak menyerah pada kemiskinan. Perjuangannya kini mengetuk pintu hati kita semua, baik pemerintah, instansi terkait, maupun para dermawan untuk mengulurkan tangan, memberikan ruang belajar yang aman bagi MTs Nawarul’uyun NW Serumbung, serta memberikan masa depan yang lebih layak bagi Zia. ***

Penulis : Najamudin Anaji

Berita Terkait

Pemkab Lombok Timur Tutup Permanen Warung di Pantai Lungkak
Kapolda NTB dan Bupati Lotim Serahkan Santunan kepada Anak Yatim dan Lansia di Kantor Baznas
PW Pemuda NW NTB Gelar Diskusi dan Bakti Sosial ‘Desa Berdaya’ di Sembalun
Dukung Revitalisasi Keraton, TSB dan Kemenbud Sinergi Lindungi Cagar Budaya Nasional
TGB Peringatkan Akun Islami Pemecah Belah sebagai Proksi Dajjal
PDIP Lombok Tengah Gelar Donor Darah dan Pengobatan Gratis Peringati Bulan Bung Karno
TP-PKK NTB dan Lombok Timur Kolaborasi Wujudkan Desa Sakra sebagai Model Desa Berdaya
Lebih dari 4.000 Paket Daging Kurban Disalurkan Yayasan Cahaya Untuk Negeri ke Pelosok Lombok Timur

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 22:27 WITA

BPK NTB Jawab Soal BTT Rp 484 Miliar, PDIP: Jelaskan Peruntukan, Abaikan Legalitas Pergeseran

Selasa, 11 Agustus 2026 - 13:35 WITA

DPM Unram Siapkan Gugatan ke PTUN soal Pergeseran Dana BTT Rp 484 Miliar

Jumat, 7 Agustus 2026 - 14:38 WITA

Polres Lombok Timur Raih Predikat A Pelayanan Prima, Nilai Tertinggi se-NTB

Kamis, 6 Agustus 2026 - 15:19 WITA

Jumlah Penduduk Lombok Timur Tembus 1,47 Juta Jiwa, Pringgabaya dan Masbagik Terpadat

Kamis, 6 Agustus 2026 - 10:18 WITA

Ribuan Warga Lombok Timur Desak Polres Tangkap Pelaku Ujaran Kebencian terhadap Bupati

Rabu, 5 Agustus 2026 - 10:21 WITA

Kejanggalan Pengelolaan APBD NTB 2025, Empat Anggota DPRD Desak BPK Gelar Audit Investigatif

Kamis, 30 Juli 2026 - 21:14 WITA

BPBD NTB dan Lombok Timur Uji Ketangguhan Desa dengan SIK SIAGA

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:39 WITA

Bapenda Lombok Timur Luruskan Redaksi SPPT PBB: Rumah Wajib Pajak Tidak Akan Disita

Berita Terbaru

Tim SAR Evakuasi Seluruh Penumpang dari KMP Putri Yasmin Terbakar di Selat Lombok, Rabu 12 Agustus 2026. (Foto: Lombokini.com/Tim SAR Gabungan).

Berita

Tim SAR Evakuasi 106 Penumpang KMP Putri Yasmin

Rabu, 12 Agu 2026 - 13:36 WITA

Pemerintah dan masyarakat menyepakati penutupan permanen warung Pantai Lungkak dalam musyawarah di Desa Ketapang Raya, Senin 10 Agustus 2026. (Foto: Lombokini.com).

Peristiwa

Pemkab Lombok Timur Tutup Permanen Warung di Pantai Lungkak

Senin, 10 Agu 2026 - 16:16 WITA