LOMBOKINI.com – Di balik keindahan Pulau Lombok, terselip kisah perjuangan hidup yang memilukan dari seorang remaja bernama Ziadatun Nisa (14). Siswa kelas 3 MTs Nawarul’uyun NW Serumbung, Desa Pemongkong, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur ini harus berjuang seorang diri demi menyambung hidup dan mengenyam pendidikan, di tengah keterbatasan fasilitas sekolah yang memprihatinkan.
Sejak lahir, Zia sapaan akrabnya, tidak pernah melihat kedua orang tuanya. Neneknya membesarkan dia dalam kesederhanaan. Namun, setahun lalu, sang nenek yang menjadi satu-satunya sandaran hidupnya berpulang ke Rahmatullah.
Kini, Zia hidup sebatang kara di sebuah rumah berdinding pagar bambu tanpa kasur. Ia hanya beralaskan tikar tipis yang dingin saat malam tiba.
Untuk bertahan hidup dan membeli perlengkapan sekolah, Zia bekerja sebagai buruh cuci panggilan dari rumah ke rumah.
“Dari rumah ke rumah, saya mencuci pakaian dan piring. Upahnya Rp 3.000 setiap kali mencuci. Uangnya saya pakai untuk beli nasi bungkus, sisanya saya tabung untuk beli buku dan pensil,” ungkap Zia dengan tegar, Selasa 11 Agustus 2026.

Keterbatasan ekonomi ini membuat Zia kerap mengurung diri di kelas saat jam istirahat berganti. Ketika teman-temannya pergi ke kantin, Zia memilih bertahan di kursinya dengan alasan membaca buku atau mengerjakan tugas. Ia berusaha menutupi rasa malu karena tidak memiliki uang jajan.
Bahkan, hingga saat ini Zia belum mampu membeli seragam putih yang lengkap. Ia hanya memiliki satu rok biru dan terpaksa pergi ke sekolah menggunakan sandal jepit serta tas usang pemberian almarhum neneknya yang resletingnya sudah sering macet.
Mimpi di Balik Puing Ruang Kelas
Awalnya, Zia membayangkan sekolah sebagai tempat yang nyaman layaknya sekolah-sekolah di perkotaan lengkap dengan buku, meja, dan kursi yang layak. Namun, kenyataan pahit harus diterimanya. Ruang kelas tempatnya belajar selama dua tahun ini kondisinya sangat memprihatinkan. Puing-puing genteng berjatuhan dari atap yang rapuh.
“Setiap belajar, kadang saya suka menoleh ke atas karena takut gentengnya jatuh. Sudah hampir dua tahun kami belajar di ruang kelas yang sewaktu-waktu atapnya bisa roboh,” tuturnya.
Di dalam hati kecilnya, Zia sempat merasa dunia tidak adil pada mimpi-mimpinya, namun ia tetap memilih bersabar dan berserah diri kepada Allah SWT.

Meski kini sudah duduk di kelas 3 dan sebentar lagi akan lulus, Zia menyimpan harapan besar agar sekolahnya segera mendapat bantuan perbaikan. Ia tidak ingin adik-adik kelasnya merasakan kecemasan yang sama saat menuntut ilmu.
“Mimpi saya ingin punya ruang kelas yang bagus. Kalaupun saya sudah kelas 3, minimal adik-adik kelas nanti bisa merasakan sekolah dengan kelas yang baru dan nyaman untuk belajar,” harap Zia. Selain itu, ia juga memimpikan seragam yang lengkap, sepatu baru, serta rumah bambunya bisa direnovasi agar layak huni.
Kisah Zia adalah potret nyata dari perjuangan anak bangsa di pelosok negeri yang menolak menyerah pada kemiskinan. Perjuangannya kini mengetuk pintu hati kita semua, baik pemerintah, instansi terkait, maupun para dermawan untuk mengulurkan tangan, memberikan ruang belajar yang aman bagi MTs Nawarul’uyun NW Serumbung, serta memberikan masa depan yang lebih layak bagi Zia. ***
Penulis : Najamudin Anaji







