TGB Kenang 28 Tahun Wafatnya Maulana Syekh: Teladannya Tetap Hidup

Rabu, 22 Oktober 2025 - 00:46 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Almagfurullah Maulana Syekh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. (Foto: Lombokini.com).

Almagfurullah Maulana Syekh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. (Foto: Lombokini.com).

LOMBOKINI.com – Tepat 28 tahun lalu, pada Selasa, 21 Oktober 1997 pukul 19.57 Wita, ulama besar dan Pahlawan Nasional asal Lombok, Maulana Syekh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, wafat di tempat kelahirannya, Pancor, Lombok Timur, Selasa malam 21 Oktober 1997.

Momentum bersejarah itu kembali dikenang oleh cucunya, Dr. Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi, melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @tuangurubajang, pada Selasa 21 Oktober 2025.

Dalam unggahan tersebut, TGB menulis kutipan penuh makna dari Syekh Ibnul Qayyim dalam kitab Miftah Dar as-Sa’adah:

“Orang alim tetap hidup di antara manusia walaupun telah wafat. Orang jahil bagaikan orang mati bagi manusia walaupun ia masih hidup.”

Baca Juga :  Urgensi Muktamar Ke-35 NU di Lombok

TGB kemudian menulis refleksi pribadi yang sarat keteladanan:

“Maulana Syekh tetap hidup di hati kita. Teladannya terpampang nyata. Mohon keikhlasan sahabat untuk mengirim doa dan bacaan al-Fatihah untuk beliau. Ya Allah, jadikan kami sebaik-baik penerus bagi sebaik-baik pendahulu.”

Unggahan tersebut disertai potongan video lawas yang memperlihatkan Maulana Syekh saat mengajar ngaji di hadapan jamaah dan momen pemakaman beliau di Pancor.

Hingga Selasa malam, unggahan itu telah disukai lebih dari 4.000 akun, dengan 56 komentar dan 104 kali dibagikan.

Baca Juga :  Urgensi Muktamar Ke-35 NU di Lombok

Banyak warganet mengungkapkan rasa rindu dan terima kasih atas perjuangan pendiri NWDI (Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah), NBDI (Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah), dan NW (Nahdlatul Wathan) tersebut.

Maulana Syekh dikenal sebagai ulama kharismatik yang mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan dan dakwah Islam di Nusa Tenggara Barat.

Pada 2017 lalu, Presiden Joko Widodo menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional atas jasa-jasanya dalam bidang pendidikan dan pembinaan umat.

Dua puluh delapan tahun telah berlalu, namun teladan dan perjuangan Maulana Syekh terus hidup di hati masyarakat Lombok dan para pengikut Nahdlatul Wathan di seluruh Indonesia.***

Penulis : Harry Bahagia

Berita Terkait

Majelis Ta’lim Darunnajah Gelar Ziarah Mahabbah Kubra, Rawat Sanad Keilmuan Ulama Lombok Timur
Warga Lengkok Embuk Mamben Lauk Khidmati Peringatan Nuzulul Qur’an, Hadirkan Qori Internasional dan Nasional
Majelis Taklim Darunnajah Mamben Tutup Pesantren Mukim Ramadan 1447 H
Jadwal Imsakiyah dan Buka Puasa Lombok Timur 4 Ramadan 1447 H-22 Februari 2026
50 Ucapan Menyambut Ramadan 1447 H, Singkat dan Sarat Makna
Pengurus Baru Majlis Ta’lim Darunnajah Mamben Fokus Perkuat Modal Sosial Umat
Warga Desa Gelora Protes Infrastruktur Listrik: Suara Azan Masjid Tak Jelas akibat Daya ‘Tak Muat’
Gubernur NTB Serukan Solidaritas dan Pelestarian Lingkungan pada Peringatan Isra’ Mi’raj

Berita Terkait

Rabu, 6 Mei 2026 - 18:21 WITA

Di Balik Narasi Akselerasi: Menguji Klaim Keadilan Pertumbuhan di Lombok Timur

Minggu, 3 Mei 2026 - 19:31 WITA

Swasembada Pangan di Era Presiden Prabowo: Apakah Sudah Tercapai? 

Rabu, 22 April 2026 - 10:52 WITA

Swasembada Pangan di Lombok Timur: Apakah Sudah Tercapai?

Kamis, 16 April 2026 - 20:14 WITA

Merintih dari Tanah: Catatan H Rachmat Hidayat Tentang Pangan, Rakyat, dan Masa Depan

Jumat, 10 April 2026 - 12:55 WITA

Urgensi Muktamar Ke-35 NU di Lombok

Sabtu, 21 Februari 2026 - 16:17 WITA

Perampingan Birokrasi NTB: Jalan Senyap Menuju Pemerintahan yang Lebih Substantif

Minggu, 18 Januari 2026 - 11:18 WITA

Watak Jahat Mengurus Kebudayaan

Sabtu, 17 Januari 2026 - 09:52 WITA

Program ‘Ngopi’ di UIN Mataram: Ilmuwan Populis atau Ilmuwan Publik

Berita Terbaru

​Warga menunjukkan titik lokasi hilangnya seorang anak kepada anggota Polres Lombok Timur di Bendungan Pandandure, Kamis sore 7 Mei 2026. Insiden ini kembali memicu kewaspadaan warga di sekitar bendungan. (Foto: Lombokini.com/Humas Polres Lotim).

Lombok Timur

Bendungan Pandandure Merenggut Nyawa Anak 12 Tahun Asal Kalimantan

Jumat, 8 Mei 2026 - 14:52 WITA