Kesehatan untuk Semua Masih Jauh, Anggaran Kespro Lombok Tengah Anjlok

Senin, 8 Juni 2026 - 14:38 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ramli Ernanda, Direktur FITRA NTB, memaparkan hasil analisis anggaran kesehatan reproduksi Kabupaten Lombok Tengah pada Sabtu 6 Juni 2026. (Foto: Harianto/Lombokini.com).

Ramli Ernanda, Direktur FITRA NTB, memaparkan hasil analisis anggaran kesehatan reproduksi Kabupaten Lombok Tengah pada Sabtu 6 Juni 2026. (Foto: Harianto/Lombokini.com).

LOMBOKINI.com – Komitmen Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah mewujudkan layanan kesehatan yang inklusif bagi penyandang disabilitas menghadapi tantangan serius. Di tengah berbagai regulasi yang menjamin hak kesehatan reproduksi kelompok rentan, anggaran layanan kesehatan reproduksi (kespro) justru mengalami pemangkasan drastis hingga 82,6 persen pada 2026.

Temuan tersebut terungkap dalam laporan awal analisis APBD Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2025-2026 yang disusun FITRA NTB. Laporan itu menunjukkan adanya kesenjangan antara komitmen kebijakan daerah dan realitas penganggaran yang terjadi di lapangan.

Direktur FITRA NTB, Ramli Ernanda, mengatakan secara regulatif pemerintah daerah sebenarnya telah memiliki landasan yang cukup kuat untuk menghadirkan layanan kesehatan yang inklusif. Visi RPJMD Lombok Tengah 2025-2029 bahkan menempatkan agenda “Kesehatan untuk Semua” dan pengembangan fasilitas publik ramah disabilitas sebagai salah satu prioritas pembangunan.

Namun, kata Ramli, komitmen tersebut belum tercermin dalam alokasi anggaran.

“Dari sisi komitmen dan regulasi sebenarnya sudah cukup kuat. Visi RPJMD Lombok Tengah juga menegaskan komitmen terhadap kesehatan untuk semua dan fasilitas publik yang ramah disabilitas. Namun implementasinya belum terlihat,” ujarnya dalam kegiatan media briefing, Sabtu 6 Juni 2026.

Berdasarkan hasil analisis, dari total 29 puskesmas di Lombok Tengah, hanya tiga puskesmas yang masih mengalokasikan anggaran untuk layanan kesehatan reproduksi pada 2026, yakni Puskesmas Mujur, Penujak, dan Bonjeruk. Sementara 26 puskesmas lainnya tercatat memiliki alokasi anggaran kespro sebesar nol rupiah.

Pada enam puskesmas yang menjadi lokasi kajian, hanya Puskesmas Bonjeruk yang masih menganggarkan layanan kesehatan reproduksi dengan porsi 1,49 persen dari total belanja puskesmas. Adapun Puskesmas Kopang, Pengadang, Praya, Puyung, dan Ubung tidak lagi memiliki anggaran khusus untuk layanan tersebut.

Ramli menilai penurunan anggaran itu tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh berkurangnya transfer dana dari pemerintah pusat. Sebab, sumber pembiayaan layanan kesehatan reproduksi berasal dari Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) yang hanya turun sekitar 10 persen dibanding tahun sebelumnya.

“Kondisi ini menunjukkan adanya perubahan prioritas penganggaran yang tidak berpihak pada program kesehatan reproduksi,” katanya.

FITRA NTB juga menemukan ketimpangan distribusi anggaran layanan kesehatan reproduksi antarwilayah. Pada 2025, biaya layanan kespro per kapita di Kecamatan Jonggat mencapai Rp 2.351 per orang dan di Praya Tengah sebesar Rp 2.247 per orang. Sementara Kecamatan Batukliang hanya memperoleh Rp 216 per kapita.

Selisih tersebut membuat disparitas layanan antara wilayah tertinggi dan terendah mencapai 10,9 kali lipat.

Yang lebih memprihatinkan, belum ada satu pun puskesmas yang menggunakan data penyandang disabilitas sebagai dasar penyusunan perencanaan dan penganggaran layanan kesehatan reproduksi. Padahal berdasarkan data Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) 2025, terdapat sekitar 914 perempuan penyandang disabilitas yang tinggal di wilayah dengan alokasi anggaran terendah.

Ramli menyebut persoalan terbesar yang ditemukan bukan pada ketiadaan aturan, melainkan lemahnya implementasi dan dukungan anggaran.

“Persoalan terbesar yang kami temukan justru berada pada aspek penganggaran, bukan pada ketersediaan regulasi,” tegasnya.

Menurutnya, tekanan fiskal daerah akibat menurunnya pendapatan dan meningkatnya kebutuhan belanja operasional memang membatasi ruang pembangunan. Namun pemerintah daerah dinilai masih memiliki peluang mengoptimalkan sejumlah sumber pendapatan untuk membiayai kebutuhan masyarakat, termasuk aksesibilitas layanan bagi penyandang disabilitas.

“Kami mendorong Lombok Tengah menjadi daerah percontohan nasional dalam pengembangan layanan kesehatan inklusif. Regulasi sebenarnya sudah tersedia, termasuk melalui mekanisme BOK yang memungkinkan pembiayaan layanan kesehatan reproduksi dan kebutuhan pendukung lainnya,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) NTB, Sri Sukarni, menegaskan bahwa aksesibilitas layanan kesehatan bukan hanya kebutuhan penyandang disabilitas, melainkan hak seluruh warga negara.

“Bagi kami, aksesibilitas bukan hanya untuk penyandang disabilitas, tetapi merupakan akses universal yang dapat digunakan semua orang, termasuk lansia, ibu hamil, dan kelompok rentan lainnya,” katanya.

FITRA NTB merekomendasikan pemerintah daerah segera mengalokasikan kembali anggaran kesehatan reproduksi pada seluruh puskesmas, menetapkan standar biaya minimum layanan berbasis jumlah perempuan dan penyandang disabilitas, serta mewajibkan pendataan disabilitas terpilah sebagai dasar penyusunan program kesehatan.

Selain itu, organisasi masyarakat sipil melalui Koalisi PRIMA juga mendorong pemerintah mengalokasikan minimal lima persen dana BOK untuk layanan kesehatan reproduksi yang inklusif dan melibatkan organisasi penyandang disabilitas dalam proses perencanaan pembangunan kesehatan.

“Kehadiran kami bukan untuk mengkritik pemerintah semata, tetapi membantu memastikan bahwa visi pembangunan daerah benar-benar dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat, termasuk penyandang disabilitas,” tutup Ramli.***

Penulis : Harianto

Berita Terkait

Ormas Keris Sasak Protes Dokter Tak Ramah dan Minta Layanan Setara di RSUD Selong
Qoriah Asal Lombok Tengah Harumkan NTB di MTQ Internasional 2026
Ali BD Kritik Pemborgolan Abah Uhel: Perkaranya Utang Biasa, Bukan Korupsi
RSUD Praya Bekali 103 Sopir Ambulans Desa Bantuan Hidup Dasar
Pemkab Lombok Tengah dan Lombok Timur Sepakati Kerja Sama Penanganan Kebakaran di Perbatasan
Gubernur NTB Prioritaskan Perbaikan Hulu untuk Atasi Banjir Berulang
DLHK Lombok Tengah Soroti Alih Fungsi Lahan di Kawasan Hutan Pujut
BPBD Lombok Tengah Susun Payung Hukum Penanggulangan Bencana 2025-2029

Berita Terkait

Sabtu, 25 Juli 2026 - 12:52 WITA

Sapu Bersih Treasury Award 2026, Polres Lombok Timur Boyong Empat Penghargaan hingga Grand Champion

Sabtu, 25 Juli 2026 - 12:38 WITA

Ungkap 3 Kg Sabu di Pelabuhan Kayangan, Kapolres Lotim Terima Penghargaan dari Ormas Keris Sasak

Sabtu, 25 Juli 2026 - 12:26 WITA

Gulung Jaringan Curanmor di Terara, Tim Gabungan Polres Lotim Amankan 3 Pelaku dan 9 Motor

Selasa, 21 Juli 2026 - 17:31 WITA

KPK Sita Rp 9,06 Miliar dan Tetapkan 3 Tersangka dalam OTT Bupati Lombok Barat

Senin, 20 Juli 2026 - 17:52 WITA

KPK OTT Bupati Lombok Barat dan Amankan 18 Orang

Kamis, 16 Juli 2026 - 19:49 WITA

Bawa 15,31 Gram Sabu di Jok Motor, Buruh Asal Sikur Ditangkap Polisi di Masbagik

Selasa, 14 Juli 2026 - 22:25 WITA

Kapolda NTB Kunjungi Kajati, Perkuat Sinergi Penegakan Hukum

Jumat, 10 Juli 2026 - 17:47 WITA

Presiden Prabowo Tegaskan Komitmen Berantas Korupsi dan Tutup Kebocoran Anggaran

Berita Terbaru