Render Setengah, Biaya Se-penuh, Nasionalisme Ala Merah Putih: One for All

Rabu, 20 Agustus 2025 - 23:40 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Setelah Jumbo yang diproduksi bukan menggunakan uang negara, Pemerintah Indonesia akhirnya merilis film animasi 3D dengan semangat nasionalisme membara: Merah Putih: One for All. Poster filmnya gagah, trailernya penuh aksi, dan promosinya lantang: inilah karya animasi kebanggaan bangsa! Di atas kertas, film ini seharusnya jadi tonggak sejarah perfilman nasional, semacam Toy Story ala Garuda.

Namun, setelah menonton, saya jadi curiga jangan-jangan Pixar sedang tertawa terpingkal-pingkal di kantornya. Sebab film ini lebih terasa seperti Toy Story versi tugas akhir mahasiswa DKV yang dipaksa rampung dalam dua semester, dengan dana miliaran rupiah.

Mari kita bedah film ini dengan penuh kasih sayang, agar jelas di mana letak masalahnya: dari ilmu animasi yang setengah matang, desain komunikasi visual yang lebih cocok untuk lomba 17-an, hingga biaya produksi yang membuat kita bertanya-tanya: “Sebenarnya ini film, atau proyek subsidi siluman?”

Pertama-tama, mari bicara soal visual. Animasi 3D adalah kerja rumit: pencahayaan, tekstur, rigging, hingga render. Tapi Merah Putih: One for All berhasil menghadirkan sesuatu yang jarang ditemui di era 2020-an: nostalgia PlayStation 2. Ya, wajah karakternya kaku—bukan kaku karena disiplin militer, tapi kaku seperti manekin di Ramayana Mall. Rambut para tokoh tampak seperti wig plastik yang ditempel di helm motor. Gerakan bibirnya pun sering telat satu detik, sehingga adegan serius malah terlihat seperti sinetron India versi dubbing.

Kalau saja film ini ditayangkan tahun 2005, mungkin kita akan berkata, “Wow, keren! Indonesia bisa membuat film seperti ini!” Namun, sayang sekali kita berada di 2025, era di mana anak SMP saja bisa membuat animasi 3D melalui aplikasi gratis.

Dengan biaya miliaran, seharusnya film ini minimal bisa mendekati standar Moana atau Frozen. Nyatanya, kita justru mendapat hasil mirip SmackDown vs Raw di PS2, hanya ditambah efek kilatan merah putih.

Sekarang, biarka saya mengajak kita semua membicarakan masalah teknis. Animasi bukan sekadar membuat karakter bisa berjalan, lompat, atau berkelahi. Ada ilmu gerak, timing, squash and stretch, hingga ekspresi wajah. Pixar bisa membuat lampu meja tampak memiliki emosi. Studio Ghibli bisa membuat semangkuk ramen terlihat lebih menggoda daripada iklan Indomie.

Lalu, apa yang kita dapat di sini? Iya! Gerakan lari para karakter yang lebih mirip orang yang baru saja salah pakai sepatu kanan-kiri. Loncatannya terlihat patah-patah, seperti video buffering di jaringan 3G. Ekspresi wajahnya sulit dipercaya, karakter yang harusnya sedang marah malah tampak seperti sedang menahan bersin.

Baca Juga :  Swasembada Pangan di Lombok Timur: Apakah Sudah Tercapai?

Lebih parah lagi, ada beberapa adegan yang jelas-jelas terasa seperti copy-paste dari tutorial YouTube How to Animate 3D Character in 10 Minutes. Bedanya, jika tutorial itu biasanya berhenti di tahap “ini masih kasar ya, tinggal diperhalus nanti”, film ini justru memutuskan, “Ah, sudah bagus. Render saja, kirim ke bioskop.”

Film ini jelas ingin menyampaikan pesan nasionalisme. Warna merah-putih mendominasi di setiap poster, trailer, dan bahkan pencahayaan adegan. Masalahnya, bukannya terasa heroik, desain komunikasi visualnya justru sering jatuh seperti spanduk lomba tarik tambang di kampung. Kita tahu semangat patriotisme itu luhur, tetapi apakah perlu ditampilkan dengan kilatan cahaya, font bold ala brosur lomba karaoke, dan efek menyala di latar belakang? Beberapa adegan terlihat lebih cocok untuk banner HUT RI ke-80 di kantor desa dari pada layar bioskop.

Komunikasi visual yang baik seharusnya menyampaikan pesan dengan subtil, bukan membombardir penonton dengan efek nasionalisme by Photoshop. Hasilnya, penonton justru merasa ditampar terus-menerus dengan warna yang terlalu menyala sampai lupa fokus ke ceritanya.

Namun, di antara semua itu, bagian paling mengharukan adalah mengenai biaya produksi. Film ini menghabiskan biaya 6.7 miliar rupiah. Jumlah yang cukup untuk membangun jalan desa sepanjang puluhan kilometer, atau minimal membiayai riset rendang kalengan agar bisa awet 50 tahun. Dan lihatlahhasil akhirnya, kita tergoda untuk bertanya: “Duitnya ke mana, ya?” Apakah habis untuk beli server render yang ternyata dipakai juga untuk mining kripto? Apakah sebagian besar dialihkan untuk promosi, sehingga animasi dikerjakan dengan sisa uang rokok? Atau jangan-jangan sebagian ludes hanya untuk catering crew, lengkap dengan sate, sop buntut, dan es krim all you can eat?

Jika dibandingkan dengan standar luar negeri, Frozen misalnya, dengan budget ratusan juta dolar menghasilkan detail setitik salju yang bisa membuat ilmuwan fisika kagum. Sedangkan Merah Putih: One for All dengan dana miliaran rupiah, menghasilkan asap yang kualitasnya mirip efek After Effects template gratis.

Baca Juga :  Prabowo Keluarkan Keppres Satgas PHK untuk Lindungi Buruh

Tak bisa dipungkiri niat film ini baik, yaitu menumbuhkan nasionalisme melalui animasi. Namun, niat baik saja tak cukup. Nasionalisme yang dibungkus dengan animasi setengah matang justru berisiko membuat generasi muda berpikir, “Kalau begini hasilnya, lebih baik nonton One Piece saja.”

Ironisnya, pesan nasionalisme yang ingin disampaikan menjadi tergerus oleh distraksi teknis. Alih-alih bangga, penonton menjadi sibuk tertawa melihat gerakan kaku karakter yang seharusnya gagah. Alih-alih kagum, penonton sibuk membandingkannya dengan anime Jepang atau kartun barat yang mereka konsumsi tiap hari di Netflix. Film ini akhirnya jatuh pada jebakan klasik: semangat tinggi, eksekusi rendah. Hasilnya, nasionalisme half-render.

Akan tetapi, meskipun penuh kritik, kita tentu berharap film ini bukan akhir, melainkan awal. Indonesia memang butuh berani melangkah ke dunia animasi. Namun, langkah awal jangan dibiayai dengan sepatu emas yang ternyata dipakai untuk lari zig-zag.

Jika pemerintah benar ingin bersaing secara global, harus ada investasi serius pada pendidikan animasi, bukan sekadar beli software mahal. Juga kejujuran soal biaya produksi harus terjaga agar publik tahu uangnya lari ke mana. Lalu fokus pada kualitas cerita dan visual, bukan sekadar jargon “animasi nasionalisme pertama.” Karena kalau tidak, film animasi Indonesia akan terus jadi bahan meme: “Budget miliaran, hasilnya buffering.”

Merah Putih: One for All adalah contoh klasik karya yang niatnya mulia tetapi eksekusinya setengah matang. Dari visual ala PS2, gerakan copy-paste tutorial, desain komunikasi visual yang lebih cocok untuk spanduk lomba 17-an, hingga biaya produksi yang mengharukan, film ini lebih sering mengundang tawa satir daripada tepuk tangan kagum.

Namun, mari tetap optimis. Siapa tahu, di masa depan, Indonesia bisa benar-benar melahirkan animasi sekelas Pixar. Bukan hanya dari segi semangat nasionalisme, tapi juga dari segi render, gerak, dan detail. Untuk saat ini, biarlah Merah Putih: One for All kita kenang sebagai pelajaran bahwa nasionalisme bukan hanya soal warna merah putih yang ditempel di layar, tetapi juga soal kualitas karya yang benar-benar membuat kita bangga.

Sampai saat itu tiba, mari nikmati film ini dengan cara terbaik: menontonnya sambil mengingat kembali indahnya kenangan PS2 karena, setidaknya, film ini berhasil menghidupkan kembali kenangan masa kecil kita. ***

Penulis : Eyok El-Abrorii

Editor : Najamuddin

Berita Terkait

Prabowo Keluarkan Keppres Satgas PHK untuk Lindungi Buruh
Prabowo Buka Baju dan Peluk Buruh Usai Pidato May Day di Monas
Prabowo Lantik Enam Pejabat, dari Aktivis Buruh hingga Penasihat Khusus
Swasembada Pangan di Lombok Timur: Apakah Sudah Tercapai?
Pengamat Sebut Demokrasi Indonesia di Bawah Prabowo Masih ‘Belum Sempurna’ Versi EIU
Merintih dari Tanah: Catatan H Rachmat Hidayat Tentang Pangan, Rakyat, dan Masa Depan
Urgensi Muktamar Ke-35 NU di Lombok
Evaluasi Satu Dekade SDGs, Mahasiswa UMY Ajak Inovator Dunia Bertanding di KPM Competition 2026

Berita Terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 17:31 WITA

Buka Rinjani 100, Plt Kadispora Lepas Pelari Kategori Ekstrem

Kamis, 30 April 2026 - 20:14 WITA

Soal Anjing Liar, Wabup Lombok Timur: Sterilisasi Lebih Efektif daripada Eliminasi

Kamis, 30 April 2026 - 14:51 WITA

Pemkab Lotim-Unram Teken Hibah Lahan Riset Rumput Laut dan Klinik Spesialis di Ekas

Rabu, 22 April 2026 - 15:35 WITA

TNI dan Pemda Lombok Timur Buka TMMD Ke-128, Satukan Langkah Membangun Desa

Senin, 13 April 2026 - 18:13 WITA

IPM Lotim Naik Signifikan, Tokoh Pendidikan Sebut Kontribusi Dinas Dikbud

Senin, 13 April 2026 - 17:27 WITA

Bupati Lombok Timur Minta Maaf soal Kelangkaan Gas Elpiji 3 Kg

Senin, 13 April 2026 - 16:30 WITA

Massa Gempur Demo ke Kantor Bupati Lombok Timur, Protes Kelangkaan Gas Elpiji 3 Kg

Sabtu, 11 April 2026 - 14:01 WITA

Tokoh Pendidikan Pertanyakan Arah Kebijakan Strategis Pendidikan Lombok Timur

Berita Terbaru

DPRD Lombok Timur Ucapkan Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026. (Foto: Lombokini.com).

Advertorial

DPRD Lombok Timur Ucapkan Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026

Sabtu, 2 Mei 2026 - 12:30 WITA

Presiden RI Prabowo Subianto mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2026 pada peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di Monas, Jakarta, Jumat 1 Mei 2026. (Foto: Lombokini.com/Bakom RI).

Nasional

Prabowo Keluarkan Keppres Satgas PHK untuk Lindungi Buruh

Jumat, 1 Mei 2026 - 19:12 WITA

Plt. Kadispora Lombok Timur, Agus Sapandi, melepas peserta kategori ekstrem 162 KM dan 100 KM pada Event Trail Run Rinjani 100 di Pantai Pekendangan, Belanting, Jumat 1 Mei 2026. (Foto: Lombokini.com/Diskomifotik Lotim).

Lombok Timur

Buka Rinjani 100, Plt Kadispora Lepas Pelari Kategori Ekstrem

Jumat, 1 Mei 2026 - 17:31 WITA