LOMBOKINI.com – Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Institut Agama Islam (IAI) Hamzanwadi Pancor Desa Selelos 01 mengunjungi Museum Desa Genggelang di Lombok Utara, Ahad 8 Februari 2026. Kunjungan ini bertujuan mengeksplorasi narasi sejarah lokal yang sering terpinggirkan dalam diskursus sejarah nusantara.
Muh. Arya Suryawan, Koordinator Humas KKN PKM IAI Hamzanwadi, menyatakan kunjungan tersebut bukan sekadar perjalanan biasa.
“Ini adalah upaya mendekonstruksi sejarah yang kerap terlupakan. Museum ini menjadi ‘ruang bicara’ yang menghubungkan masa lalu dengan kegelisahan identitas masa kini,” ujarnya.
Museum Genggelang didirikan atas inisiatif individu Amiq Supardi pada 8 Maret 2018, setelah ia melihat banyak peninggalan bersejarah di desanya yang tak terawat.
Pendirian museum ini kemudian disahkan secara resmi oleh Fadli Zon selaku Menteri Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 2025.
Melalui koleksinya, museum tersebut memberikan pijakan kuat mengenai posisi Lombok dalam peta peradaban abad ke-7 hingga ke-8 Masehi.
Sejarah Genggelang menunjukkan jejaring maritim dan pemikiran yang menghubungkan Lombok dengan dinamika global pada masanya.
Salah satu temuan penting dari kunjungan ini adalah proses transmisi nilai-nilai Islam di Genggelang.
“Islam tidak hadir dengan menegasi tradisi lama, tetapi menyesuaikan diri melalui adaptasi kultural yang cerdas. Ini menunjukkan cultural hybridity atau percampuran budaya yang unik,” jelas Arya.
Museum tersebut juga berfungsi sebagai narasi kontra-hegemonik yang melawan “amnesia sejarah”. Koleksinya menawarkan narasi alternatif tentang kejayaan, sistem nilai, dan etika politik lokal yang mungkin luntur di era modern. Kunjungan ini diharapkan tidak berhenti pada kesan estetis semata.
“Ada tanggung jawab intelektual untuk menghubungkan nilai-nilai di Museum Genggelang dengan kondisi sosial-budaya kita sekarang. Kita perlu mengevaluasi kembali pengelolaan warisan budaya agar tidak sekadar jadi objek pariwisata,” pungkas Arya.
Menjaga Museum Genggelang berarti menjaga kewarasan kolektif sebagai bangsa yang memiliki akar sejarah dalam dan kokoh. Sejarah bukan garis lurus, tetapi spiral yang selalu memberikan jawaban atas pertanyaan masa depan. ***
Penulis : Muh. Arya Suryawan
Editor : Najamudin Anaji







