Kebun Raya Lemor Diincar untuk SMA Garuda, Mahasiswa Khawatirkan Ancaman Ekosistem

Jumat, 26 September 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Mahasiswa dan pemuda di Lombok Timur melakukan audiensi ke DPRD Lombok Timur dan dihadiri OPD terkait membahas polemik usulan pembangunan sekolah Garuda Nusantara di Kevun Raya Lemor, Desa Suela, Lombok Timur, NTB. Jumat 26 September 2025. (Foto: Lombokini.com).

Mahasiswa dan pemuda di Lombok Timur melakukan audiensi ke DPRD Lombok Timur dan dihadiri OPD terkait membahas polemik usulan pembangunan sekolah Garuda Nusantara di Kevun Raya Lemor, Desa Suela, Lombok Timur, NTB. Jumat 26 September 2025. (Foto: Lombokini.com).

LOMBOKINI.com – Aliansi Gumi Patuh Karya, yang terdiri atas sejumlah mahasiswa dan pemuda, mendatangi DPRD Lombok Timur pada Jumat (26/9/2025). Mereka menyuarakan penolakan terhadap rencana Pemerintah Kabupaten (Pemkab) membangun SMA Garuda Nusantara di Kawasan Kebun Raya Lemor (KRL).

Mereka menilai pembangunan sekolah unggulan itu bertentangan dengan fungsi awal KRL dan berpotensi mengancam ekosistem zona inti berstatus hutan lindung.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Lombok Timur, Zaidar Rahman, menegaskan bahwa rencana tersebut masih dalam tahap pengusulan. “Kami saat ini berusaha memenuhi kelengkapan persyaratan, termasuk melakukan kajian Analisis Dampak Lingkungan (Amdal),” jelas Zaidar dalam hearing di komisi IV DPRD Lotim tersebut.

Baca Juga :  LRC Perkuat Kapasitas 20 Sekdes di Lombok Timur untuk Mitigasi dan Adaptasi Iklim

Zaidar menambahkan bahwa pembangunan sekolah hanya akan memanfaatkan lahan seluas 2,3 hektar dari total 20 hektar kawasan KRL. Ia juga mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam kajian Amdal. “Jika hasilnya baik, mari kita dukung. Jika berdampak buruk, ya bisa kita tolak bersama,” ujarnya.

Pemkab mengaku telah mencari lokasi alternatif lain, tetapi belum menemukan lahan yang seluas dan sesuai dengan kebutuhan seperti di Kebun Raya Lemor.

Dalam audiensi tersebut, perwakilan mahasiswa, Azhar Pawadi, menyatakan penolakan yang tegas. “Apapun skemanya, kami tetap menolak,” tegas Azhar.

Baca Juga :  Konsultasi Publik Bahas Amdal Bypass Lembar-Kayangan, PPK Targetkan Rampung 4 Bulan

Ia menekankan bahwa penolakan mereka bukan tertuju pada pembangunan sekolah, melainkan pada pemilihan lokasinya di KRL yang selama ini berfungsi untuk rekreasi, pendidikan, penelitian, dan konservasi. “Mereka bisa membangun di aset Pemkab lain seperti di Pekosong atau Pringgabaya. Yang kami khawatirkan, proyek ini mengancam hutan lindung Lemor yang menjadi sumber mata air masyarakat,” pungkas Azhar.

Selain soal KRL, para mahasiswa juga menyoroti maraknya galian C ilegal di Lombok Timur dalam audiensi tersebut. ***

Editor : Najamudin Anaji

Follow WhatsApp Channel lombokini.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

LRC Perkuat Kapasitas 20 Sekdes di Lombok Timur untuk Mitigasi dan Adaptasi Iklim
Tambang Menggali, Pangan Mulai Berkurang
Gema Alam NTB dan WRI Indonesia Libatkan Perempuan Desa Awasi Kawasan Hijau
Lombok Timur Peringkat Pertama Penerima Program LSDP Bantuan Bank Dunia
Merawat Ruang Hidup di Hari Kemerdekaan: Komunitas Adat Batu Rentek Mengajak Warga Aikmel untuk Sadar Ekologis
Video Air Berbusa dari Tambak Udang Viral, Nelayan Protes Susah Cari Ikan
KPPI dan FITRA NTB Desak DPRD Lotim Kawal Darurat Air-Sampah di Pesisir Selatan
Warga Suryawangi Tutup Paksa Tambang Galian C Ilegal

Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 20:25 WITA

LRC Perkuat Kapasitas 20 Sekdes di Lombok Timur untuk Mitigasi dan Adaptasi Iklim

Selasa, 1 September 2026 - 22:01 WITA

Tambang Menggali, Pangan Mulai Berkurang

Selasa, 1 September 2026 - 20:20 WITA

Gema Alam NTB dan WRI Indonesia Libatkan Perempuan Desa Awasi Kawasan Hijau

Jumat, 28 Agustus 2026 - 14:34 WITA

Lombok Timur Peringkat Pertama Penerima Program LSDP Bantuan Bank Dunia

Rabu, 26 Agustus 2026 - 00:25 WITA

Merawat Ruang Hidup di Hari Kemerdekaan: Komunitas Adat Batu Rentek Mengajak Warga Aikmel untuk Sadar Ekologis

Berita Terbaru

Ketua TP PKK Provinsi NTB Hj. Sinta Agathia M. Iqbal menyapa seorang anak dalam acara cegah stunting di Kantor Desa Pringgabaya Utara, Kecamatan Pringgabaya LombokTimur. (Foto: Lombokini.com)

Opini

Benarkan Stunting di Lotim Turun Empat Persen? 

Jumat, 23 Okt 2026 - 12:12 WITA