LOMBOKINI.com – Memasuki hari kedua Training Center (TC) MTQ XXXI tingkat Provinsi NTB, tim kesehatan mulai mengintensifkan pemantauan terhadap kondisi fisik dan psikologis para peserta. Langkah ini diambil guna mengantisipasi penurunan stamina akibat ketegangan dan tekanan menjelang perlombaan.
Pemerintah Daerah (Pemda) Lombok Timur secara khusus menerjunkan tim medis profesional untuk mengawal seluruh kafilah, pelatih, hingga panitia selama pemusatan latihan berlangsung di Tetebatu.
Dokter umum dari RSUD dr. R. Soedjono Selong, dr. Ario Rifki Hidayatullah, mengungkapkan bahwa memasuki fase krusial ini, sejumlah peserta mulai menunjukkan gejala klinis yang dipicu oleh faktor psikologis atau stresor.
“Sekarang kami melihat peserta sudah mulai ada gejolak adrenalin (nervous). Karena ketegangan ini, keluhan yang muncul adalah asam lambung naik, nyeri ulu hati, hingga sering pusing. Rasa stres memang wajar mengarah ke sana,” ujar dr. Ario saat diwawancarai Kamis 21 Mei 2026.
Untuk menanggulangi kendala tersebut, tim kesehatan bergerak di ranah teknis dan non-teknis. Salah satu fokus utama adalah mengontrol ketat asupan nutrisi dan pola makan para kafilah selama satu minggu masa karantina.
“Kami merawat gizi mereka dengan memilih makanan yang layak, yang tidak mengganggu lambung sampai pada pita suara mereka,” jelasnya.
Selain pengaturan menu, tim medis bekerja sama dengan panitia untuk menyisipkan agenda pemeriksaan di antara padatnya rundown kegiatan TC.
Intervensi medis berupa pembagian vitamin, penyediaan obat-obatan, serta edukasi berkala terus digencarkan agar kondisi fisik peserta tidak kedodoran. Pemantauan ini bahkan diperluas hingga menyasar para pelatih dan panitia di lokasi.
Terkait dukungan logistik, dr. Ario memastikan bahwa seluruh fasilitas kesehatan yang disokong oleh Pemda dan pihak rumah sakit sudah sangat memadai untuk memenuhi kebutuhan seluruh peserta selama di Tetebatu.
Ia pun berpesan agar para kafilah kini lebih fokus pada penguatan mental, mengingat kemampuan teknis seluruh peserta sebenarnya sudah berada di level yang matang.
“Harapan kita, peserta bisa menyiapkan mental dengan benar. Kalau kemampuan, alhamdulillah peserta kita sudah bagus-bagus semua. Sebab jika mental tidak baik, itu akan langsung mempengaruhi fisik mereka,” pungkasnya. ***
Penulis : Paozan Azima







