Warga Gili Meno Gelar Aksi di Laut, Bentang Spanduk Tuntut Pipa Air Bersih Bawah Laut

Kamis, 21 Mei 2026 - 15:25 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Warga Gili Meno bersama Walhi NTB membentangkan spanduk di laut sambil menuntut pipa air bersih usai tiga tahun krisis, Kamis 21 Mei 2026. (Foto: Lombokini.com).

Warga Gili Meno bersama Walhi NTB membentangkan spanduk di laut sambil menuntut pipa air bersih usai tiga tahun krisis, Kamis 21 Mei 2026. (Foto: Lombokini.com).

LOMBOKINI.com – Warga Gili Meno, Kabupaten Lombok Utara, bersama Wahana Lingkungan Hidup Nusa Tenggara Barat (Walhi-NTB) menggelar aksi di tengah laut pada Kamis 21 Mei 2026. Mereka membentangkan spanduk kuning sambil menuntut hak dasar air bersih di Gili Meno.

Para warga menuntut pemerintah daerah menyalurkan air bersih melalui pipa bawah laut. Mereka menyebut, lebih dari tiga tahun menunggu, namun Pemkab Lombok Utara belum menunjukkan tindakan nyata.

Mereka mengawali aksi dengan menaiki sampan dan kapal milik warga setempat. Peserta aksi juga membawa bendera bertuliskan: “Kami Butuh Air Bersih melalui Pipa Bawah Laut atau Tidak Sama Sekali”.

Warga membentangkan spanduk sepanjang 100 meter di tengah laut dengan rangkaian sampan dan kapal. Spanduk tersebut mendapat respons dan dukungan dari warga yang berada di sepanjang pantai. Mereka ikut meneriakkan tuntutan yang sama.

“Berikan kami air bersih. Kami sudah lama menanti air bersih melalui pipa bawah laut atau tidak sama sekali. Jangan hanya janji-janji, kami sudah lelah,” teriak Zainur, warga Gili Meno, dalam orasinya.

Aksi juga menampilkan spanduk hijau bertuliskan: “Pulihkan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dari Krisis Iklim”. Spanduk lain berbunyi: “Pulihkan Indonesia, Pulihkan NTB”.

Spanduk-spanduk itu melintang di tengah laut Gili Meno. Gelombang dan angin cukup kencang tidak menyurutkan semangat warga yang sudah terlalu lama merindukan air bersih.

Warga: Kami Sumbang PAD Besar tapi Tak Dapat Air Bersih

Koordinator lapangan sekaligus Kepala Dusun Gili Meno, Masrun, yang memimpin aksi tersebut menyatakan, kondisi Gili Meno semakin terpuruk akibat krisis air bersih yang tak kunjung selesai. Padahal, kata Masrun, Gili Meno yang dikelola masyarakat telah menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) cukup besar untuk Kabupaten Lombok Utara.

“Apalagi yang ditunggu pemerintah? Fasilitas untuk kami mendapatkan air bersih sudah ada, tinggal memberi izin pipa bawah laut dari Gili Air. Namun belum ada kepastian dari Bupati Lombok Utara Nazmul Akhyar,” ujar Masrun.

Masrun menjelaskan, sebanyak 267 kepala keluarga atau sekitar seribu jiwa di Gili Meno sangat membutuhkan air bersih. Mereka mengalami krisis air bersih sejak Mei 2023, ketika PT BAL (Berkat Air Laut), perusahaan penyedia air bersih di Gili Meno dan Gili Trawangan, terjerat tindak pidana lingkungan dan korupsi.

“Aneh sekali, kenapa kami diminta menerima penyedia air bersih yang akan melakukan penyulingan air laut yang bisa merusak lingkungan? Padahal fasilitas air bersih bisa kami peroleh tanpa merusak lingkungan. Ada apa Pemerintah Lombok Utara ini, maunya apa?” tegasnya.

Pernyataan Masrun mendapat respons dan dukungan dari warga Gili lainnya. Mereka berharap air bersih segera kembali mengalir di Gili Meno.

“Kami terpaksa mandi menggunakan air asin karena tidak ada pilihan. Kami memasak dan minum menggunakan air isi ulang yang harganya lumayan, Rp20.000 per galon. Untuk air tawar atau air tandon, harganya mencapai Rp35.000 per liter,” kata Masrun.

Walhi: Penderitaan Warga Sudah Lebih dari Tiga Tahun

Ketua Walhi NTB, Amri Nuruadin, menyatakan, krisis air bersih yang berkepanjangan di Gili Meno telah menimbulkan penderitaan besar bagi penduduk setempat.

“Selama tiga tahun lebih, warga Gili Meno tidak mendapatkan hak dasarnya berupa air bersih yang layak dari negara ini. Harapan hanya tertumpu pada doa-doa yang dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa oleh setiap orang untuk keluarganya,” ujar Amri dalam orasinya.

Selama ini, warga hanya bertumpu pada air hujan yang mereka tampung dalam tandon, karena biaya membeli air bersih dalam jumlah besar cukup tinggi.

Aksi di tengah laut itu mendapat sambutan positif dari pengelola usaha penginapan dan restoran di Gili Meno. Para wisatawan yang sedang menikmati keindahan Gili Meno juga turut mendukung dengan membubuhkan tanda tangan pada petisi bersama. ***

Berita Terkait

PTUN Mataram Tolak Gugatan Mantan Sekda Lombok Utara, Keputusan Bupati Sah
KKN IAI Hamzanwadi Kunjungi Museum Genggelang, Telusuri Narasi Sejarah yang Terlupakan
Pemkab Lombok Utara Akan Sulap Teluk Nare Jadi Destinasi Wisata Modern Senilai Rp 200 Miliar
Dua Mahasiswa Ditemukan Tak Sadar di Pantai Nipah, Satu Tewas
Pemkab KLU Rotasi 18 Pejabat Eselon III dan IV, Ini Nama-namanya
Pemerintah Lombok Utara Kebut Pemekaran Dua Kecamatan Baru
Polsek Kayangan Dibakar Massa, Diduga Dipicu Bunuh Diri Warga Akibat Penanganan Kasus
Pj Gubernur NTB Apresiasi Kemajuan Lombok Utara, Soroti Potensi Pariwisata dan Ketahanan Pangan

Berita Terkait

Selasa, 9 Juni 2026 - 11:48 WITA

ESAI Khaerul Majdi: Oase Sejarah’ dan Tahun-Tahun yang Sial: Melihat HIMMAH NWDI dari Timur

Rabu, 3 Juni 2026 - 21:33 WITA

Esai Yuspianal Imtihan: Menilik Sikap Seniman di Era Artificial Intelligence 

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:42 WITA

MBG ‘Big Push’ Bagi Sektor Pendidikan  

Kamis, 21 Mei 2026 - 19:05 WITA

NTB Kirim 24.974 Sapi Kurban ke Jabodetabek, Perputaran Uang Tembus Rp 500 M

Senin, 18 Mei 2026 - 14:42 WITA

Menjelang Iduladha, Pemkab Lombok Timur Sidak Distributor dan Gelar Pasar Murah

Kamis, 7 Mei 2026 - 09:57 WITA

Percepatan Swasembada Pangan: Inpres Prabowo Subianto 

Rabu, 6 Mei 2026 - 18:21 WITA

Di Balik Narasi Akselerasi: Menguji Klaim Keadilan Pertumbuhan di Lombok Timur

Senin, 4 Mei 2026 - 16:14 WITA

Haroen: Potensi BBNKB di Samsat Selong Capai Rp 41 Miliar per Tahun

Berita Terbaru

Stok Pertalite Tersedia, Pertamina Siaga Penuhi Kebutuhan di Seluruh Wilayah. (Foto: Tamrin/Lombokini.com).

Nasional

Pertamina Pastikan Stok Pertalite Cukup dan Distribusi Normal

Jumat, 12 Jun 2026 - 22:25 WITA

Sayangnya, lompatan teknologi dalam 200 tahun terakhir telah membalikkan hierarki tersebut. Alat yang awalnya diciptakan untuk membantu manusia, kini berbalik mengendalikan sang penciptanya sendiri.

Pendidikan

Gigaduka: Penderitaan Modern dari Akal Imitasi (AI)

Jumat, 12 Jun 2026 - 22:06 WITA

Fenomena ini diperparah oleh dominasi masyarakat platform digital yang dikontrol oleh kepentingan profit industri, sehingga mengikis naluri organik dan kedaulatan berpikir manusia demi mengejar kecepatan serta validasi semu.

Pendidikan

Sastra Menjadi ‘Suaka’ di Tengah Absurditas Era Digitalisasi

Jumat, 12 Jun 2026 - 15:00 WITA