LOMBOKINI.com – Tokoh masyarakat dan adat di Sembalun, Lombok Timur, menegaskan tiga pilar vital untuk membangun pariwisata berkelanjutan. Pernyataan ini mengiringi upaya memproyeksikan kawasan dengan panorama Gunung Rinjani itu menjadi destinasi berbasis kawasan terintegrasi.
Mertawi, tokoh masyarakat dan anggota Majelis Adat Sasak (MAS) Kepaeran Khusus Sembalun, menekankan bahwa pembangunan pariwisata harus berpegang pada tiga prinsip dasar.
“Pertama, lingkungan harus tetap lestari. Kedua, kekokohan budaya lokal harus terjaga. Ketiga, harus ada keselarasan dengan nilai-nilai agama,” tegasnya di Sembalun, Kamis 1 Januari 2026.
Ia menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap maraknya pembangunan di lahan miring yang berpotensi merusak lingkungan.
“Kondisi ini sudah hampir lost control. Kami dari majelis adat sangat prihatin,” ujarnya.
Mertawi mengakui keterbatasan pihaknya dalam mengatasi masalah ini karena belum adanya payung hukum yang kuat, seperti peraturan daerah atau moratorium resmi dari pemerintah. Ia juga menyoroti lambannya proses penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) untuk kawasan Sembalun dan Jerowar bagian selatan.
“Dari dulu RDTR ini sering kami bahas, tapi ujung-ujungnya hilang tanpa kejelasan,” tandasnya.
Kondisi tata kelola yang belum optimal ini turut berdampak pada menurunnya kunjungan wisatawan ke Sembalun. Minimnya infrastruktur dan fasilitas pendukung menjadi keluhan utama di samping faktor cuaca.
Sebelumnya, Solidaritas Masyarakat Peduli Sembalun (SMPS) telah menyampaikan aspirasi mereka kepada Dinas Pariwisata Lombok Timur. Kepala Dinas Pariwisata Lombok Timur, Widayat, menyambut baik gagasan pengembangan wisata berbasis kawasan tersebut.
“Konsep ini perlu segera kami rumuskan dan bahas bersama,” ujarnya.
Camat Sembalun, Suherman, menyatakan bahwa Bupati Lombok Timur merespons positif wacana ini. “Bupati Lotim sangat welcome dengan gagasan ini,” terang Suherman.
Ia menjelaskan, pengembangan berbasis kawasan akan menempatkan komunitas lokal sebagai pintu masuk utama bagi wisatawan.
Sementara itu, Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) tetap memegang kewenangan atas aktivitas pendakian Gunung Rinjani.
“TNGR fokus pada konservasi, sedangkan pengelolaan wisata Sembalun kami kembangkan secara terintegrasi. Semua ini harus kami bahas bersama,” pungkas Suherman.
Dengan mengedepankan tiga pilar keberlanjutan, Sembalun berharap dapat bangkit sebagai destinasi unggulan yang tertata dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat lokal. ***
Penulis : Najamudin Anaji







