LSM Garuda Akan Hearing ke Bank Mandiri, Terkait Dugaan Uang Palsu

Sabtu, 2 Agustus 2025 - 22:02 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Direktur LSM Garuda Indonesia, M. Zaini. (Foto: Lombokini.com/Dok. Pribadi).

Direktur LSM Garuda Indonesia, M. Zaini. (Foto: Lombokini.com/Dok. Pribadi).

LOMBOKINI.com LSM Garuda Indonesia akan menggelar aksi hearing ke Kantor Pusat Bank Mandiri Mataram pada Kamis, 7 Agustus 2025. Aksi ini menyusul laporan nasabah, Kasmiati, yang menarik uang pecahan Rp 100 ribu bernomor seri TKR 177846 dari ATM KCP Bank Mandiri Renteng (26/7) dan diduga palsu.

Direktur LSM Garuda Indonesia, M. Zaini, menyatakan pihaknya telah menyampaikan surat pemberitahuan hearing pada Jumat 1 Agustus 2025.

“Kami akan membongkar dugaan tindak pidana kelalaian bank. Meski uang itu sudah bank tukar dengan yang baru, mereka tak menunjukkan bukti keasliannya saat pemeriksaan,” tegas Zaini kepada awak media di Matraam, Sabtu 2 Agustus 2025.

Baca Juga :  Imigrasi Lombok Timur Deportasi dan Cekal WNA Selandia Baru Pembuat Onar di Gili Trawangan

Ia menuntut Bank Mandiri menunjukkan uang bermasalah tersebut dan cara membedakan uang asli-palsu.

“Kami juga minta bukti catatan bahwa uang itu berasal dari setoran nasabah lain,” tambahnya.

Zaini mengingatkan, jika terbukti ada kelalaian, bank bisa melanggar UU Mata Uang dan UU Perbankan, berisiko sanksi pidana hingga denda miliaran rupiah.

Respons Bank Mandiri

Operasional Manager Bank Mandiri Mataram, Danu, menegaskan uang tersebut asli. “Mesin kami mencatat semua nomor seri. Uang ini recycle dari setoran nasabah dan lolos deteksi mesin,” jelasnya (29/7). Danu menyatakan uang lusuh tetap bisa masuk ATM, tetapi jika bermasalah akan masuk kotak reject.

Baca Juga :  Polisi Tetapkan F alias MS sebagai Tersangka Penganiayaan di Bagik Nyaka Santri

Meski demikian, pihak bank menukar uang Kasmiati dengan pecahan baru. Saat dikonfirmasi mengenai rencana hearing, Danu belum memberi tanggapan hingga berita ini terbit.

Kronologi Kasus

Kasmiati menarik uang Rp 100 ribu di ATM Mandiri Renteng (26/7) untuk membayar bakso. Kasir warung menolaknya karena uang terlihat lusuh dan diduga palsu.

“Saya malu sekali. Akhirnya meminjam uang kakak untuk bayar,” keluhnya. Kasmiati meminta bank lebih profesional dalam layanan.

Karena itu Zaini mendesak aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus ini. “Masyarakat harus merasa aman bertransaksi di ATM,” tegasnya.***

Berita Terkait

Perampok Aniaya Dua Warga Jerowaru saat Gagal Curi Kerbau
Danantara Benahi Tata Kelola dan Perkuat Fondasi Keuangan BUMN
Pakar Bantah Perjanjian Dagang dengan AS Bebani Indonesia: Rakyat Butuh Pekerjaan
Inflasi Ramadan 1447 H: Pengamat Minta Eliminasi ‘Mutant Statistics’
S Bantah Gelapkan Rp 1,05 Miliar Dana Pembangunan Dapur MBG di Selong, Lombok Timur
Tim Saber Bapanas Temukan Cabai Rawit dan Minyakita Masih Dijual di Atas HET di Lombok Timur
Polisi Tetapkan F alias MS sebagai Tersangka Penganiayaan di Bagik Nyaka Santri
Polres Lombok Timur Selidiki Dugaan Penipuan Pengadaan Dapur MBG Rp Rp 1,05 Miliar

Berita Terkait

Sabtu, 7 Maret 2026 - 23:15 WITA

Hadiri HADI ke-73 NW, Menhut Raja Juli: Tokoh Bangsa Lahir dari Pesantren

Jumat, 6 Maret 2026 - 17:36 WITA

Hearing Bersama Komisi III DPRD, Pelaku Koperasi Lombok Timur Sampaikan Aspirasi

Jumat, 6 Maret 2026 - 04:43 WITA

Perampok Aniaya Dua Warga Jerowaru saat Gagal Curi Kerbau

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:25 WITA

Pengamat: Tingkat Kemiskinan Lombok Timur Capai Target, tapi Kemiskinan Ekstrem Tak Masuk RPJMD

Rabu, 4 Maret 2026 - 13:19 WITA

Pemkab Lombok Timur Siapkan Rp 30 Miliar untuk Sembako Ramadan 1447 H, Target 198 Ribu Penerima

Sabtu, 28 Februari 2026 - 15:41 WITA

Inflasi Ramadan 1447 H: Pengamat Minta Eliminasi ‘Mutant Statistics’

Jumat, 27 Februari 2026 - 23:58 WITA

S Bantah Gelapkan Rp 1,05 Miliar Dana Pembangunan Dapur MBG di Selong, Lombok Timur

Jumat, 27 Februari 2026 - 22:21 WITA

Warga Duga Korupsi Menu MBG di Lombok Timur, Nilai Jeblok Rp 3000 per Siswa

Berita Terbaru