INDONESIA MENCARI IDEOLOGI

Minggu, 28 Desember 2025 - 14:15 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Indonesia Mencari Ideologi. (Foto: Lombokini.com/Istimewa).

Indonesia Mencari Ideologi. (Foto: Lombokini.com/Istimewa).

Oleh: Djoko Sukmono

Pandangan hidup bukan sekadar kumpulan gagasan atau sikap personal, melainkan struktur kesadaran yang secara langsung menentukan bagaimana manusia hadir dan bertindak di dunia.

Ia adalah fondasi eksistensial yang mengatur relasi manusia dengan realitas, dengan sesama, dan dengan kekuasaan. Karena itu, setiap krisis sosial pada dasarnya selalu berakar pada krisis pandangan hidup.

Ketika pandangan hidup kehilangan pijakan eksistensialnya, manusia mulai hidup dalam keterputusan: antara apa yang diyakini, apa yang diucapkan, dan apa yang benar-benar dijalani.

Di titik inilah ideologi bekerja. Ideologi bukan muncul untuk membebaskan, melainkan untuk menutup celah keterputusan itu dengan narasi palsu yang tampak masuk akal.

Ia memberi ilusi koherensi pada kehidupan sosial yang sesungguhnya rapuh. Ideologi menyederhanakan realitas yang kompleks menjadi slogan, simbol, dan bahasa politik yang tidak lagi dipercaya bahkan oleh mereka yang mengucapkannya.

Maka masyarakat tidak hidup di dalam kebenaran, melainkan di dalam repetisi bahasa yang kosong dari komitmen eksistensial.

Hegemoni terbentuk ketika kebohongan ideologis itu diterima sebagai kewajaran. Bukan karena ia benar, tetapi karena ia diulang terus-menerus oleh institusi, media, dan kekuasaan.

 

Dalam kondisi hegemonik, manusia tidak lagi mempertanyakan apakah suatu kebijakan bermakna atau substansial; mereka hanya bertanya apakah kebijakan itu sah secara prosedural.

Akibatnya, kebijakan publik kehilangan relasi dengan tujuan dasarnya. Ia tidak lagi menjawab persoalan konkret manusia, tetapi sekadar mengukuhkan keberadaan pembuat kebijakan itu sendiri.

Baca Juga :  Resensi Buku 'Kebijakan Ekonomi Publik'

Situasi ini menjelaskan mengapa kebijakan di Indonesia bersifat tidak fundamental, tidak substansial, dan tidak terkoneksi dengan sasaran kebijakan.

Masalahnya bukan pada teknis, bukan pada anggaran, dan bukan pada niat baik. Masalahnya adalah ketiadaan kebijaksanaan.

Negara ini memiliki pembuat kebijakan, tetapi tidak memiliki pemikir kebijakan. Ia memiliki kekuasaan administratif, tetapi tidak memiliki orientasi filosofis.

Tanpa kebijaksanaan, kebijakan hanyalah reaksi jangka pendek terhadap tekanan politik, bukan keputusan rasional yang berpijak pada pemahaman mendalam tentang manusia dan masyarakat.

Akar persoalan ini terletak pada absennya otoritas intelektual yang sejati. Bukan otoritas formal, melainkan otoritas pemikiran. Tanpa guru besar kebijakan dan guru besar kebijaksanaan dalam arti substantif, negara bergerak tanpa kompas.

Kekuasaan berjalan, tetapi tidak tahu ke mana. Ia aktif, tetapi tidak reflektif. Dan ketika kekuasaan tidak reflektif, ia akan selalu tertinggal dari realitas sosial yang terus berubah.

Perubahan terbesar hari ini datang dari era digital. Digitalisasi bukan sekadar alat, melainkan rezim kesadaran baru. Ia mengubah cara manusia memahami waktu, ruang, identitas, dan nilai.

Generasi milenial tidak lagi hidup dalam struktur sosial lama, tetapi negara masih beroperasi dengan logika lama. Ketimpangan ini menciptakan jurang eksistensial: negara berbicara dalam bahasa masa lalu, sementara rakyat hidup dalam realitas masa depan.

Akibatnya, muncul manusia-manusia yang percaya pada situasi sosial yang secara eksistensial tidak mereka jalani.

Baca Juga :  Performance Studies Mempersoalkan Tubuh, Bukan Mempersembahkan Tubuh

Mereka berbicara tentang bangsa, moral, dan nilai, tetapi hidup dalam ilusi yang sepenuhnya terlepas dari kenyataan konkret.

Bahasa politik menjadi bahasa yang tidak dipercaya. Janji menjadi bunyi tanpa makna. Dan politik berubah menjadi teater absurditas.

Dalam kekosongan makna itu, libertarianisme muncul bukan sebagai ideologi impor, melainkan sebagai respons eksistensial.

Ia bukan pilihan teoritis, tetapi reaksi terhadap negara yang gagal memahami warganya. Manusia menarik diri dari struktur kolektif karena struktur itu tidak lagi memberi arti.

Mereka memilih diri mereka sendiri karena negara tidak pernah benar-benar memilih mereka.

Neoliberalisme kemudian menguatkan kondisi ini dengan mengubah kebebasan menjadi kewajiban individual.

Setiap orang bertanggung jawab atas hidupnya sendiri, tetapi tanpa dukungan struktural yang bermakna. Tradisi runtuh, solidaritas melemah, dan masa depan diputus dari masa kini.

Namun semua itu diterima sebagai keniscayaan, karena telah dibungkus sebagai kemajuan.

Di titik inilah krisis kita sesungguhnya berada. Bukan krisis ekonomi, bukan krisis politik, melainkan krisis kebijaksanaan. Selama kebijakan tidak dilekatkan pada kebijaksanaan, selama kekuasaan tidak disertai refleksi filosofis, dan selama bahasa politik tidak kembali pada komitmen eksistensial, maka segala perubahan hanya akan mempercepat kehancuran makna.

Negara akan terus berjalan, tetapi manusia di dalamnya semakin kehilangan alasan untuk percaya. ***

 

Surabaya 18 Desember 2025

Berita Terkait

Performance Studies Mempersoalkan Tubuh, Bukan Mempersembahkan Tubuh
Polemik Seputar Hari Jadi Lombok Timur: ‘Onder Afdeling’
Tambang Menggali, Pangan Mulai Berkurang
Lombok Timur Tiba-tiba 131 Tahun: Sang Keliru Carente Mikir
Sejarah Lahirnya Lombok Timur: ‘Onder Afdeling’
Sejarah Lahirnya Lombok Timur
Pertanian Lombok Timur Tumbuh 5,08 Persen, Momentum Baru Ekonomi Daerah
Bermasalah: Roadmap Kebudayaan NTB 2027-2047

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 06:48 WITA

Dukung Edaran Dikbud, Satlantas Polres Lotim Siap Tertibkan Pelajar Pengendara Motor

Sabtu, 5 September 2026 - 19:56 WITA

Melalui FTBI 2026, Dikbud Lombok Timur Bentengi Bahasa Sasak dari Arus Modernisasi

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 18:46 WITA

HMPS SI FT Unham Gelar Seminar Pangan Hadirkan Sekda Lotim

Selasa, 18 Agustus 2026 - 19:55 WITA

Mahasiswa KKN ITSKes Muhammadiyah Selong Gelar Sosialisasi dan Pemberian Makanan Tambahan bagi 55 Balita Stunting

Selasa, 4 Agustus 2026 - 21:35 WITA

Wabup Lotim Tinjau SMPN 2 Selong, Soroti Fasilitas Minim dan Komite Vakum 6 Tahun

Senin, 3 Agustus 2026 - 16:31 WITA

Di Sisi Megah Pendopo, Siswa SMPN 2 Selong Terpaksa Belajar Tanpa Meja dan Buang Air ke Toilet Masjid

Sabtu, 18 Juli 2026 - 16:44 WITA

Empat Mahasiswa Universitas Hamzanwadi Raih Juara I PEKSIMIDA, Siap Wakili NTB ke PEKSIMINAS

Minggu, 12 Juli 2026 - 21:59 WITA

80 Sekolah Penerima Bantuan Revitalisasi 2026

Berita Terbaru