LOMBOKINI.com – Ketua Umum PP STN Ahmad Rifai mengecam praktik “serakahnomics” dalam pembukaan Kongres IX STN di Semarang, Sabtu 15 November 2025. Ia menyoroti konsentrasi kekayaan alam di tangan segelintir elit yang membuat petani dan nelayan kehilangan ruang hidup.
Rifai mengungkapkan, meski data ekonomi tampak positif, kondisi itu tidak menyentuh akar persoalan rakyat. STN mencatat 295 kasus konflik agraria sepanjang 2025 yang menunjukkan buruknya tata kelola agraria.
“Tanpa keberpihakan negara, petani dan nelayan akan terus tersisih di tanah sendiri,” tegasnya.
Untuk mengatasi kondisi ini, STN mendesak pemerintah menghentikan perampasan tanah dan menguasai kembali sumber daya alam.
Organisasi ini juga mendorong penguatan posisi rakyat melalui pelatihan komoditas, pembenahan pascapanen, serta akses modal dan teknologi.
Kongres yang dihadiri berbagai pakar dan pejabat ini ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama untuk mengawal program kedaulatan pangan dan reformasi agraria. ***
Editor : Najamudin Anaji







