CERPEN Yuspianal Imtihan: Pertanyaan Seputar Cerpen

Minggu, 23 Agustus 2026 - 08:00 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

CERPEN Yuspianal Imtihan: Pertanyaan Seputar Cerpen

CERPEN Yuspianal Imtihan: Pertanyaan Seputar Cerpen

 

Awal Akhir Masehi namanya. Tidak ada ada seorangpun yang benar-benar tahu apakah nama itu diberikan karena sebuah nubuat, kesalahan administrasi, atau karena kedua orang tuanya terlalu lama memandangi langit saat listrik di kampung mereka sering padam selama berhari-hari. Ia tumbuh seperti tanda tanya yang berjalan dari satu lorong ke lorong berikutnya, sembari membawa beberapa buku catatan cukup tebal yang dibiarkan kosong pada halaman pertama dan mulai penuh dengan tulisan pada halaman ketiga belas hingga terakhir. Kebiasaannya ini sungguh misterius. Sebab, tak pernah sekalipun ia umumkan ke hadapan jamaah amin dan digitaliah.

Beginilah kisahnya. Bahwa pada suatu malam di tengah kotanya yang kecil ini, Awal Akhir Masehi  terlihat duduk di bangku taman yang catnya mulai mengelupas. Seperti ingatan orang-orang yang singgah dan pergi silih berganti. Hujan baru saja selesai. Lampu lampu jalan berkedip kedip seperti mata seseorang yang sedang menahan isak tangis. Dan di atas pangkuannya, sebuah buku agak tebal pada halaman ketiga belas itu telah diberi judul yang cukup panjang “Pertanyaan Seputar Cerpen ini Ditujukan Kepada Tuan Berkacamata Nun Jauh Di Barat Sana.”

Dan kalian tahu apa yang akan dia tuliskan? Iya, sesuai judulnya, ia akan menulis sebanyak-banyaknya pertanyaan seputar cerpen. Sebagai aktivis literasi, Awal Akhir Masehi memang sedang menunjukkan bakatnya yang luar biasa. Sudah ratusan judul buku yang ia baca. Dan kecintaannya pada bidang sastra memang selalu meledak ledak. Termasuk kecintaannya membaca dan menulis cerpen. Karena itu, ia tiba pada satu pertanyaan besar dalam dirinya. Bukankah ada begitu banyak pertanyaan seputar cerpen yang mestinya ia tuliskan. Dengan pena di tangan dia pun mulai menulis.

Apa sebenarnya cerpen?

Apakah cerpen hanyalah cerita pendek yang selesai dibaca sebelum kopi menjadi dingin?

“Ah tentu saja tidak, sebetulnya tidak hanya kopi, teh, susu bahkan wedang jahe pun masih bisa menjadi akhir dari pertanyaan di atas.” kataku begitu. Ia terkejut dan lalu mendongak ke arahku.

“Sudah kamu tulis saja. Nanti jika ada yang mengganjal dalam pikiranku, aku akan langsung mengatakannya kepadamu. Apa apa yang aku katakan kamu juga bisa menuliskannya di dalam bukumu.” Ia menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.

Apakah cerpen adalah kehidupan yang dipotong potong sebelum sempat berkembang menjadi novel? Apakah cerpen merupakan serpihan nasib yang terlalu kecil untuk disebut sejarah? Mengapa manusia menciptakan cerpen? Apakah karena manusia sudah terlalu takut untuk tidak dikenang? Apakah cerpen lahir dari kesepian? Atau apakah cerpen lahir dari ketidakmampuan manusia menjelaskan hidup dalam satu nafas panjang? Siapa orang pertama yang memutuskan bahwa sebuah cerita bisa dikategorikan pendek? Apakah panjang cerita menentukan kedalaman luka di dalamnya?

Mengapa beberapa cerpen terasa lebih panjang daripada usia seseorang?

Mengapa beberapa cerpen yang hanya tiga halaman dapat meninggalkan gema selama bertahun-tahun? Apakah cerpen membutuhkan tokoh utama? Jika iya, mengapa hal itu berlaku demikian? Atau jika tidak demikian, mengapa hal tersebut bisa menjadi pilihan? Kalau tidak ada tokoh utama, apakah cerita akan tetap dapat disebut cerita? Bagaimana dengan posisi cerpen jika ia tak memiliki tokoh di dalamnya? Juga posisi pencerita jika ia tak menaruh tokoh dalam cerpennya? Apakah tokoh utama hanyalah manusia yang paling banyak menderita? Atau sebaliknya? Mengapa pembaca selalu mencari dirinya sendiri di dalam tokoh cerpen? Apakah cerpen merupakan cermin dari jiwa penulis bahkan pembacanya? Ataukah ia justru pisau? Mengapa akhir cerpen sering kali terasa seperti pintu yang ditutup setengah, terbuka dan tak ingin selesai? Apa untungnya melakukan hal yang demikian itu? Kelebihannya? Kekurangannya? Apakah cerpen mesti dan harus memiliki awal? Bagaimana jika sebuah cerita dimulai dari akhir, apakah ia masih bisa disebut awal? Bagaimana jadinya jika sebuah cerpen berhenti di tengah kalimat, apakah pembaca memiliki kewajiban untuk menyelesaikannya?

Sudah ada puluhan pertanyaan yang muncul di hadapanku. Tanpa ada satupun yang bisa aku tanggapi untuk memberikan jawaban.

Apa yang membuat sebuah cerpen menjadi baik? Atau setidaknya dikategorikan baik, bagus, jelek? Apakah cerpen yang baik harus dipenuhi dengan nuansa dan suasana kesedihan? Konflik? Tragedi? Romansa? Percintaan? Mengapa manusia lebih mudah mengingat cerita tentang kehilangan dibandingkan cerita tentang kebahagiaan? Apakah kebahagiaan terlalu terang untuk diingat? Sementara kesedihan terlalu sempurna untuk dikenang? Mengapa kesedihan terdengar lebih puitis? Apakah cerpen membutuhkan konflik? Jika tidak ada pertengkaran, tidak ada perang, tidak ada air mata, apakah masih ada cerita yang pantas untuk diperjuangkan atau setidaknya harus diselesaikan? Bukankah diam juga merupakan konflik? Bukankah seseorang yang menahan tangis selama bertahun-tahun adalah cerita yang paling panjang?

Awal Akhir Masehi menghela nafas panjang. Ia lalu menyalakan rokoknya. Asapnya kini bergerak seperti huruf-huruf dan angka angka yang gagal menjadi puisi. Di depannya ia melihat seorang perempuan setengah tua sedang menyapu trotoar di seberang jalan. Ia tersenyum sambil mengelus dagunya. Dan aku mampu menebak isi pikirannya. Dipikirnya perempuan setengah tua itu adalah seorang CEO yang sedang menyamar. Tetapi untungnya, tak sampai kemana mana, ia langsung memutuskan mengalihkan pikirannya. Aku senang karena ia memilih begitu. Sebab, jika tidak segera dialihkan, ia mungkin saja akan segera menulis cerpen tentang CEO. Bagiku ini seperti bencana, bila ia memutuskan membelokkan ceritanya ke tema yang lain. Kini tangannya sudah mulai bergerak lagi, menuliskan lagi pertanyaan pertanyaan seputar cerpen yang menjadi tema besar dalam cerpennya kali ini..

Apakah semua manusia sebenarnya sedang menulis cerpennya sendiri tanpa ia sadari? Apakah tulisan bunyi langkah kaki seseorang di trotoar bisa dianggap sebagai paragraf pembuka? Apakah hujan adalah tanda baca? Apakah kematian hanyalah titik? Bunyi atau jeda panjang tak berujung adalah kesunyian? Mengapa cerpen sering menggunakan sudut pandang orang pertama? Kedua, ketiga bahkan sudut pandang campuran? Lalu apakah hal itu dapat diterima? Apakah manusia terlalu kesepian sehingga ingin berbicara langsung kepada pembaca? Apa yang terjadi jika sebuah cerpen tidak memiliki sudut pandang? Apakah cerita akan menjadi buta? Mengapa sudut pandang dapat mengubah rasa sebuah cerita? Mengapa “aku” bisa terasa lebih dekat dibandingkan “dia”? Atau bagaimana jika dia justeru lebih dekat dengan pembaca ketimbang aku? Mengapa “kami” terasa seperti luka bersama? Apakah narator sebetulnya selalu ingin tampak jujur dalam menyampaikan gagasannya?

Awal Akhir Masehi menghentikan sejenak tulisannya. Matanya mulai melirik perempuan setengah tua itu. Perempuan setengah tua itu masih menyapu. Tetapi anehnya dia tidak beranjak dari posisinya yang semula. Tak ingin kehilangan momen, Awal Akhir Masehi pun melanjutkan tulisannya.

Bukankah manusia bahkan sering berbohong kepada dirinya sendiri? Jika narator lupa terhadap masa lalunya, apakah cerpen juga terkesan akan ikut kehilangan ingatan? Apakah ingatan adalah bahan bakar utama cerpen? Mengapa hal itu bisa berlaku demikian? Mengapa kenangan masa kecil penulis, pembaca atau orang orang yang diamati begitu sering muncul di dalam cerita? Apakah masa kecil itu merupakan negara yang tidak pernah benar-benar ditinggalkan? Mengapa aroma rumah tua dapat memanggil begitu banyak cerita? Apakah ada hubungan yang lebih spesifik untuk menjelaskan hal ini? Apakah benda-benda mati juga memiliki ingatan? Jika sebuah kursi dapat berbicara, kira kira berapa banyak rahasia yang mampu ia ceritakan? Mengapa cerpen sering dimulai dengan hujan? Atau kalimat pembuka pada suatu hari, pagi, siang, sore, malam? Apakah hujan adalah cara termudah bagi seseorang untuk membuat suasana menjadi lebih muram? Mengapa malam lebih sering dipilih daripada siang? Seberapa sering sore juga dijadikan pijakan untuk mengawali sebuah cerpen? Apakah manusia lebih jujur ketika gelap? Mengapa lampu redup terasa lebih dekat dengan sastra? Atau lilin kecil? Atau perahu kertas? Apakah sastra takut kepada cahaya yang terlalu terang? Sehingga menyublim dianggap tindakan paling esensial? Mengapa penulis menyukai metafora? Jika metafora tidak digunakan apakah cerpen akan kehilangan kualifikasinya untuk dianggap lebih berkelas? Apakah kenyataan terlalu kasar untuk ditulis secara langsung? Mengapa luka lebih sering digambarkan sebagai laut? Biru sebagai sesuatu yang luas? Mengapa kesepian sering disamakan dengan lorong? Mengapa cinta selalu dibandingkan dengan sesuatu yang tidak abadi? Apakah bahasa sebenarnya tidak pernah cukup? Apa arti kata cerita?

Suara batuk perempuan setengah tua itu menghentikan aktivitasnya. Aku sama sekali tidak terkejut dengan suara batuk perempuan itu. Tetapi tidak dengan Awal Akhir Masehi. Ia justeru memejamkan matanya. Ia mulai menghitung dan menebak nebak suara batuk itu akan berhenti di angka berapa. Ia berharap akan berhenti di angka 13. Ah, tetapi dia salah. Ternyata batuk perempuan setengah tua itu berhenti di angka 17. “Sial sekali, seharusnya suara batuknya berhenti di angka 13 saja agar sesuai dengan angka yang kamu anggap sakral.” katanya begitu.

“Ah iya benar duh sial sekali. Padahal aku juga ingin melihat cerita kita ini diberkati angka 13.”

Mendengarku berkata begitu. Ia pun memberikan isyarat agar aku kembali fokus pada apa yang dia tulis selanjutnya.

Mengapa manusia membutuhkan cerita sejak kecil? Apakah dongeng adalah bentuk awal dari cerpen? Apakah ibu yang meninabobokan anaknya bisa dianggap sedang menjadi penulis? Mengapa suara manusia dapat membuat imajinasi lahir? Apakah membaca cerpen berarti meminjam mimpi orang lain? Apakah penulis cerpen selalu memasukkan dirinya sendiri ke dalam cerita? Kalau seorang penulis menciptakan tokoh pembunuh, apakah itu berarti sebagian dari dirinya juga ingin melegitimasi bahwa ia adalah seorang pembunuh? Apakah tokoh fiksi memiliki jiwa? Apakah karakter yang dilupakan akan mati untuk kedua kalinya? Mengapa ada tokoh cerpen yang terasa lebih hidup daripada manusia nyata? Apakah realitas kalah kuat dibandingkan imajinasi? Mengapa pembaca menangis untuk seseorang yang tidak pernah ada? Tidak pernah diketahui dan bahkan tak memiliki hubungan dengannya? Mengapa manusia dapat merasa kehilangan terhadap tokoh yang hanya terdiri dari huruf?

Baca Juga :  CERPEN Yuspianal Imtihan: Warisan Ilmu Kecepatan Tangan

Awal Akhir Masehi kembali menutup matanya sejenak. Ia menengadah, menghela nafasnya. Menghisap dalam dalam rokoknya. Dihembuskannya asap itu sembari membuat lingkaran lingkaran. Meskipun sayang seribu sayang. Tak pernah sekalipun ia berhasil membuat lingkaran sempurna. Ia mungkin mulai menyakini bahwa bakatnya bukan membuat lingkaran sempurna dengan asap rokok. Kini baginya, tak mengapa jika ia tidak berbakat membuat lingkaran sempurna. Toh juga bakat itu tidak ada dalam daftar cita cita yang ingin diraihnya. Kami merasakan angin dingin sedang berhembus pelan dan tubuh kurusnya tampak menggigil.

“Beginilah akhirnya. Kamu menggigil karena nekat keluar tidak menggunakan jaket tebal dengan tulisan berhuruf Jepang kesayanganmu itu.” kataku

“Iya. Iya. Tadinya aku berpikir udara tidak akan sedingin ini. Bajigur ternyata aku salah pilih kostum.”

Kota yang kecil dan sunyi seperti halaman yang lupa ditulisi ini memang menyimpan banyak misteri. Masih tampak di seberang, jikalau perempuan setengah tua itu kini berhenti menyapu. Awal Akhir Masehi kembali memandangnya. Perempuan setengah tua itu kemudian tersenyum. Awal Akhir Masehi yang memperhatikan perempuan itu pun terkejut dibuatnya. Lantaran senyum yang dilempar padanya itu tampak tak biasa. “Mungkin dia STW bung.” Bisikku padanya.

Mendengkur berbisik begitu, Awal Akhir Masehi pun tidak lagi menunjukkan ketakutan, ia justru memilih mengalihkan pandangannya.

“Mau kamu aku tulis tentang perempuan itu gak?”

Aku diam seribu bahasa. Aku biarkan tangannya kembali menulis.

Apakah latar tempat menentukan nasib tokoh? Jika sebuah cerpen dipindahkan dari desa ke kota, apakah jiwanya akan ikut berubah? Mengapa gang sempit terasa lebih puitis dibandingkan jalan tol? Apakah kemiskinan terlalu sering dijadikan estetika dalam cerpen? Apakah penulis yang mapan hidupnya masih pantas menulis kisah kemiskinan? Mengapa penderitaan sering lebih tampak indah ketika ditulis? Apakah sastra ternyata diam-diam memanfaatkan luka manusia sebagai komoditas utama? Mengapa pembaca menikmati tragedi? Apakah manusia memang memiliki rasa ingin tahu terhadap kehancuran? Mengapa cerita bahagia sering dianggap kurang serius? Apakah karena pada kenyataannya masih lebih banyak yang menderita daripada berbahagia? Apakah dunia yang disinggahi manusia selama ini terlalu lelah untuk mempercayai kebahagiaan? Mengapa tokoh yang gagal terasa lebih dekat dengan pembaca? Apakah keberhasilan membuat seseorang sulit dijadikan cerita? Mengapa akhir terbuka sering membuat pembaca gelisah? Apakah manusia takut kepada ketidakpastian? Bukankah hidup sendiri adalah akhir terbuka? Mengapa cerpen sering menyisakan ruang kosong? Apakah ruang kosong itu sebenarnya tempat pembaca tinggal? Dan karena hal itu pembaca jadi lebih tenang? Apakah pembaca juga ikut menulis cerpen saat membayangkan adegannya? Jika dua orang membaca cerpen yang sama, apakah mereka sebenarnya membaca dua cerita berbeda? Apakah makna sebuah cerpen ditentukan oleh penulis atau justeru ditentukan oleh pembaca? Mengapa satu kalimat dapat memiliki begitu banyak arti? Apakah bahasa merupakan rumah yang terlalu luas untuk makhluk bernama sastra? Mengapa beberapa cerita ditulis tetapi memilih untuk sulit dipahami? Apakah semua cerpen memang harus dipahami? Bukankah ada musik yang dinikmati tanpa perlu dimengerti? Mengapa ada cerita yang terasa seperti mimpi buruk bagi para pembacanya? Pada paragraf ke berapa cerpen menjadi mimpi buruk? Atau apakah cerpen harus selesai dibaca dulu agar pembaca menyadari bahwa ia sedang mengalami mimpi buruk? Apakah absurditas merupakan bentuk kejujuran? Bukankah hidup sendiri sering kali tidak masuk akal? Mengapa cerpen eksperimental sering ditolak? Apakah latar belakang penulis dapat menjadi dalang sehingga cerpennya ditolak? Jika iya, sebaiknya penulis apakah perlu masuk dalam deretan penulis ternama? Pentingkah hal yang demikian itu? Apakah hal ini karena manusia sudah terlalu mencintai keteraturan? Mengapa sebagian penulis ingin melanggar bentuk? Apakah aturan sastra dibuat untuk dihancurkan? Atau justeru dikultuskan menjadi sesuatu yang lebih agung agar tidak dihancurkan? Apa sebenarnya plot itu? Apakah hidup manusia memiliki plot? Jika hidup tidak memiliki arah yang jelas, mengapa cerita harus memilikinya? Mengapa pembaca mencari klimaks? Apakah manusia membutuhkan ledakan agar merasa hidup? Mengapa dialog terasa penting dalam cerpen? Apakah manusia takut kepada kesunyian paragraf panjang? Mengapa percakapan dalam cerita dapat menghidupkan karakter? Apakah cara seseorang berbicara merupakan bentuk lain dari biografi? Mengapa diam dalam dialog sering terasa lebih kuat daripada kata-kata? Apakah yang tidak diucapkan lebih penting daripada yang diucapkan? Mengapa penulis menghapus begitu banyak kalimat? Berapa banyak cerita yang mati di tong sampah? Apakah draf pertama adalah bentuk paling jujur dari sebuah cerpen? Mengapa revisi terasa seperti membedah tubuh sendiri? Apakah setiap penulis diam-diam membenci tulisannya sendiri? Mengapa penulis terus menulis meskipun tahu dunia jarang membaca dengan sungguh-sungguh? Apakah menulis adalah bentuk doa? Ataukah ia hanya cara lain untuk bertahan hidup?

Aku meminta Awal Akhir Masehi untuk menghentikan tulisannya. Paragrafnya sudah terlalu panjang. Aku juga bilang bahwa perempuan setengah tua itu kini perlahan-lahan menghampirinya. Masih dengan tatapan tajam sambil tersenyum dengan senyuman yang tak biasa kepadanya. Awal Akhir Masehi melihat perempuan itu. Cepat cepat ia menutup bukunya, lalu dengan secepat kilat pula ia berlari meninggalkan bangku taman itu dan meninggalkanku sendirian. Aku mengejarnya. Jalanan yang masih basah jelas memantulkan cahaya toko yang belum tutup. Yang jika terkena jepretan kamera, tentulah akan estetik rupanya. Tetapi sayang. Awal Akhir Masehi tak ingin mengabadikan momen tersebut. Ia lebih memilih berlari saja. Melewati beberapa kios kios kelontong, kios fotokopi, warung nasi, dan seorang juru parkir mabuk yang tidur sambil memeluk jengkunya. Langit malam itu tampak seperti kertas karbon. Suasananya jadi agak mencekam karena jantungnya mulai berdetak lebih kencang. Sampai akhirnya ia memilih duduk di depan teras sebuah toko ritel.

Dipilihnya tempat itu pun karena ramai. Di depannya para pemuda pemudi duduk berkelompok kelompok. Pembahasan mereka pun tak jauh dari kehidupan sehari-hari. Ada diantara mereka yang malam itu sedang menceritakan kisah kakaknya yang terkena musibah, katanya kakaknya meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas. Ada juga yang membicarakan ketololan presiden mereka saat berpidato. “Hei antek antek asing! Hidup jaran kurus!  Eh 10 + 6 = 17.” “ Saya akan lawan.” Teriaknya. Sontak mereka tertawa terbahak-bahak karena pemuda tersebut tampak piawai meniru suara presiden itu. Mereka menganggap presiden itu sebagai bahan lelucon yang bisa mengundang gelak tawa. Bagi mereka apa yang selama ini dikatakan presiden itu sungguh kata kata yang keluar dari mulut orang yang bodoh. Presiden itu mereka cap sebagai pemimpin yang tak becus juga pembawa sial dan biang masalah bagi negara mereka.

Tiba tiba insiden perkelahian pun pecah malam itu. Seorang juru parkir yang sebelumnya tidur memeluk jengkunya itu terlibat perkelahian dengan seorang pelanggan ritel. Gegara si pelanggan ritel yang tak mau membayar uang parkir karena merasa kang parkir itu tak pernah menyentuh motor miliknya. Tentu saja kang parkir itu juga tak ingin dituduh begitu. Kang parkir berdalih bahwa meskipun ia tidak menyentuh motor si pelanggan, tetapi karena kawasan itu sudah menjadi wilayah kekuasaannya, maka ia berhak meminta bayaran. Kewajiban baginya sudah diwakilkan dengan memandangi motor milik pelanggan. Tetapi karena alasan itulah, si pelanggan juga merasa tidak perlu membayar. Akibat perkelahian itu, dua gigi depan kang parkir itu harus tanggal malam itu terkena hantaman helm si pelanggan. Sementara si pelanggan harus pulang dengan jengkunya yang robek.

“Wah Untung saja tidak sampai patah ya.”

Awal Akhir Masehi yang justeru keasyikan menyaksikan kekacauan itu pun aku perintahkan agar melanjutkan pekerjaannya. Ia pun menuruti perintahku. Kini ia menatap kembali bukunya dan mulai melanjutkan menulis pertanyaan seputar cerpen dan kini benar benar seolah tak peduli lagi.

Mengapa cerpen sering menggunakan simbol? Apakah simbol lahir karena manusia takut berbicara terus terang? Mengapa burung sering melambangkan kebebasan? Mengapa cermin sering melambangkan identitas? Mengapa laut terasa seperti kesedihan yang tidak selesai? Apakah simbol bersifat universal? Ataukah setiap pembaca membawa simbolnya sendiri? Mengapa satu benda dapat berarti banyak hal? Apakah makna memang selalu berpindah? Mengapa penulis menyembunyikan pesan? Apakah sastra menikmati permainan teka-teki? Mengapa pembaca merasa puas ketika berhasil memahami sebuah metafora? Apakah membaca merupakan bentuk berburu? Mengapa ada cerpen yang terasa seperti puisi? Apakah batas antara puisi dan cerpen benar-benar ada? Jika sebuah cerita hanya terdiri dari suasana, apakah ia masih cerita? Mengapa ritme kalimat dapat mempengaruhi emosi pembaca? Apakah musik diam-diam tinggal di dalam sastra? Mengapa pengulangan terasa indah? Apakah manusia menyukai gema karena hidup manusia dianggap terlalu cepat berlalu? Mengapa penulis memilih satu kata dibandingkan kata lain? Apakah sinonim sebenarnya tidak pernah benar-benar sama? Mengapa kata “pulang” terasa berbeda dibandingkan “kembali”? Mengapa kata “ibu” dapat membuat seseorang menangis? Apa hubungannya tiga huruf itu dengan kehilangan? Kesedihan? Atau pengorbanan? Apakah bahasa memiliki suhu? Mengapa ada kalimat yang terasa dingin? Mengapa ada paragraf yang terasa seperti pelukan? Apakah tulisan dapat menyentuh tubuh? Mengapa beberapa cerpen terasa seperti mimpi? Apakah mimpi adalah cerpen yang ditulis bawah sadar? Mengapa logika sering hancur di dalam sastra? Apakah kenyataan terlalu sempit bagi imajinasi? Mengapa tokoh-tokoh absurd tetap terasa manusiawi? Apakah manusia sendiri makhluk absurd? Mengapa humor dapat muncul di tengah tragedi? Apakah tertawa merupakan cara tubuh melawan kehancuran? Mengapa satire terasa lebih tajam daripada pidato? Apakah cerita lebih berbahaya dibandingkan senjata? Mengapa penguasa sering takut kepada sastra? Apakah cerpen dapat mengubah dunia? Jika satu cerita mampu menyelamatkan satu orang dari bunuh diri, apakah itu sudah cukup untuk disebut perubahan? Mengapa buku pernah dibakar? Apakah ide memang lebih sulit dibunuh dibandingkan manusia? Mengapa sensor lahir? Apakah kebebasan selalu menakutkan? Mengapa beberapa penulis dipenjara? Apakah menulis berarti mempertaruhkan diri? Mengapa cerpen tentang perang selalu terasa sunyi? Apakah ledakan terbesar justru terjadi di dalam batin manusia? Mengapa cinta dan kematian begitu sering hadir secara bersamaan bahkan selalu tampak berdampingan? Apakah manusia baru memahami hidup ketika berhadapan dengan kehilangan? Mengapa tokoh tua sering dipenuhi penyesalan? Yang muda dianggap sebagai kekuatan dan hasrat? Apakah usia hanyalah tumpukan pertanyaan yang tidak sempat dijawab? Mengapa anak kecil di dalam cerpen sering tampak lebih bijak daripada orang dewasa? Apakah kepolosan merupakan bentuk pengetahuan yang hilang?

Baca Juga :  CERPEN Yuspianal Imtihan: Warisan Ilmu Kecepatan Tangan

Awal Akhir Masehi berhenti menulis.

Ia menemukan seekor ngengat mati di sela sela halaman bukunya. Sayapnya rapuh seperti surat cinta yang terlalu lama disimpan. Ia memandangi bangkai serangga kecil itu cukup lama. Lalu memilih melompati bagian yang terkena noda bangkai serangga itu. Dengan membaca sedikit mantra, ia pun kembali menulis pertanyaan pada buku yang dipegangnya.

“Kenapa kamu membaca mantra?”

“Aku ingin pertanyaan seputar cerpen ini cepat selesai tanpa ada gangguan lagi.” Katanya begitu.

Apakah semua cerita pada akhirnya berbicara tentang kematian? Mengapa manusia takut dilupakan? Apakah menulis merupakan usaha melawan kefanaan? Jika tidak ada pembaca, apakah sebuah cerpen tetap hidup? Apakah cerita membutuhkan saksi? Mengapa arsip terasa menyedihkan? Apakah perpustakaan adalah kuburan bagi suara-suara masa lalu? Mengapa beberapa buku berbau nostalgia? Apakah kertas dapat menyimpan waktu? Mengapa tinta terasa lebih abadi dibandingkan ucapan? Apakah teknologi akan membunuh cerpen? Jika cerita dibaca melalui layar, apakah jiwanya berubah? Mengapa manusia tetap menulis meskipun dunia dipenuhi video singkat? Apakah membaca adalah bentuk perlawanan terhadap kecepatan zaman? Mengapa perhatian manusia semakin pendek? Apakah cerpen akan semakin pendek di masa depan? Jika satu kalimat mampu menghancurkan hati seseorang, apakah kita masih membutuhkan halaman panjang? Mengapa ada cerita yang gagal menyentuh pembaca? Apakah semua pembaca memiliki luka yang berbeda? Mengapa satu cerpen dapat terasa biasa bagi seseorang dan terasa sakral bagi orang lain? Apakah pengalaman hidup menentukan cara membaca? Mengapa kritik sastra sering terdengar rumit? Apakah sastra memang membutuhkan teori? Bukankah seseorang bisa menangis tanpa memahami struktur naratif? Mengapa akademisi dan pembaca umum sering berbeda pendapat? Apakah sastra harus dijelaskan? Mengapa misteri terasa penting? Jika semua makna dibuka sepenuhnya, apakah cerita akan kehilangan sihirnya? Mengapa penulis sering merasa asing terhadap tulisannya sendiri setelah selesai? Apakah sebuah cerita berubah ketika waktu berlalu? Mengapa cerpen yang dulu terasa indah kini terasa biasa? Apakah manusia berubah lebih cepat daripada bahasa? Mengapa nostalgia dapat memalsukan kenangan? Apakah semua cerita masa lalu sebenarnya sedang kita edit diam-diam? Mengapa tokoh antagonis penting? Apakah kejahatan diperlukan agar manusia memahami kebaikan? Mengapa manusia tertarik kepada karakter gelap? Apakah setiap orang menyimpan sisi yang tidak ingin diperlihatkan? Mengapa monster dalam cerita sering lebih jujur daripada manusia? Apakah keburukan lebih mudah dikenali dibandingkan kebaikan? Mengapa pengkhianatan terasa sangat kuat dalam cerita? Apakah manusia diam-diam takut tidak dicintai? Mengapa keluarga sering menjadi sumber konflik dalam cerpen? Apakah rumah adalah tempat pertama manusia belajar terluka? Mengapa ayah di dalam cerita sering diam? Mengapa ibu di dalam cerita sering menangis diam-diam? Apakah setiap keluarga menyimpan rahasia yang tidak pernah selesai? Mengapa cinta pertama begitu sering ditulis? Apakah manusia tidak pernah benar-benar pulih dari kehilangan pertamanya? Mengapa hujan di stasiun terasa romantis? Apakah perpisahan membutuhkan cuaca tertentu? Mengapa kereta api sering muncul dalam sastra? Apakah perjalanan selalu identik dengan perubahan? Mengapa tokoh pengembara terasa menarik? Apakah manusia sebenarnya selalu mencari rumah? Mengapa kota besar terasa kesepian? Apakah keramaian dapat memperbesar kehampaan? Mengapa desa sering digambarkan nostalgik? Apakah manusia selalu merindukan sesuatu yang telah hilang?

Awal Akhir Masehi menyalakan rokok untuk yang kesekian kalinya. Di depannya, insiden yang dipikirnya sudah tidak penting itu, yang sampai tak sempat kami pedulikan itu kini berubah menjadi tragedi berdarah. Sadis dan brutal. Akibat jengku si pelanggan ritel yang robek itu. Sekelompok pemuda lain datang menyerbu kang parkir yang sejak tadi kesakitan karena kehilangan dua giginya. Aku dan Awal Akhir Masehi jadi sangat terkejut karena di tengah-tengah kerumunan itu ada sosok perempuan setengah tua yang dilihatnya di seberang jalan beberapa waktu lalu itu, kini ia juga bersimbah darah. Lengan dan dadanya tertusuk benda tajam. Ternyata perempuan setengah tua itu adalah ibunya si kang parkir. Aku tidak tega melihatnya.

Sementara, tubuh pemuda pemudi yang tadi sempat menyaksikan perkelahian itu juga ikut tumbang dan bersimbah darah. Secepat kilat mereka semua melarikan diri menuju rumah sakit yang jaraknya tak terlalu jauh dari lokasi kejadian. Tidak ada polisi yang datang untuk mengamankan insiden tersebut. Bukan karena polisi tidak peduli, tetapi memang karena tak seorangpun yang berani melaporkan kejadian tersebut. Malam itu, hanya aku dan si Awal Akhir Masehi saja yang tidak mengalami cedera sedikitpun. Tetapi daripada kami harus meninggalkan tempat ini. Aku kemudian memintanya melanjutkan kembali menulis pertanyaan seputar cerpen yang belum selesai ditulisnya itu dengan cepat.

Apakah genre dalam dunia kesusastraan itu penting dalam cerpen? Mengapa manusia membagi cerita menjadi horor, romantis, surealis, satir, dan tragedi? Apakah kehidupan sendiri tidak pernah mematuhi genre? Mengapa cerita horor terasa dekat dengan kesepian? Apakah hantu hanyalah bentuk lain dari kenangan? Mengapa cerita kriminal membuat pembaca penasaran? Apakah manusia diam-diam ingin memahami sisi gelap dirinya? Mengapa fiksi ilmiah sering berbicara tentang masa kini? Apakah masa depan hanyalah cermin yang dipasang lebih jauh? Mengapa cerita distopia terasa semakin realistis? Apakah dunia memang bergerak menuju ketakutan kolektif? Mengapa cerita romantis sering berakhir sedih? Apakah cinta membutuhkan penderitaan agar terasa besar? Mengapa pembaca percaya kepada kebetulan di dalam cerita? Apakah hidup manusia terlalu kacau sehingga kita membutuhkan pola? Mengapa penulis menyembunyikan foreshadowing? Apakah manusia menikmati rasa “sudah seharusnya begitu” setelah akhir terungkap? Mengapa twist ending begitu digemari? Apakah keterkejutan membuat manusia merasa hidup? Mengapa beberapa cerpen memilih akhir yang datar? Apakah kehidupan sehari-hari sebenarnya lebih tragis daripada ledakan besar? Mengapa kesunyian bisa begitu menghancurkan? Apakah kesepian adalah tokoh utama di sebagian besar sastra? Mengapa manusia terus mencari makna? Apakah cerpen merupakan mesin pencari makna? Mengapa ada cerita yang terasa nihilistik? Apakah kehampaan juga layak diceritakan? Mengapa spiritualitas sering muncul diam-diam di dalam sastra? Apakah manusia selalu ingin percaya ada sesuatu setelah akhir? Mengapa kematian dalam cerita dapat terasa indah? Apakah estetika mampu melunakkan rasa takut? Mengapa penulis menggambarkan darah seperti bunga? Mengapa luka dapat terdengar musikal? Apakah keindahan dan kehancuran memang bertetangga? Mengapa sastra sering berbicara dengan cara memutar? Apakah kebenaran terlalu menyakitkan jika diucapkan langsung? Mengapa pembaca mencari dirinya di dalam cerita orang lain? Apakah identitas manusia sebenarnya kumpulan narasi? Jika seseorang kehilangan ingatan, apakah ia kehilangan cerita tentang dirinya? Apakah manusia adalah cerpen yang sedang ditulis waktu? Mengapa akhir kehidupan disebut akhir cerita? Apakah pemakaman adalah halaman terakhir? Mengapa nama seseorang terasa penting di dalam cerita? Apakah nama menentukan nasib? Apakah seseorang yang bernama Awal akan selalu mencari permulaan? Apakah seseorang yang bernama Akhir akan selalu takut kehilangan? Apakah seseorang yang bernama Masehi akan terus dihantui sejarah? Mengapa ia merasa hidupnya seperti paragraf yang belum selesai? Mengapa setiap pertanyaan justru melahirkan pertanyaan lain? Apakah jawaban sebenarnya tidak pernah ada? Ataukah manusia memang hidup untuk terus bertanya?

Awal Akhir Masehi berhenti menulis. Aku bertanya mengapa ia menghentikan tulisannya. Ia melihatku dengan tatapan yang aneh. Bulu kuduk ku bergidik. Malam itu, untuk pertama kalinya ia tidak bisa melihat bayangannya sendiri di depan cermin. Untuk pertama kalinya juga, ia merasa tubuhnya mampu menembus dinding. Ia bahkan bisa melayang, bisa terbang dan pulang menuju rumahnya. Terakhir, dan untuk pertama kalinya malam itu, selama dalam perjalanan pulang, ia bisa melihat apa apa yang terjadi dibalik dinding rumah orang lain, mulai malam itu, aku mengikutinya terbang. Kini kami benar-benar tidak mampu memegang apapun. Apalagi untuk melanjutkan menulis pertanyaan seputar cerpen yang sebetulnya belum ia selesaikan.

“Pertanyaan seputar cerpen yang kamu tulis ini masih belum selesai. Tugasku adalah mencari penggantimu.”

 

Yuspianal Imtihan, M.Sn. Lahir di Kelayu pada tanggal 13 April 1986. Bekerja sebagai Dosen Tetap di Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan Universitas Hamzanwadi Selong. Pendidikan terakhir yang ditempuh pada Program Magister Institut Seni Indonesia Denpasar dan saat ini sedang melanjutkan studi S3 di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Di luar kampus, ia aktif sebagai pegiat seni pertunjukan, penulis lagu, esai seni budaya, cerpenis, naskah teater, sutradara, aktor. Ia juga mengerjakan proyek seni berbasis riset dan kolaborasi bersama seniman nasional hingga internasional. Ia juga adalah pendiri group musik Armonica, pendiri kelompok Teater 16 Lombok Timur, Seniman Balsem untuk Indonesia dan Direktur Program Di Luar Jendela. Tak hanya itu, ia sangat aktif terlibat dalam Event berskala lokal, nasional hingga International. Diantaranya adalah International Rain Festival, Nyala Fest, Di Luar Jendela dan Alunan Budaya Desa Pringgasela. Seluruh karya karya yang telah dihasilkan selama ini dapat dilacak dan sudah tersiar di Seluruh Platform Digital.

Penulis : Yuspianal Imtihan

Berita Terkait

CERPEN Yuspianal Imtihan: Warisan Ilmu Kecepatan Tangan
Sempurnakan Program DAK 2027 dengan Mendata Penulis Lokal: Adakah Peluang Pengadaan Buku Karya Penulis Lokal?
CERPEN Yuspianal Imtihan: Ada Kosnpirasi Di Cerita Ini 
Viralisasi Berkelindan dengan Motif Ekonomi, Program Literasi Selalu Dilayakkan Proyek Belaka
Penderitaan Modern di Era AI: Manusia dan Realitas Palsu, Sastra sebagai Penawarnya

Berita Terkait

Rabu, 19 Agustus 2026 - 19:39 WITA

Kapolri Beri Pin Emas ke Gubernur NTB dan Bupati Lotim atas Dukungan Swasembada Bawang Putih

Rabu, 19 Agustus 2026 - 19:36 WITA

Kapolri dan Titiek Soeharto Panen Bawang Putih dan Lakukan Peletakan Batu Pertama Gudang Benih Sembalun

Selasa, 11 Agustus 2026 - 22:27 WITA

BPK NTB Jawab Soal BTT Rp 484 Miliar, PDIP: Jelaskan Peruntukan, Abaikan Legalitas Pergeseran

Selasa, 11 Agustus 2026 - 13:35 WITA

DPM Unram Siapkan Gugatan ke PTUN soal Pergeseran Dana BTT Rp 484 Miliar

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 20:18 WITA

Resmi Diakuisisi Dua Putra Daerah, Ekas Breaks Berganti Nama Jadi Windy Ekas Breaks Resort & Villa

Rabu, 5 Agustus 2026 - 10:21 WITA

Kejanggalan Pengelolaan APBD NTB 2025, Empat Anggota DPRD Desak BPK Gelar Audit Investigatif

Kamis, 30 Juli 2026 - 21:14 WITA

BPBD NTB dan Lombok Timur Uji Ketangguhan Desa dengan SIK SIAGA

Minggu, 19 Juli 2026 - 19:37 WITA

Koresponden tvOne Datangi Ponpes Al-Ishlahuddiny dan Sampaikan Maaf atas Polemik Pemberitaan

Berita Terbaru

CERPEN Yuspianal Imtihan: Pertanyaan Seputar Cerpen

Sastra

CERPEN Yuspianal Imtihan: Pertanyaan Seputar Cerpen

Minggu, 23 Agu 2026 - 08:00 WITA

Material Jerami dan Bambu Picu Api Cepat Lalap Rumah Adat Sade. (Foto: Lombokini.com)

Lombok Tengah

Material Jerami dan Bambu Picu Api Cepat Lalap Rumah Adat Sade

Minggu, 23 Agu 2026 - 01:34 WITA

Kebakaran melanda Desa Wisata Adat Sade di Lombok Tengah pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026. (Foto: Lombokini.com)

Lombok Tengah

Api Melalap Desa Wisata Adat Sade

Sabtu, 22 Agu 2026 - 23:34 WITA

Sekda Lombok Timur, H. Muhammad Juaini Taofik, memaparkan strategi penguatan ketahanan pangan dalam seminar yang digelar HMPS Sistem Informasi Unham di Dusun Belet, Desa Bagik Payung, Jumat 21 Aguatus 2026. (Foto: Lombokini.com)

Lombok Timur

HMPS SI FT Unham Gelar Seminar Pangan Hadirkan Sekda Lotim

Sabtu, 22 Agu 2026 - 18:46 WITA