LOMBOKINI.com – Warga Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, NTB, masih mengandalkan air tangki dengan harga yang selangit. Mereka harus mengeluarkan biaya hingga Rp 500 ribu per bulan hanya untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.
Seorang tokoh pemuda setempat, Rahnan, mengatakan harga satu tangki air berkisar antara Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu, tergantung jarak tempuh. Bahkan, infrastruktur jalan yang rusak dapat mendongkrak harga lebih tinggi.
Rahnan yang juga menjabat Ketua DPD KPRI-1 LOTIM menuturkan bahwa setiap kepala keluarga bahkan bisa menghabiskan lebih dari Rp 500 ribu per bulan hanya untuk air bersih.
“Satu keluarga bisa menghabiskan hingga Rp 500 ribu lebih setiap bulan hanya untuk air bersih,” ujar Rahnan kepada Lombokini.com, Sabtu 23 Agustus 2025.
Proyek SPAM Senilai Ratusan Miliar Hanya Menghiasi Desa
Kondisi ini mempermalukan janji pemerintah. Padahal, pemerintah telah membangun proyek SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum) Pantai Selatan senilai ratusan miliar rupiah.
Namun, infrastruktur megah itu tidak pernah mengalirkan setetes pun air ke rumah-rumah warga sejak pembangunannya bertahun-tahun lalu.
Bupati Lombok Timur, Haerul Warisin, bahkan telah meresmikan SPAM tersebut pada Maret 2025. Dalam peresmian itu, Bupati menyampaikan pentingnya mensyukuri proyek senilai lebih dari Rp 120 miliar tersebut.
Sayangnya, Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Timur terus mengulang janji dari masa ke masa. Tidak ada pihak yang mengaudit kebijakan tersebut, dan tidak ada penjelasan yang transparan kepada publik. Kesunyian pihak berwenang ini terus mengikis kesabaran dan kepercayaan warga.
Water Meter Hanya Pajangan, Air Tak Juga Mengalir
Kepala Desa Sekaroh, H. Mansyur, menegaskan bahwa jaringan pipa dari SPAM memang belum beroperasi. Meskipun warga telah memasang water meter sejak tahun lalu, tidak ada air yang mengalir.
“Air tidak pernah mengalir sejak meteran dipasang. Bisa jadi semua meteran air warga sudah rusak karena terlalu lama terpasang tanpa pernah mendapat aliran air,” katanya.
Mansyur menyampaikan bahwa masyarakatnya tetap harus membeli air tangki setiap hari. Oleh karena itu, ia berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret.
Warga Menuntut Pemenuhan Hak Dasar, Bukan Kemewahan
Masyarakat Sekaroh tidak menuntut kemewahan. Mereka hanya menuntut pemenuhan hak dasar: akses air bersih yang layak, terjangkau, dan berkelanjutan bagi 200 KK dan 5.000 jiwa yang terdampak.
“Kami tidak menuntut kemewahan. Kami hanya menginginkan kebutuhan dasar, yaitu air bersih untuk memasak, mandi, dan berwudhu,” harapnya.
Ia menambahkan, mungkin jika para pengambil kebijakan harus merasakan mandi dengan air tangki yang mereka beli menggunakan uang terakhir, baru mereka akan benar-benar memahami persoalan ini dan segera bertindak. ***
Editor : Najamudin Anaji







